7 Mitos Tentang Frekuensi Makan, Diet, dan Puasa

mitos-tentang-makan-doktersehat

DokterSehat.Com – Hingga sekarang, masalah makan, pola makan, diet, hingga puasa masih banyak membingungkan orang. Para peneliti masih terus melakukan pekerjaannya dengan baik untuk menyibak berbagai mitos yang menyesatkan dan terus dipercaya oleh orang. Dengan mengetahui kebenaran dari mitos tentang makan, Anda bisa lebih bijak dalam mengonsumsi makanan setiap harinya.

Mitos tentang frekuensi makan, diet, dan puasa

Salah satu kesalahan terbesar kita dalam hal diet atau puasa khususnya jenis intermittent adalah ikut-ikutan orang lain. Padahal apa yang dilakukan oleh orang lain tidak tentu benar dan sering sekali menyesatkan. Nah, agar Anda tidak terus salah paham, simak beberapa mitos yang salah di bawah ini.

  1. Tidak sarapan memicu kegemukan

Kita selalu menganggap kalau orang yang tidak sarapan pagi akan memiliki tubuh yang jauh lebih gemuk dari orang yang sarapan. Mitos ini sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Beberapa orang yang tidak sarapan mungkin akan terlalu lapar saat siang hari dan makan apa saja yang mereka inginkan. Namun, kondisi seperti ini tidak selalu berlaku pada banyak orang.

Kuncinya ada pada jumlah kalori yang dimakan. Selama jumlah kalorinya sama tidak akan ada kenaikan berat badan yang terjadi. Selain itu, beberapa orang melewati sarapan karena beberapa alasan. Alasan yang paling sering digunakan adalah mereka melakukan intermittent fasting. Melakukan diet jenis ini akan membuat tubuh menghasilkan HGH tinggi dan memicu penurunan berat badan.

  1. Makan lebih sering membantu menurunkan berat badan

Banyak dari kita percaya kalau makan dalam porsi lebih sedikit dan berkali-kali akan membuat tubuh mengalami peningkatan metabolisme. Namun, anggapan ini juga tidak sepenuhnya benar. Berapa kali Anda makan, jumlah kalori yang dibakar akan sama saja. Misal dalam sehari hanya 2.500 kalori yang dimakan, kalori yang dibakar hanya sebatas ini.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan metabolisme adalah olahraga secara rutin. Dengan melakukan olahraga secara rutin khususnya olahraga dengan intensitas tinggi seperti angkat beban, tingkat metabolisme akan meningkat, bahkan setelah beberapa jam latihan selesai.

  1. Makan berkali-kali mengurangi lapar

Kita selalu disarankan untuk makan lebih sering dengan porsi yang lebih kecil. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya lapar berlebihan. Sayangnya penelitian terkait dengan pernyataan ini masih simpang siur karena ada yang mendukung dan ada yang menentangnya. Beberapa penelitian bahkan menganggap kalau makan berkali-kali dan porsinya sedikit malah memicu lapar terus muncul.

Sebenarnya makan berapa kali pun tidak masalah asalkan tetap memiliki kalori yang seimbang dan tidak berlebihan. Beberapa orang suka makan 2-3 kali sehari karena tidak banyak memiliki waktu untuk mengurusi makanan. Namun, ada juga yang makan dengan cara itu karena memiliki diabetes dan takut gula darah naik dengan cepat kalau makan banyak dalam sekali waktu.

  1. Makan lebih sedikit dan berkali-kali membantu menurunkan berat badan

Satu lagi mitos yang banyak dipercaya oleh masyarakat. Kalau ingin cepat kurus, bagi makan menjadi setengah dan perbanyak frekuensinya. Sayangnya pernyataan ini belum menemukan dasar ilmiah yang jelas. Makan terlalu sering dengan porsi kecil tidak serta-merta menyebabkan penurunan berat badan dengan cepat.

Kalau ingin menurunkan berat badan dengan cepat, kuncinya hanya satu saja. Mengurangi kalori yang masuk ke dalam tubuh. Kalau tubuh tidak mengalami defisit kalori, peluang terjadi penurunan berat badan akan rendah. Kalau Anda tidak ingin mengurangi porsi makan, melakukan olahraga yang intens untuk mendapatkan defisit kalori.

  1. Puasa hanya membuat tubuh kelaparan

Memang benar, melakukan puasa seperti intermittent fasting akan membuat tubuh menjadi lapar dan tersiksa. Namun. kalau sudah terbiasa tubuh bisa beradaptasi dengan mudah. Dengan melakukan puasa, tubuh justru mendapatkan banyak manfaat salah satunya adalah mudahnya menurunkan berat badan dengan cepat.

Meski kalori yang masih tidak dikurangi, kemungkinan besar, berat badan bisa turun dengan mudah. Saat puasa, metabolisme tubuh akan mengalami peningkatan. Peningkatan metabolisme akan mempercepat pembakaran kalori termasuk lemak. Selain itu, puasa juga meningkatkan kadar hormon pertumbuhan HGH. Hormon ini mampu menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan otot.

  1. Makan protein harus dibagi-bagi

Banyak dari kita meyakini kalau makan protein tidak perlu banyak-banyak dalam sekali waktu karena akan dibuang begitu saja oleh tubuh. Sebenarnya pernyataan ini belum didukung dengan penelitian ilmiah. Makan berapa saja akan bermanfaat untuk tubuh dan diubah menjadi kalori sesuai dengan kebutuhan.

Jadi, makan berapa saja sebenarnya boleh, tapi harus disesuaikan dengan target fitness yang dimiliki. Kalau Anda memang sedang menaikkan berat badan dan membangun otot, protein bisa dimakan dalam porsi banyak. Sementara itu kalau Anda sedang menurunkan berat badan, dikurangi jumlahnya agar seimbang dengan lemak dan karbohidrat.

  1. Puasa menyebabkan otot menipis

Banyak dari kita menghindari diet dengan jenis intermittent fasting karena dikhawatirkan bisa memicu penyusutan otot tubuh. Otot akan dibakar menjadi energi karena tubuh sering lapar. Mitos ini sangat salah kaprah dan tidak memiliki dasar yang jelas.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan, justru otot bisa terjaga jumlahnya dan lemak di sekitarnya menurun akibat diet. Jadi, selama waktu makan protein tercukupi dengan baik, otot tidak akan menyusut.

Inilah beberapa ulasan tentang mitos tentang makan, diet, dan puasa yang sering sekali kita percaya. Nah, dari beberapa ulasan di atas, mana saja yang pernah Anda percaya? Semoga setelah ini kita bisa lebih bijak saat makan sehingga apa yang kita makan bisa sesuai dengan kebutuhan.