Terbit: 23 April 2021 | Diperbarui: 27 April 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Mental breakdown atau nervous breakdown adalah istilah yang menggambarkan periode stres mental atau emosional yang ekstrem. Simak penjelasan lengkap mengenai penyebab hingga cara mengatasi keadaan ini.

Mental Breakdown: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Mental Breakdown?

Mental breakdown adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan periode tekanan mental yang intens. Selama periode ini, Anda tidak dapat melakukan aktivitas normal sehari-hari. Istilah ini juga merujuk pada berbagai macam penyakit mental, seperti:

  • Depresi
  • Kegelisahan
  • Gangguan stres akut

Pada beberapa kasus, keadaan ini juga bisa menjadi penyakit mental yang tidak tidak terdiagnosis. Hal itulah yang membuat tidak ada satu definisi yang disepakati tentang nervous breakdown. Keadaan ini hanya dipandang sebagai periode ketika stres fisik dan emosional menjadi tidak tertahankan dan mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi secara efektif.

Ciri-Ciri Mental Breakdown

Pada dasarnya, keadaan ini menyebabkan ketidakmampuan untuk berfungsi secara normal, setidaknya untuk sementara. Berikut beberapa tanda dan gejala yang harus Anda waspadai:

Cemas dan Depresi

Munculnya perasaan cemas atau depresi adalah respons yang umum terhadap stres. Hal itu bisa terlihat dari:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

  • Rendah diri.
  • Rasa takut.
  • Khawatir berlebihan.
  • Merasa tidak berdaya.
  • Mudah marah.
  • Menarik diri dari keluarga dan teman.
  • Kehilangan minat pada aktivitas favorit.
  • Sulit bernapas.
  • Menangis tak terkendali.
  • Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Sulit untuk Konsentrasi

Penelitian telah menunjukkan bahwa stres memengaruhi pikiran dan tubuh. Stres jangka panjang dapat menyebabkan perubahan struktural di otak, keadaan yang dapat memengaruhi daya ingat dan menyebabkan kesulitan berkonsentrasi. Dalam kasus ekstrem, terlalu banyak hormon kortisol (karena stres) dapat menyebabkan hilangnya ingatan.

Insomnia

Bagi sebagian orang, stres yang berlebihan dapat menyebabkan insomnia. Saat Anda tidak bisa tidur, otak dan tubuh tidak dapat pulih dari stres, yang pada akhirnya dapat memperburuk stres dan kecemasan. Kurang tidur juga dapat memengaruhi kesehatan fisik serta kinerja mental.

Pada kasus lain, seseorang yang merespons stres dengan tidur berlebihan juga dapat menyebabkan masalah pada mental dan fisik.

Kelelahan Ekstrem

Terlalu banyak stres dapat membuat tubuh merasa sangat lelah. Anda mungkin merasa lelah karena kurang tidur atau bahkan merasa lelah karena terlalu banyak tidur. Seiring waktu, kelelahan kronis bersama dengan stres dapat menyebabkan mental breakdown.

Perubahan Nafsu Makan

Stres dapat mengubah nafsu makan seseorang. Beberapa orang mengatasi stres dengan makan berlebihan, sehingga dapat menyebabkan penambahan berat badan yang tidak diinginkan. Bagi yang lain, stres dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan.

Gangguan Pencernaan

Stres dan kecemasan dapat menyebabkan masalah perut seperti kram, kembung, sembelit, dan diare. Jika Anda mengidap sindrom iritasi usus besar, stres dapat memicu flare-up yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan pencernaan. Jika Anda stres dan mulai memperhatikan salah satu gejala ini, itu bisa menjadi tanda bahwa Anda sedang menuju mental breakdown.

Halusinasi

Dalam beberapa kasus, stres ekstrem bahkan dapat menyebabkan halusinasi. Anda mungkin mendengar atau melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

Tanda dan Gejala Lainnya

Mental breakdown tidak memiliki gejala yang pasti, selain dari kesulitan atau ketidakmampuan untuk berfungsi ‘normal’. Akan tetapi, apa yang dianggap berfungsi normal atau ‘berfungsi penuh’ berbeda-beda tergantung daerah, budaya, dan kondisi keluarga.

Karakteristik gangguan bergantung pada masalah kesehatan yang mendasarinya dan bagaimana orang tersebut merespons stres. Berikut ciri-ciri umum dari mental breakdown adalah:

  • Mengalami nyeri yang tidak dapat dijelaskan.
  • Badan gemetar.
  • Bergerak atau berbicara lebih lambat dari biasanya.
  • Menghindari aktivitas sosial.
  • Mengalami kesulitan bergaul.
  • Kehilangan minat pada seks.
  • Mulut kering dan berkeringat meski tidak ada sesuatu yang mengancam.
  • Memiliki gejala penyakit kardiovaskular, seperti jantung berdebar kencang atau detak jantung tidak teratur.
  • Mengalami infeksi yang lebih sering, karena stres dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh.

Penyebab Mental Breakdown

Apa pun yang menyebabkan lebih banyak stres daripada yang dapat ditangani tubuh dapat menyebabkan gangguan ini atau memicu gejala kondisi kesehatan mental yang mendasarinya. Beberapa penyebab tersebut, antara lain:

  • Stres kerja yang terus-menerus.
  • Peristiwa traumatis, seperti kematian anggota keluarga.
  • Masalah keuangan yang serius.
  • Perubahan besar dalam hidup, seperti perceraian.
  • Kurang tidur dan ketidakmampuan untuk bersantai.
  • Kondisi medis kronis.

Baca Juga: 15 Cara Memaafkan dan Manfaatnya untuk Kesehatan (Fisik dan Mental)

Faktor Risiko yang Meningkatkan Mental Breakdown

Beberapa faktor berikut dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan ini, antara lain:

  • Memiliki riwayat pribadi gangguan kecemasan.
  • Riwayat keluarga gangguan kecemasan.
  • Cedera atau penyakit baru-baru ini yang membuat kehidupan sehari-hari sulit untuk dikelola.

Perawatan Mental Breakdown

Perawatan yang tepat untuk gangguan ini tergantung pada penyebabnya dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Beberapa perawatan umum meliputi:

Perubahan Gaya Hidup

Kelelahan mental adalah ciri umum dari mental breakdown. Bagi beberapa orang, istirahat dan menghilangkan stres bisa menjadi pengobatan rumahan yang efektif. Perubahan mungkin termasuk hal-hal seperti:

  • Mengurangi kewajiban yang harus dilakukan sehari-hari.
  • Berjalan-jalan atau menambahkan aktivitas fisik lainnya ke dalam rutinitas.
  • Makan makanan yang sehat.
  • Beristirahat saat Anda membutuhkannya.
  • Berlatih meditasi.
  • Menghabiskan waktu di alam.

Obat-Obatan

Dokter mungkin meresepkan antidepresan atau obat untuk meredakan cemas. Jika stres yang Anda alami menyebabkan insomnia, dokter mumgkin akan memberikan resep obat tidur. Gangguan tidur dapat memperburuk stres dan kecemasan, kondisi yang memperburuk insomnia.

Psikoterapi

Psikoterapi dikenal juga dengan sebutan terapi bicara. Cara ini dapat membantu Anda mengatasi nervous breakdown dan mengurangi risiko mengalami gangguan lain. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat membantu Anda mencari solusi untuk mengurangi stres dan kecemasan.

 

  1. Anonim. 2020. Signs of a Nervous Breakdown. https://www.webmd.com/mental-health/signs-nervous-breakdown. (Diakses pada 23 April 2021).
  2. Huizen, Jennifer. 2020. What are the signs of a nervous breakdown?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321018. (Diakses pada 23 April 2021).
  3. Scaccia, Annamarya. 2020. How to Recognize and Treat the Symptoms of a Nervous Breakdown. https://www.healthline.com/health/mental-health/nervous-breakdown#treatments. (Diakses pada 23 April 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi