Terbit: 6 Desember 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Sebuah kasus yang sangat tidak biasa membuat seorang remaja meregang nyawa. Hanya gara-gara menoleh dengan cepat, sang remaja berusia 17 tahun bernama Ben Littlewood akhirnya terkena stroke. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Hanya Karena Menoleh, Remaja Ini Tewas Karena Stroke

Stroke Muncul Akibat Menoleh

Sang ibu, Vicki Brocklehurst menemukan putranya sudah tergeletak di dapur rumahnya pada 3 April 2019 lalu. Saat itu, Ben terlihat tidak bergerak dan sesekali mengalami kejang. Sang ibu kemudian memanggil ambulans. Setelah tiba, petugas medis menemukan adanya benjolan serta luka pada dahi sang anak.

Ben langsung dilarikan ke Tameside Hospital, Greater Manchester, Inggris. Dokter pun langsung menjalankan pemeriksaan dengan CT Scan. Pemeriksaan pertama tidak menghasilkan apapun sehingga dokter kembali mengulanginya pada 7 April 2019. Di pemeriksaan terakhir inilah, Ben didiagnosis terkena stroke iskemik.

Dr. Christopher Douglas yang berasal dari Salford Royal Hospital menyebut Ben mengalami stroke berjenis basilar artery thrombosis. Kondisi ini sangatlah langka. Bahkan, bagi para lansia yang rentan terkena stroke, kasus ini juga sangat jarang terjadi.

Stroke ini membuat pembuluh darah menuju otak mengalami penyumbatan atau sobek. Pemicunya adalah gerakan tiba-tiba pada leher seperti saat menoleh karena dipanggil atau berusaha untuk memutar kepala saat memundurkan mobil.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Berbagai Mitos Terkait dengan Stroke

Stroke seringkali dipicu oleh gaya hidup tidak sehat yang akhirnya mempengaruhi kondisi pembuluh darah menuju otak. Masalahnya adalah penyakit yang berpotensi mematikan ini juga memiliki cukup banyak mitos yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Berikut adalah mitos-mitos tersebut.

  1. Stroke Bisa Mempengaruhi Jantung

Banyak orang yang salah mengerti dengan stroke dan menganggapnya bisa menyerang jantung. Padahal, dalam realitanya stroke menyerang otak. Memang, penyebabnya adalah gangguan sirkulasi darah, namun seringkali terjadi di pembuluh darah yang ada di otak atau yang menuju ke otak.

Hanya saja, terkadang memang pemicu dari stroke adalah gumpalan darah yang berasal dari jantung. Biasanya, hal ini dipicu oleh fibrilasi atrium atau ketidaknormalan denyut jantung. Kondisi ini bisa dicegah dengan mengonsumsi obat pengencer darah.

  1. Stroke Hanya Menyerang Orang Tua

Sebagaimana kasus yang kita bahas sebelumnya, stroke bisa menyerang siapa saja tapa mengenal usia. Hanya saja, kasus stroke di usia lanjut atau di usia dewasa memang cenderung lebih tinggi, yakni 25 persen bagi mereka dengan usia lebih dari 65 tahun.

Orang-orang dengan usia lebih dari 35 tahun memiliki risiko terkena stroke yang tinggi. Pertambahan usia 10 tahun saja bisa membuat risiko ini naik dua kali lipat, apalagi bagi mereka yang menerapkan gaya hidup yang buruk.

  1. Stroke Tak Bisa Dicegah

Stroke dianggap sebagai takdir yang tidak bisa dicegah. Padahal, dalam realitanya gaya hidup yang sehat bisa menurunkan risikonya. Hal ini bisa membuat faktor-faktor risiko stroke seperti tekanan darah tinggi, kolesterol dan trigliserida tinggi, atau masalah sirkulasi darah menurun. Tak hanya dengan menjaga pola makan atau rutin berolahraga, menghindari rokok juga bisa mencegah kedatangannya.

  1. Stroke Menyebabkan Nyeri

Banyak orang berpikir jika sakit kepala adalah gejala utama dari stroke. Padahal, dalam realitanya stroke tidak menyebabkan sensasi nyeri dan bisa tiba-tiba datang menyerarng.

  1. Stroke Bukan Penyakit Keturunan

Meskipun faktor gaya hidup memberikan pengaruh lebih besar, dalam realitanya stroke juga dipengaruh oleh faktor genetik. Mereka yang berasal dari keluarga dengan riwayat stroke memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena masalah yang sama.

 

Sumber:

  1. Mahmood, Basit. 2019. Teenager, 17, died of stroke after ‘turning his head too quickly. https://metro.co.uk/2019/12/05/teenager-17-died-stroke-turning-head-quickly-11275241/?ito=cbshare (Diakses pada 6 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi