Terbit: 22 Desember 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Jika kita membicarakan tentang makanan yang tidak sehat, mie instan tentu akan menjadi salah satu yang sering kita sebut. Meskipun memiliki rasa yang enak dan sering dianggap sebagai solusi untuk mengatasi rasa lapar, mie instan rendah nutrisi dan memiliki kandungan yang tidak sehat. Bahkan, ada yang menyebut kebiasaan makan mie instan bisa menyebabkan datangnya kanker.

Seberapa Banyak Mie Instan yang Bisa Memicu Kanker?

Kaitan antara kanker dengan mie instan

Data yang dikeluarkan oleh GLOBOCAN pada tahun 2018 ini mengungkap fakta bahwa kasus kanker kolorektal, kanker yang muncul pada bagian usus besar atau rektum menjadi salah satu kanker yang paling banyak menyerang masyarakat Indonesia. Bahkan, kasus ini berada di urutan keempat setelah kanker payudara, kanker serviks, dan kanker paru. Di tahun ini saja, kasus baru akibat kanker kolorektal mencapai 30.017. Jumlah yang sangat banyak, bukan?

Masalahnya adalah kebiasaan mengonsumsi mie instan termasuk dalam salah satu penyebab dari munculnya kanker kolorektal di dalam tubuh. Hanya saja, hal ini juga dengan catatan konsumsi mie instan ini dilakukan dengan porsi yang berlebihan atau frekuensi yang sangat sering.

Menurut pakar kesehatan, hal ini disebabkan oleh adanya kandungan di dalam mie instan yang bepotensi menjadi karsinogen atau penyebab kanker. Jika tubuh terpapar oleh zat karsinogen sangat sering dalam waktu yang lama, maka akan terbentuk sel kanker. Karena mie instan masuk ke dalam pencernaan, maka saluran pencernaanlah yang akhirnya lebih rentan terkena kanker.

Tidak ada cara yang membuat mie instan lebih sehat

Banyak orang yang berpikir jika asalkan mie instan diberi tambahan seperti sayur atau telur, maka makanan ini akan menjadi lebih sehat. Padahal, pakar kesehatan menyebut anggapan ini sama sekali tidak benar. Menambahkan bahan-bahan makanan lain yang menyehatkan tidak akan menghilangkan kandungan tidak sehat dari dalam mie instan. Hal ini berarti, jika kita tidak ingin terkena kanker kolorektal, mau tidak mau kita menurunkan atau bahkan benar-benar menghentikan makanan dengan bahan pengawet atau yang berpotensi menyebabkan kanker seperti mie instan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Adakah frekuensi yang sehat untuk makan mie instan?

Terdapat sebuah anggapan yang menyebutkan bahwa kita sebaiknya memberi jeda di antara waktu makan mie instan agar tubuh tidak akan mendapatkan dampak buruknya. Sebagai contoh, ada yang menyarankan kita untuk membatasi asupan mie instan setiap tiga atau empat hari. Sayangnya, menurut pakar kesehatan, anggapan ini juga tidak benar.

Meskipun kita sudah berusaha untuk memberikan jeda di antara waktu makan mie instan, kandungan di dalamnya tidak benar-benar keluar semua dari dalam tubuh bersamaan dengan saat buang air besar. Sebagai contoh, bahan pengawet di dalamnya bisa saja tertinggal di saluran pencernaan. Jika bahan ini terus menumpuk, maka dampaknya bisa menyebabkan kanker.

Dampak lain yang didapatkan jika kita sering makan mie instan

Melihat fakta-fakta yang sudah diungkap sebelumnya, tidak ada jumlah yang pasti atau seberapa sering frekuensi makan mie instan yang dianggap aman bagi kita untuk mencegah kanker. Hal ini berarti, kita memang sebaiknya menurunkan kebiasaan makan mie instan atau bahkan sebisa mungkin menghentikannya jika tidak ingin terkena kanker.

Sebenarnya, selain kanker kolorektal, ada dampak lain yang juga bisa kita jadikan pertimbangan untuk tidak mengonsumsi mie instan, yakni adanya kemungkinan bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis seperti hipertensi, obesitas, dan diabetes. Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan sodium dan kalori yang sangat tinggi di dalamnya. Sebagaimana kita ketahui, mengonsumsi sodium dengan berlebihan akan meningkatkan tekanan darah. Sementara itu, mengonsumsi makanan dengan kadar kalori yang tinggi akan memicu kenaikan berat badan, kondisi yang bisa menyebabkan datangnya obesitas dan diabetes.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi