Terbit: 23 Maret 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Mengingat suhu udara di Indonesia cenderung panas di siang hari dan masih hangat di malam hari, minuman bersoda bisa dikonsumsi kapan saja. Sebagai contoh, kita bisa dengan santai mengonsumsi minuman yang menyegarkan ini di malam hari saat berkumpul bersama dengan teman atau saat menikmati acara televisi. Masalahnya adalah, sudah menjadi rahasia umum jika minuman bersoda tidak baik bagi kesehatan.

Minuman Bersoda Bisa Menyebabkan Penyakit Asam Urat?

Kaitan antara minuman bersoda dengan risiko terkena penyakit asam urat

Rasa manis dan sensasi segar dari minuman bersoda berasal dari kandungan kafein, air karbonasi, pemanis buatan, bahan pewarna, bahan pengawet, dan perisa. Masalahnya adalah kandungan-kandungan ini sebaiknya tidak sering kita konsumsi karena bisa memberikan efek buruk bagi kesehatan, salah satunya adalah meningkatkan risiko terkena penyakit asam urat.

Kandungan fruktosa yang tinggi di dalam minuman bersoda memang bisa membuat minuman ini memiliki rasa yang manis. Sayangnya, terlalu sering mengonsumsi fruktosa bisa membuat kadar asam urat di dalam tubuh meningkat dengan signifikan. Jika sampai hal ini terjadi, kristal asam urat yang runcing akan terus menumpuk di persendian dan menyebabkan risiko serangan asam urat akan meningkat.

Selain itu, sudah menjadi rahasia umum jika pemanis buatan bisa meningkatkan risiko peradangan. Karena alasan inilah penderita asam urat seringkali menjadikan minuman bersoda atau minuman tinggi fruktosa lainnya sebagai pantangan.

Dampak lain dari kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda

Selain bisa meningkatkan risiko terkena penyakit asam urat, pakar kesehatan menyebut ada berbagai dampak kesehatan lain yang bisa muncul jika kita sering mengonsumsi minuman bersoda, termasuk soda diet yang sebenarnya juga kurang baik bagi kesehatan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Berikut adalah dampak-dampak kesehatan tersebut.

  1. Obesitas

Minuman bersoda memiliki kadar gula dan kalori yang tinggi. Bahkan, sebuah penelitian membuktikan bahwa kadar gula minuman bersoda bisa mencapai empat kali lipat kadar gula dalam minuman manis lainnya. Hal ini berarti, sering mengonsumsinya bisa meningkatkan berat badan. Jika sampai hal ini terjadi, maka risiko untuk terkena obesitas pun meningkat. Padahal, obesitas terkait dengan berbagai penyakit berbahaya lainnya seperti penyakit kardiovaskular atau diabetes.

  1. Gagal jantung

Penelitian membuktikan bahwa pria yang rutin minum soda cenderung memiliki risiko terkena gagal jantung hingga 20 persen lebih besar. Hal ini disebabkan oleh keberadaan pemanis buatan di dalam minuman ini yang sangat tinggi yang bisa menyebabkan datangnya obesitas dan diabetes. Padahal, kedua masalah kesehatan tersebut bisa meningkatkan risiko komplikasi seperti gagal jantung.

  1. Osteoporosis

Di dalam minuman bersoda ternyata terdapat kandungan asam fosfat yang cukup tinggi. Masalahnya adalah kandungan asam fosfat ini bisa menyebabkan kerusakan jaringan tulang sehingga tulang pun menjadi rusak atau rapuh. Jika kita terlalu sering mengonsumsinya, maka risiko terkena masalah osteoporosis pun akan meningkat dengan signifikan.

Sering mengonsumsi minuman bersoda juga bisa membuat proses penyerapan kalsium terhambat. Padahal, kalsium sangatlah penting bagi kesehatan dan kekuatan tulang dan gigi. Selain osteoporosis, kita juga akan lebih rentan terkena masalah gigi berlubang.

  1. Penyakit ginjal

Tingginya kandungan fruktosa di dalam minuman bersoda ternyata akan membuat ginjal bekerja dengan sangat keras untuk mengolahnya. Hal ini akan berimbas pada fungsi ginjal yang semakin menurun. Jika hal ini terus terjadi, maka risiko terkena gagal ginjal atau sepsis yang mematikan pun akan meningkat dengan signifikan.

  1. Insomnia

Tak hanya kopi, minuman bersoda ternyata juga bisa menyebabkan insomnia atau susah tidur karena adanya kandungan aspartame dan kafein yang tinggi di dalamnya.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi