Terbit: 17 Desember 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Jika dicermati, saat kita memesan minuman bersoda di restoran atau tempat makan lainnya, rasanya akan jauh lebih enak dibandingkan dengan saat kita mencoba minuman bersoda yang kita beli di mini market. Sebenarnya, apa penyebab dari perbedaan rasa ini?

Mengapa Minuman Bersoda di Restoran Rasanya Jauh Lebih Enak?

Penyebab Rasa Minuman Bersoda di Restoran Lebih Enak

Sebenarnya, bahan, komposisi, dan takaran dari minuman bersoda kalengan dan yang disediakan di restoran sama saja. Hanya saja, minuman bersoda yang disediakan di restoran biasanya disediakan oleh semacam mesin khusus dan disajikan di dalam gelas, bukannya di dalam wadah kalengan atau botolan sebagaimana yang bisa kita beli di toko-toko.

Usut punya usut, ternyata minuman bersoda yang disediakan lewat mesin khusus ini memiliki bahan lain seperti sirup perisa atau air karbonasi tambahan. Keberadaan bahan-bahan inilah yang membuat cita rasanya seperti jauh lebih nikmat.

Menariknya, setiap restoran bisa mengatur komposisi dari bahan minuman bersoda dan bahan-bahan lainnya yang dicampurkan. Hal ini membuat rasa dari minuman bersoda ini bisa berbeda-beda di setiap restoran.

Suhu dari minuman bersoda yang disediakan di restoran juga bisa diatur. Biasanya, minuman ini dikondisikan sedemikian rupa agar berada dalam kondisi dingin. Ditambah dengan adanya es batu yang sudah dihancurkan, maka hal ini akan membuat efek gelembung dari minuman bersoda terasa jauh lebih segar dan nikmat.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Bahaya Berlebihan Minum Soda

Meski rasanya enak dan menyegarkan, pakar kesehatan menyebut kosumsi minuman bersoda sebaiknya dibatasi demi mencegah efek buruk bagi kesehatan.

Berikut adalah efek buruk yang bisa didapatkan jika kita mengonsumsi minuman bersoda dengan berlebihan.

  1. Bisa Memicu Datangnya Diabetes

Dampak pertama yang bisa kita dapatkan jika terlalu sering mengonsumsi minuman bersoda adalah meningkatnya risiko diabetes. Hal ini disebabkan oleh kandungan gula di dalam minuman ini yang cenderung sangat tinggi. Jika sampai asupan gula berlebihan, akan menyebabkan datangnya resistensi insulin, salah satu faktor utama dari munculnya diabetes.

  1. Bisa Memicu Masalah Obesitas

Tak hanya gula, minuman bersoda juga cenderung tinggi kandungan kalori. Padahal, jika sampai asupan kalori harian berlebihan, bisa meningkatkan beart badan dan risiko obesitas. Masalahnya adalah obesitas dikenal sebagai salah satu penyebab dari datangnya masalah kesehatan kronis lainnya.

  1. Bisa Menurunkan Kepadatan Tulang

Kandungan asam fosfat serta kafein yang cukup tinggi di dalam minuman bersoda bisa memicu penurunan kadar kalsium di dalam tulang dengan signifikan. Hal ini bisa membuat kepadatan dan kekuatan tulang menurun drastis. Hanya saja, pakar kesehatan menyebut hal ini sepertinya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Tak hanya bagi tulang, terlalu sering minum soda juga bisa memicu kerusakan gigi. Hal ini disebabkan oleh kandungan gula dan pemanis buatannya yang sangat tinggi. Hanya saja, kita bisa mencegah dampak ini dengan menggunakan sedotan saat meminumnya.

  1. Bisa Meningkatkan Risiko Terkena Penyakit Kardiovaskular

Minuman bersoda bisa meningkatkan risiko terkena resistensi insulin, terjadinya peradangan, serta peningkatan kadar kolesterol tubuh. Jika kita sampai mengalami obesitas akibat sering minum soda, maka penumpukan lemak visceral di dalam tubuh juga bisa memicu datangnya penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung atau stroke.

  1. Bisa Memicu Gangguan Pencernaan

Minuman bersoda memiliki sifat asam yang tinggi sehingga bisa memicu peningkatan asam lambung. Kandungan gas di dalamnya juga bisa memicu perut kembung, begah, atau sindrom iritasi usus.

 

Sumber:

  1. Mitrokostas, Sophia. 2018. Soda from fast-food restaurants doesn’t taste the same as it does out of a can — and it turns out it’s made completely differently. insider.com/why-soda-tastes-different-in-a-can-or-from-a-machine-2018-8 (Diakses pada 17 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi