Terbit: 28 Januari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Minyak atsiri atau minyak esensial adalah minyak yang sering digunakan dalam aromaterapi. Minyak ini diklaim mampu mengatasi beberapa masalah kesehatan, namun beberapa klaim kesehatan tersebut masih kontroversial. Simak penjelasan mengenai manfaat, efek samping, hingga cara penggunaan yang aman.

Minyak Atsiri: Manfaat, Efek Samping, dan Cara Penggunaan

Apa Itu Minyak Atsiri?

Minyak atsiri adalah senyawa yang diekstrak dari tumbuhan. Senyawa aromatik yang unik memberikan esensi karakteristik pada setiap minyak yang dihasilkan. Minyak dihasilkan melalui distilasi (melalui uap/air) atau metode mekanis, seperti cold pressing.

Setelah senyawa kimia aromatik diekstraksi, senyawa tersebut langsung digabungkan dengan carrier oil untuk membuat minyak siap digunakan. Penting untuk diketahui, jika minyak esensial dihasilkan melalui proses kimiawi maka minyak tersebut tidak dianggap minyak esensial yang murni.

Manfaat Minyak Atsiri bagi Kesehatan

Berikut adalah beberapa manfaat kesehatan yang bisa Anda dapatkan saat menggunakan minyak ini, di antaranya:

1. Mengurangi Stres dan Kecemasan

Banyak bukti yang menunjukkan bahwa aroma beberapa minyak esensial dapat bekerja berdampingan dengan terapi tradisional untuk mengatasi kecemasan dan stres.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Menggunakan minyak esensial selama pijatan dapat membantu menghilangkan stres, meskipun efeknya mungkin hanya bertahan selama pijatan berlangsung. Meski minyak ini diklaim memberikan efek positif, banyak ulasan mengenai manfaatnya tidak meyakinkan.

2. Mengatasi Sakit Kepala dan Migrain

Sebuah penelitian mengungkapkan, mengoleskan campuran minyak peppermint dan etanol pada dahi dan pelipis mampu meredakan sakit kepala. Studi lainnya juga mengungkapkan, mengoleskan peppermint dan minyak lavender ke kulit mampu mengurangi sakit kepala.

Sementara itu, mengoleskan campuran minyak chamomile dan minyak wijen ke pelipis juga bisa digunakan untuk mengobati migrain dan sakit kepala. Namun, sejumlah klaim kesehatan ini masih membutuhkan studi ilmiah lanjutan.

3. Mengatasi Insomnia

Sebuah penelitian mengungkapkan, aroma minyak lavender telah terbukti mampu meningkatkan kualitas tidur wanita setelah melahirkan, serta pasien dengan penyakit jantung. Studi lain yang mengaitkan minyak atsiri dan tidur mengungkapkan, mencium minyak—kebanyakan minyak lavender—berdampak positif pada kebiasaan tidur.

4. Mengurangi Peradangan

Beberapa penelitian tabung reaksi menunjukkan bahwa minyak esensial memiliki efek antiinflamasi sehingga dapat digunakan untuk membantu melawan kondisi peradangan.

Satu penelitian pada tikus menemukan bahwa mengonsumsi kombinasi minyak esensial thyme dan oregano membantu menginduksi remisi kolitis ulseratif, sedangkan penelitian lain pada tikus tentang minyak jintan dan rosemary menemukan hasil yang serupa.

Namun, sangat sedikit penelitian pada manusia yang meneliti efek minyak ini pada penyakit inflamasi. Hal itu membuat efektivitas dan keamanannya tidak diketahui.

5. Efek Antimikroba

Studi tabung reaksi telah menyelidiki minyak esensial seperti peppermint dan tea tree oil secara ekstensif, hasilnya mengungkapkan kedua minyak tersebut memiliki efek antimikroba.

Meskipun hasil studi tabung reaksi ini menarik, hasil tersebut tidak serta merta mencerminkan efek minyak ini dalam tubuh. Hal ini tidak membuktikan bahwa minyak esensial tertentu dapat mengobati infeksi bakteri pada manusia.

6. Mengusir Nyamuk

Pada umumnya, minyak atsiri sering digunakan untuk aromaterapi. Namun minyak ini juga bisa digunakan di luar aromaterapi, salah satunya adalah mengusir nyamuk. Sebuah penelitian menunjukkan, minyak serai dapat mengusir nyamuk jenis tertentu selama sekitar 2 jam. Waktu perlindungan dapat diperpanjang hingga 3 jam jika digunakan dalam kombinasi dengan vanillin.

Baca Juga: 9 Manfaat Minyak Kutus-Kutus (Dilihat dari Kandungannya)

Bagaimana Cara Menggunakan Minyak Atsiri dengan Aman?

Kualitas minyak atsiri yang beredar di pasaran sangat bervariasi, dari minyak murni hingga yang diencerkan dengan bahan yang lebih murah. Bahkan, label yang tertera dalam produk mungkin tidak mencantumkan semua kandungan, itulah sebabnya minyak esensial tidak boleh dikonsumsi.

Cara terbaik penggunaan adalah menggunakan diffuser. Namun penggunaan alat ini memengaruhi orang secara berbeda. Misalnya, peppermint sering direkomendasikan untuk sakit kepala. Namun jika Anda menggunakannya di sekitar anak yang berusia kurang dari 30 bulan, anak tersebut bisa menjadi gelisah.

Selain itu, seseorang dengan detak jantung yang cepat dapat bereaksi negatif terhadap peppermint.

Cara aman lainnya menggunakan minyak atsiri adalah:

  • Aksesori aromaterapi: Kalung, gelang, dan gantungan kunci dibuat dengan bahan penyerap yang Anda gunakan untuk mengoleskan minyak esensial dan mengendusnya sepanjang hari.
  • Body oil: Campurkan minyak esensial dengan minyak zaitun, jojoba, atau minyak kelapa dapat langsung digunakan ke kulit. Dikarenakan minyak atsiri pekat, hal tersebut bisa menyebabkan iritasi kulit.
  • Aroma stick: Stik plastik portable atau inhaler minyak esensial memiliki sumbu penyerap untuk menahan aroma minyak esensial. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penutup untuk menjaga aromanya.

Sementara itu, sangat sedikit penelitian yang meneliti keamanan minyak ini untuk wanita hamil atau menyusui, sehingga Anda disarankan untuk menghindarinya.

Baca Juga: Minyak Hati Ikan Hiu: Khasiat, Dosis, Efek Samping, dll

Kemungkinan Efek Samping

Meski berasal dari bahan alami tidak berarti minyak atsiri aman sepenuhnya digunakan. Tanaman dan produk herbal mengandung banyak senyawa bioaktif yang dapat membahayakan kesehatan, begitu pula minyak ini.

Namun, jika dihirup atau dikombinasikan dengan minyak dasar untuk digunakan pada kulit sebagian besar minyak esensial dianggap aman. Pastikan untuk mempertimbangkan orang lain di lingkungan sekitar yang mungkin menghirup aromanya, termasuk wanita hamil dan anak-anak.

Beberapa efek samping yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Ruam.
  • Serangan asma.
  • Sakit kepala.
  • Reaksi alergi.

Minyak yang paling sering dikaitkan dengan reaksi merugikan adalah lavender, peppermint, tea tree, dan ylang-ylang.

Minyak yang mengandung fenol tinggi, seperti kayu manis, dapat menyebabkan iritasi kulit dan tidak boleh digunakan pada kulit tanpa dicampur dengan minyak dasar, sedangkan minyak atsiri yang terbuat dari buah jeruk meningkatkan reaksi kulit terhadap sinar matahari dan bisa terjadi luka bakar.

Pada umumnya, efek samping potensial dari menghirup minyak esensial sangat kecil dan tergantung pada jenisnya. Efek samping ini biasanya hilang ketika aromanya tidak lagi tercium.

 

  1. Anonim. Aromatherapy: Do Essential Oils Really Work?. https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/aromatherapy-do-essential-oils-really-work. (Diakses pada 28 Januari 2021).
  2. Brazier, Yvette. 2017. Aromatherapy: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/10884. (Diakses pada 28 Januari 2021).
  3. West, Helen. 2019. What Are Essential Oils, and Do They Work?. https://www.healthline.com/nutrition/what-are-essential-oils#how-they-work. (Diakses pada 28 Januari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi