Menurunnya Indra Pendengaran, Pertanda Demensia?

Doktersehat - Telinga
Photo Credit: Flickr.com/Travis Isaacs

DokterSehat.Com– Salah satu tanda demesia pertama yang mudah dikenali adalah hilangnya ingatan sesaat. Meski hal ini terlihat sepele, nyatanya kehilangan memori jangka pendek secara terus menerus adalah sesuatu yang perlu diwaspadai.

Gejala demensia lainnya adalah jika Anda mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan beberapa tugas sehari-hari yang sebenarnya cukup mudah dan pernah dilakukan sebelumnya. Tidak hanya itu, jika Anda mulai mudah merasa bingung untuk mengikuti alur pekerjaan atau bahkan alur cerita yang disampaikan oleh orang lain, maka ini juga bisa menjadi tanda awalnya demensia.

Selain menurunnya tugas sehari-hari dan sering dilanda kebingungan, tanda lain yang bisa dikenali adalah menurunnya indra pendengaran. Hal inilah yang ditemukan oleh para peneliti di Trinity College Dublin, bahwa gangguan pendengaran terkait usia atau age-related hearing loss (ARHL) memiliki kaitan dengan demensia.

Penelitian itu mengungkapkan, bahwa ARHL dikaitkan dengan penurunan di sejumlah bidang fungsi kognitif, termasuk memori episodik dan kecepatan pemrosesan yang lebih lambat. Sementara penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa gangguan pendengaran mendahului timbulnya demensia hingga 5 sampai 10 tahun lebih awal.

Para ahli mengatakan bahwa alat bantu dengar dapat membantu mencegah demensia dengan meningkatkan komunikasi verbal dan menjaga otak tetap sehat. David Loughrey, seorang kandidat PhD yang terlibat dalam penelitian mengatakan, kehilangan pendengaran adalah sesuatu yang mudah didiagnosis dan dapat diobati. Meskipun tidak memiliki pengaruh yang besar, pengobatan secara kumulatif dipercaya dapat memperbaiki kognisi seseorang.

Sementara itu, Dr Carol Routledge, direktur penelitian di Alzheimer’s Research UK mengatakan, kurangnya stimulasi mental yang dialami oleh mereka yang sulit mendengar juga dapat memainkan peran.

“Ini hubungan kecil tapi kuat secara statistik—antara kehilangan pendengaran dan penurun memori—menambah bukti bahwa keduanya berkaitan, tetapi penelitian ini tidak secara pasti menunjukkan bahwa gangguan pendengaran menggerakkan masalah memori … Kehilangan pendengaran berhubungan dengan faktor risiko demensia seperti penyakit jantung, yang juga bisa menjadi alasan yang mendasari hubungan yang diamati dalam penelitian ini,” kata Routledge seperti dikutip dari Netdoctor. 

Routledge mengungkapkan, untuk mencegah datangnya demensia, Anda harus aktif secara sosial dan mental untuk membantu meningkatkan daya ingat. Pada akhirnya, jika Anda berhasil mencegah demensia hal itu juga dapat menunda efek penyakit Alzheimer.

“Karena hal-hal yang kita dengar dapat memberikan stimulasi mental dan sarana interaksi sosial. Kehilangan pendengaran dapat memengaruhi cadangan kognitif, membuat memori seseorang lebih rentan dan menurunnya daya pikir,” kata dia.

Mereka yang Berisiko Demensia

Untuk diketahui, demensia biasanya berhubungan dengan kondisi fisik, misalnya memiliki berbagai macam penyakit seperti hipotensi, diabetes, dan depresi. Penurunan daya ingat ini tidak memandang siapa pun sebab semua orang dapat mengalaminya

Akan tetapi demensia cukup sering dijumpai pada lansia, menimpa sekitar 16% kelompok usia di atas 65 tahun dan 32-50% kelompok usia di atas 85 tahun. Pada sekitar 10-20% kasus demensia bersifat reversibel atau dapat diobati. Yang paling sering menyebabkan demensia adalah penyakit Alzheimer.

Penyebab penyakit Alzheimer tidak diketahui, tetapi diduga melibatkan faktor genetik, karena penyakit ini tampaknya ditemukan dalam beberapa keluarga dan disebabkan atau dipengaruhi oleh beberapa kelainan gen tertentu. Pada penyakit Alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak.

Mencegah Demensia dengan Berjalan Kaki

Menurt Dr. Rosa Sancho dari Alzheimer Research UK, untuk menghindari demensia Anda harus menjaga gaya hidup sehat dengan rutin melakukan aktivitas fisik. Tak perlu olahraga yang berat, berjalan kaki sudah cukup membuat tubuh Anda terjaga kesehatan dan kebugarannya. Aliran darah yang semakin lancar karena rutin berjalan kaki juga akan membuat otak tidak kekurangan pasokan darah.

Sementara itu, menurut Dr. Droug Brown dari Alzheimer’s Society, berjalan kaki di luar rumah juga bisa memberikan kebaikan bagi kesehatan psikis. Apalagi jika berjalan kaki dilakukan pada waktu pagi dan sore hari. Rutinitas berjalan kaki akan membuat pikiran jauh lebih segar sekaligus bermanfaat sebagai penghilang stres.