Terbit: 31 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Di Indonesia, suhu udara yang panas tak hanya bisa dirasakan di siang hari. Dalam realitanya, terkadang di sore atau malam hari suhu udara juga bisa terasa cukup panas. Apalagi jika kita tinggal di kawasan pesisir atau dataran rendah. Demi mengatasinya, kita biasanya akan minum air dingin yang menyegarkan. Hanya saja, apakah benar jika mengonsumsinya saat cuaca panas berbahaya bagi kesehatan tubuh?

Benarkah Minum Air Dingin Saat Cuaca Panas Berbahaya bagi Tubuh?

Dampak Minum Air Dingin bagi Tubuh

Kita tentu pernah mendengar informasi yang menyebut konsumsi air dingin saat cuaca sedang panas bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh, khususnya bagi fungsi pencernaan, namun berdasarkan penelitian yang dipublikasikan pada 2013 lalu dengan judul The Effect of Water Temperature and Voluntary Drinking on the Post Rehydratin Sweating, disebutkan bahwa minum air dingin ternyata bisa membantu menurunkan risiko terkena dehidrasi, lho.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Abdollah Hosseinlou dan rekan-rekannya ini, disebutkan bahwa suhu air minum yang kita konsumsi saat terpapar sinar matahari atau setelah olahraga bisa memberikan dampak pada enam partisipan yang dilibatkan. Sebagai informasi, para partisipan ini dibagi menjadi dua kelompok, yakni yang mengonsumsi air hangat dan yang mengonsumsi air dingin dengan suhu sekitar 16 derajat Celcius.

Hasil dari penelitian ini adalah, mereka yang minum air dingin tidak mengeluarkan keringat sebanyak partisipan yang mengonsumsi air hangat atau air panas. Mereka juga minum dengan jumlah yang lebih banyak sehingga bisa segera mengembalikan keseimbangan cairan tubuh yang sebelumnya terkuras.

Minum Air Dingin Juga Bisa Memberikan Efek Kesehatan Tersendiri

Meskipun bisa membantu tubuh lebih cepat mengatasi dehidrasi saat cuaca sedang panas, pakar kesehatan menyebut ada beberapa efek kesehatan yang bisa didapatkan jika kita terlalu sering mengonsumi air dingin.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Berikut adalah dampak-dampak kesehatan tersebut.

  1. Mengganggu Fungsi Saluran Pencernaan

Air dingin ternyata bisa membuat pembuluh darah berkontraksi, khususnya yang ada di dekat saluran pencernaan. Dampaknya ternyata bisa mengganggu proses penyerapan nutrisi makanan, lho. Hal ini disebabkan oleh tubuh yang justru mengubah fokusnya dari menyerap nutrisi makanan menjadi menyeimbangkan suhu air yang kita konsumsi agar sesuai dengan suhu internal tubuh, yakni sekitar 37 derajat Celcius.

Melihat fakta ini, pakar kesehatan lebih menyarankan kita untuk mengonsumsi air dengan suhu biasa setelah makan sehingga tubuh tidak perlu bekerja keras menyamakan suhu air tersebut dengan suhu tubuh. Nutrisi makanan pun bisa diserap dengan jauh lebih baik.

  1. Mengganggu Irama Jantung

Mengonsumsi air dingin ternyata juga bisa membuat denyut jantung menurun, lho. Hal ini disebabkan oleh terangsangnya saraf kranial kesepuluh atau yang lebih dikenal dengan saraf vagus. Saraf ini berperan besar dalam pengendalian denyut jantung.

Masalahnya adalah denyut jantung yang menurun bisa mempengaruhi sirkulasi darah kita. Jika sampai ada bagian tubuh yang tidak mendapatkan pasokan darah dengan cukup, tentu akan membuat tubuh akan terasa lesu dan kurang bertenaga.

  1. Meningkatkan Risiko Radang Tenggorokan

Memang, air dingin tidak serta merta memicu radang tenggorokan, namun mengonsumsinya bisa membuat produksi lendir di dalam tenggorokan meningkat dengan signifikan dan akhirnya bisa memicu peradangan dengan rasa nyeri dan tidak nyaman.

Melihat fakta ini, pakar kesehatan menyarankan kita untuk lebih cermat dalam mengonsumsi air dingin. Sebagai contoh, sebaiknya tidak langsung meminumnya setelah makan dan memastikan bahwa air yang dikonsumsi adalah air putih, bukannya air dengan tambahan rasa atau pemanis yang kurang baik bagi kesehatan.

 

Sumber

  1. Sengupta, Sushmita. 2018. 5 Reasons Why You Should Not Drink Chilled Water This Summer. https://food.ndtv.com/food-drinks/why-you-shouldnt-drink-chilled-water-5-reasons-to-quit-the-habit-1686599. (Diakses pada 31 Januari 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi