Terbit: 18 Agustus 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Misophonia adalah ketidaksukaan atau kebencian yang kuat terhadap suara tertentu. Meski suara tersebut bagi kebanyakan orang bukanlah suara yang mengganggu, namun bagi seseorang yang mengalami kondisi ini, suara tersebut bisa memicu reaksi emosional. Simak gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Misophonia: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Misophonia?

Misophonia adalah sebuah kelainan di mana seseorang memiliki reaksi kuat dan negatif yang tidak normal terhadap suara biasa yang dibuat manusia, seperti mengunyah atau bernapas. Bagi seseorang yang mengalami kondisi ini, suara seseorang yang mengunyah atau denting benda-benda tertentu dapat membuatnya ingin berteriak atau memukul. Suara biasa dalam kehidupan sehari-hari tersebut dapat menyebabkan perasaan cemas, panik, dan marah.

Gejala Misophonia

Karakteristik utama dari kondisi ini adalah reaksi ekstrem seperti kemarahan atau agresi pada orang yang mengeluarkan suara tertentu. Kekuatan reaksi dalam menanggapi suara pada setiap orang bisa sangat bervariasi. Orang dengan misophonia menyadari bahwa reaksinya terhadap suara berlebihan dan menyadari bahwa mereka kehilangan kendali. Beberapa gejala yang umum terjadi, antara lain:

  • Rasa jijik bisa berubah menjadi kemarahan.
  • Menjadi agresif secara verbal kepada orang yang membuat kebisingan.
  • Menjadi agresif secara fisik dengan benda-benda.
  • Menyerang orang yang membuat suara tertentu.
  • Menjauhi orang-orang yang menimbulkan suara pemicu.

Secara umum, seseorang yang memiliki kondisi ini mungkin memiliki lebih banyak gejala kecemasan, depresi, dan neurosis daripada yang lain. Sebuah penelitian menemukan bahwa penderita biasanya mengalami sejumlah reaksi fisik, termasuk:

  • Tekanan di seluruh tubuh terutama bagian dada.
  • Ketegangan otot.
  • Peningkatan tekanan darah.
  • Detak jantung lebih cepat.
  • Peningkatan suhu tubuh.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa 52,4 persen partisipan dengan misophonia juga dapat didiagnosis dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (OCPD).

Beberapa Kondisi yang Bisa Menjadi Pemicu

Beberapa suara lebih mungkin memicu respons misophonia daripada yang lain. Para peneliti mengidentifikasi hal-hal berikut sebagai pemicu paling umum, antara lain:

  • Mengunyah makanan, mempengaruhi 81 persen dari mereka yang diteliti.
  • Napas keras atau suara hidung, memengaruhi 64,3 persen.
  • Suara jari atau tangan, memengaruhi 59,5 persen.

Selain itu, sebanyak 11,9 persen peserta memiliki respons marah dan agresif yang serupa saat melihat seseorang mengulangi tindakan fisik tertentu, seperti menggoyangkan lutut. Perlu diketahui juga, sebagian besar suara yang memicu misophonia dihasilkan oleh tubuh manusia, tetapi beberapa orang juga bisa terganggu oleh suara benda mati. Menariknya, jika penderita meniru suara yang membuatnya terganggu, hal itu tidak memengaruhi perasaannya.

Penyebab Misophonia

Hingga kini penyebab pasti kondisi ini belum diketahui dengan pasti, akan tetapi sensitivitas terhadap suara tertentu ini bukanlah masalah pada telinga. Beberapa pakar menduga hal ini gabungan dari kondisi mental dan fisik karena ini terkait bagaimana suara memengaruhi otak dan memicu respons otomatis tubuh. Bahkan, misophonia terkadang disalahartikan sebagai bipolar atau gangguan obsesif-kompulsif.

Kondisi ini juga bisa muncul dengan sendirinya dan juga bersama dengan masalah kesehatan, perkembangan, dan kejiwaan lainnya. Sementara itu, sebuah studi terbaru menemukan bahwa misophonia adalah kelainan berbasis otak. Para peneliti menunjukkan gangguan konektivitas di bagian otak yang memproses rangsangan suara dan respons fight/flight. Kondisi ini juga melibatkan bagian otak yang mengkode pentingnya suara.

Faktor Risiko Misophonia

Usia dimulainya kondisi seumur hidup ini tidak diketahui, tetapi beberapa orang melaporkan gejala antara usia 9 dan 13 tahun. Misophonia lebih sering terjadi pada anak perempuan dan muncul dengan cepat, meskipun tampaknya tidak terkait dengan satu peristiwa apa pun.

Memahami Respons Otak

Terdapat kesamaan antara misophonia dan tinnitus, yaitu sensasi berdenging di telinga. Akibatnya, beberapa peneliti berpendapat bahwa kondisi ini terkait dengan hiperkonektivitas antara sistem pendengaran dan limbik otak. Hiperkonektivitas ini berarti ada terlalu banyak koneksi antara neuron di otak yang mengatur pendengaran dan emosi.

Sebuah studi yang menggunakan pencitraan MRI untuk menganalisis otak individu dengan misophonia menemukan bahwa suara pemicu menghasilkan respons yang “sangat dibesar-besarkan” di anterior insular cortex (AIC), bagian otak yang bertanggung jawab untuk memproses emosi. Studi ini menemukan konektivitas yang lebih besar antara AIC dan default mode network (DMN), kondisi yang dapat memicu ingatan dan pancaindra.

Diagnosis Misophonia

Tampaknya misophonia adalah kelainan yang cenderung didiagnosis sendiri. Dalam beberapa kasus, teman atau anggota keluarga yang berulang kali menjadi sasaran kemarahan dapat mengidentifikasi masalahnya. Namun, ada kemungkinan bahwa beberapa penderita mungkin kurang teliti untuk mendiagnosis diri sendiri secara mendalam atau beberapa penderita yang menjadi kasar percaya bahwa pelaku kebisingan adalah pihak yang harus disalahkan.

Pengobatan Misophonia

Meskipun misofonia adalah kelainan seumur hidup yang tidak dapat disembuhkan, terdapat beberapa pilihan yang terbukti efektif dalam mengurangi gejala, di antaranya:

1. Tinnitus Retraining Therapy

Dalam satu rangkaian pengobatan yang dikenal sebagai tinnitus retraining therapy (TRT), seseorang akan diajari untuk mentolerir kebisingan dengan lebih baik. Tinnitus bisa menjadi tanda adanya penyakit tertentu seperti cedera telinga, menurunnya kemampuan mendengar karena faktor usia, atau masalah pada sistem sirkulasi tubuh.

2. Cognitive Behavioral Therapy

Ini adalah jenis terapi lain yang dapat membantu mengubah asosiasi negatif yang Anda miliki dengan suara pemicu. Sebuah alat akan mengalirkan suara seperti hujan atau suara yang berasal dari alam, telah terbukti efektif untuk mengurangi gejala.

3. Konseling

Konseling yang suportif bagi penderita misophonia dan keluarganya juga penting, karena kondisi tersebut dapat memengaruhi seluruh keluarga. Perlu diketahui, hingga kini belum obat yang bisa digunakan untuk mengobati kondisi ini. Tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa obat apa pun efektif dalam mengobati gangguan ini.

4. Perubahan Gaya Hidup

Olahraga rutin, kualitas tidur yang baik, dan mengelola stres ternyata juga berperan dalam perawatan misophonia. Sebagai tambahan, Anda juga bisa memakai penutup telinga untuk menghilangkan suara yang mengganggu. Selain itu menyiapkan suasana lingkungan tenang, di mana tidak ada suara yang mengganggu baik untuk dilakukan.

Nah, itulah berbagai perawatan yang bisa dilakukan. Penanganan sering kali melibatkan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan terapi suara oleh audiolog dan konseling suportif.  

 

  1. Anonim. What Is Misophonia?. https://www.webmd.com/mental-health/what-is-misophonia#1. (Diakses pada 18 Agustus 2020).
  2. Dresden, Danielle. 2018. What is misophonia?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320682#triggers. (Diakses pada 18 Agustus 2020).
  3. Evans, Julie Ryan. 2017. Understanding Misophonia: What Is It?. https://www.healthline.com/health/misophonia. (Diakses pada 18 Agustus 2020).
  4. Moawad, Heidi. 2017. Misophonia: Triggers & Management. https://www.neurologytimes.com/blog/misophonia-triggers-management#:~:text=Managing%20misophonia,to%20drown%20out%20the%20noise. (Diakses pada 18 Agustus 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi