Terbit: 7 Mei 2018
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membuat tubuh sehat, mulai dari olahraga hingga konsumsi makanan-makanan bergizi. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa saat seseorang banyak terlibat dengan aktivitas keagamaan, hal itu juga berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan?

Menjadi Religius Membuat Tubuh Anda Lebih Sehat

Seperti dikutip dari Time, berdasarkan penelitian komprehensif yang diterbitkan di jurnal JAMA Internal Medicine pada tahun 2016, seseorang yang melakukan aktivitas keagamaan memiliki risiko 33 % lebih rendah untuk menderita karena penyakit. Sedangkan studi lain yang diterbitkan di jurnal PLOS One menemukan, seringnya seseorang terlibat dalam aktivitas keagamaan mampu menurunkan stres hingga membuat seseorang memiliki usia lebih panjang.

Tyler VanderWeele, salah satu penulis studi JAMA Internal Medicine dan seorang profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, mengatakan, faktor-faktor yang terkait dengan aktivitas keagamaan membuat seseorang memiliki dukungan sosial, sikap optimis, kontrol diri yang lebih baik dan memiliki tujuan hidup yang lebih baik.

Sementara itu, Howard Friedman, seorang profesor psikologi di University of California, Riverside, mengatakan, tradisi dalam agama seperti rasa hormat, kasih sayang, rasa syukur, kerendahan hati, menjaga harmoni dan kesehatan—tampaknya mampu membuat seseorang memiliki umur lebih panjang.

“Memiliki perasaan bahwa Anda tidak sendirian di dunia, bahwa Anda adalah bagian dari kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri—dapat memberi satu keyakinan untuk menangani masalah-masalah kehidupan,” kata Marino Bruce professor of medicine, health and society di Vanderbilt University. Menurutnya, saat stres dalam tubuh berkurang, itu berarti tekanan darah tinggi, diabetes atau hal-hal yang dapat meningkatkan kematian dapat otomatis akan menurun.

Kekuatan Doa

Dalam setiap aktivitas keagamaan, berdoa adalah salah satu hal yang umum dilakukan. American Heart Journal mengungkapkan bahwa, berdoa telah terbukti membuat tubuh lebih rileks, mengistirahatkan pikiran-tubuh dari stres, menjaga detak jantung dan tekanan darah normal, meringankan gejala penyakit kronis hingga mengubah ekspresi gen.

Para peneliti di Duke University menemukan bahwa ritual keagamaan berfungsi sebagai mekanisme anti-stres. Setiap praktik yang menurunkan tekanan darah secara teratur, apakah itu interaksi sosial yang menyenangkan dengan teman atau latihan fisik, dapat mengurangi risiko penyakit jantung. Dengan logika ini, maka aktivitas doa dalam ritual keagamaan dapat berkontribusi langsung terhadap kesehatan dan umur panjang.

Sedangkan penelitian yang dilakukan Institut Penelitian Sosial Ulster menjelaskan kenapa aktivitas keagamaan bisa membuat tubuh lebih sehat. Menurutnya,  agama digunakan menjadi ‘rem’ bagi setiap penganutnya untuk membatasi semua aktivitas negatif.

Agama melarang seks bebas, sehingga penganutnya terhindar dari risiko terjangkit penyakit menular seksual. Agama tertentu juga melarang minuman beralkohol sehingga mengurangi risiko kerusakan otak. “Agama membuat Anda lebih pro-sosial, religius di saat Anda stres,” ujar Edward Dutton, penulis utama di penelitan ini.

Psikologi Beragama

Sedangkan dalam kacamata psikologi, Wiliam James, penulis buku The Varieties Of Religious Experience, membagi keberagamaan dalam dua tipe  yaitu the healthy minded dan the sick soul. Kedua tipe ini pada dasarnya merupakan predisposisi  kepribadian seseorang untuk melihat dunia sesuai dengan persepsi mereka, sehingga akan berpengaruh terhadap cara pandang keberagamaan mereka.

James menyimpulkan bahwa orang yang memiliki the healthy-minded (jiwa yang sehat) secara kognitif memiliki cenderung melihat segala sesuatu disekitarnya sebagai sesuatu yang baik dan selalu optimis melihat masa depan.

Dalam hubungan dengan orang lain, orang dengan healthy-mind cenderung bersikap terbuka. Mereka adalah orang yang ekstrover, dapat menerima pandangan dan pemikiran keberagamaan dari orang lain.

Sedangkan tipe beragama the sick-soul (jiwa yang sakit). Secara kognitif mereka lebih mengembangkan sikap pesimis, yaitu selalu melihat sisi negatif dalam memandang segala sesuatu. Saat menghadapi suatu masalah dia akan memandang hal itu sebagai balasan dari dosanya.

Secara emosional, pikirannya akan didominasi oleh rasa sedih dan merasa penuh dosa yang tidak terampuni. Mereka menggambarkan sosok Tuhan dari sisi yang memberi hukuman, yang keras balasannya, tapi tidak melihat bahwa Tuhan juga memiliki kasih sayang dan ampunan yang besar. Secara pribadi mereka lebih bersifat introver, beriorientasi pada diri sendiri dan tertutup. Mereka melihat bahwa hanya pandangan keberagamaan dirinya dan kelompoknya sebagai pandangan yang paling benar dan tidak ada kebenaran sedikitpun pada kelompok orang lain.

Pada akhirnya, meski sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa semakin religius seseorang maka kesehatannya akan semakin membaik, penelitian itu tidak bisa digeneralisir untuk semua orang. Religius juga tidak melulu dikaitkan dengan ritual keagamaan, menjadi religius bisa dilakukan dengan berkebun, bermusik, melukis, terlibat dalam aktivitas politik atau melakukan penelitan ilmiah.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi