Terbit: 13 Februari 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Mi instan termasuk dalam makanan yang tidak sehat untuk dikonsumsi. Hal ini disebabkan oleh kadar kalorinya yang tinggi namun rendah nutrisi. Hanya saja, ada banyak sekali mitos tentang makanan yang digemari oleh banyak orang karena praktis dibuat dan memiliki rasa yang enak ini. Salah satunya adalah mi instan mengandung lilin. Sebenarnya, apakah mitos ini memang benar?

Benarkah Ada Kandungan Lilin di Dalam Mi Instan?

Fakta tentang mi instan mengandung lilin

Kita tentu pernah mendengar info yang menyarankan kita untuk membuang air rebusan mi instan dan menggantinya dengan air yang baru karena dianggap memiliki kandungan lilin yang melapisi mi tersebut. Bahkan, ada yang menyebut air rebusan ini juga memiliki bahan pengawet atau bahan pewarna yang bisa berbahaya jika dikonsumsi. Anggapan ini diperkuat dengan air rebusan mi instan yang cenderung keruh dan mengkilap seperti adanya tambahan minyak atau lilin.

Pakar kesehatan menyebut mitos ini tidak benar. Proses pembuatan mi instan tidak memakai lapisan lilin. Memang, mi instan bisa awet dan tahan lama, namun hal ini disebabkan oleh proses pengolahan dari bahan makanan ini yang membuatnya sangat kering. Sebagai informasi, kadar air dari mi instan yang belum dimasak hanyalah sekitar 5 persen. Hal ini membuat bakteri pembusuk sulit untuk hidup atau berkembang di dalam mi instan.

Proses yang digunakan untuk membuat mi instan menjadi sangat kering ini melibatkan minyak goreng. Karena hal inilah saat kita merebus mi instan akan muncul seperti lapisan minyak pada air rebusannya. Hal ini berarti, bisa dipastikan bahwa tidak ada lapisan lilin di dalam mi instan.

Beberapa fakta unik mi instan

Selain menguak tentang keberadaan lapisan lilin pada mi instan, ada beberapa fakta unik lain tentang mi instan yang biasa kita konsumsi.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Berikut adalah fakta-fakta unik tersebut.

  1. Mi instan tidak bisa jadi pengganti makanan pokok

Banyak orang yang menjadikan mi instan sebagai pengganti makan besar. Sebagai contoh, ada yang hanya makan malam dengan mi instan saja, bukannya nasi dan disertai dengan lauk lainnya. Meskipun memiliki kandungan kalori, pakar kesehatan menyebut mi instan tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi lain yang bisa didapatkan dari sayuran, daging, dan lain-lain. Hal ini berarti, kita tidak bisa terus-terusan menjadikan mi instan sebagai makanan pokok karena tentu akan membuat kita kekurangan asupan nutrisi.

  1. Mi instan di Indonesia sudah mendapatkan tambahan gizi

Meskipun kurang sehat dan dianggap miskin nutrisi, sebenarnya produk mi instan di Indonesia sudah diberi tambahan gizi seperti zat besi, mineral, vitamin A, zinc, dan lain-lain. Hanya saja, kadar tambahan gizi ini masih cukup minim sehingga tidak akan memenuhi kebutuhan asupan nutrisi harian. Karena alasan inilah pakar kesehatan menyarankan kita untuk tetap menerapkan pola makan yang sehat dengan kadar gizi yang seimbang agar tetap sehat.

  1. Kadar natrium mi instan cukup tinggi

Salah satu hal yang membuat mi instan dicap sebagai makanan tidak sehat adalah kadar natriumnya yang sangat tinggi. Sebagai informasi, di dalam sebungkus mi instan bisa saja mengandung natrium sekitar 600-1.000 mg. Padahal, batasan aman asupan natrium harian manusia hanyalah 1.500 mg saja.

Melihat fakta ini, pakar kesehatan pun menyarankan penderita hipertensi untuk menghindari mi instan. Jika kita memakannya, sebaiknya berhati-hati untuk tidak mengonsumsi makanan dengan kandungan natrium tinggi lainnya demi mencegah asupan natrium yang melebihi kadar aman.

  1. Mi instan bisa memicu penyakit jantung

Sebuah penelitian yang dilakukan di Harvard School of Public Health membuktikan bahwa makan mi instan terlalu sering bisa menyebabkan penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal jantung. Penelitian yang juga dilakukan untuk mengetahui dampak makan mi instan di Korea Selatan juga membuktikan bahwa mengonsumsinya dengan berlebihan bisa menyebabkan diabetes.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi