Menjadi Social Smoker Jauh Lebih Berbahaya, Kenapa?

Merokok-doktersehat
Photo Credit: Flickr.com/mihi_tr

DokterSehat.Com– Banyak orang yang memilih untuk menjadi social smoker, orang-orang yang hanya merokok saat berkumpul bersama dengan teman-teman saja demi alasan bisa berbaur. Meskipun frekuensi merokoknya tidak sebanyak perokok aktif, ternyata dampak kesehatan yang didapatkan para social smoker ini sama saja.

Dikutip dari Men’s Health, sebuah penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam American Journal of Health Promotion menghasilkan fakta bahwa social smoker tetap saja akan meningkatkan risiko terkena berbagai penyakit berbahaya. Bahkan, meskipun frekuensi merokoknya sangat jarang jika dibandingkan dengan para perokok aktif, tetap saja risiko terkena penyakit ini tetap tinggi.

Dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 40 ribu partisipan ini, para peneliti dari The Ohio State University menemukan fakta bahwa jumlah para social smoker ini meningkat hingga lebih dari 10 persen. Selain itu, kebanyakan dari pelaku social smoker ini adalah pria dengan usia 21 hingga 40 tahun atau di usia yang dianggap masih produktif.

Saat mengecek risiko kesehatan yang dimiliki oleh para social smoker ini, para peneliti menemukan fakta bahwa mereka memiliki risiko besar mengalami tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi. Risiko ini bahkan dianggap setara dengan yang dimiliki oleh orang-orang yang menghisap sebungkus rokok dalam sehari.

Setelah para perokok ini memperhitungkan faktor-faktor lain layaknya obesitas, ditemukan fakta bahwa 75 persen dari social smoker memiliki tekanan darah tinggi. Sementara itu, lebih dari 50 persen mengalami kadar kolesterol tinggi. Padahal, kedua hal tersebut bisa berpengaruh besar pada meningkatnya risiko terkena penyakit kardiovaskular.

Hal ini berarti, meskipun banyak social smoker yang mengaku tidak kecanduan rokok, tetap saja mereka memiliki risiko besar terkena penyakit yang mematikan.

Kalau Sobat Sehat merokok atau tidak?