Menguapi Vagina dengan Herbal agar Tidak Bau, Amankah?

menguapi-vagina-doktersehat

DokterSehat.Com – Vagina adalah salah satu organ yang agak susah dijaga kesehatannya oleh wanita. Perawatan secara rutin seperti mengganti celana dalam setiap hari khususnya saat hari panas harus terus dilakukan vagina. Wanita juga tidak diperkenankan untuk memakai celana dalam yang cukup ketat karena vagina bisa jadi sangat bau.

Mencegah Vagina Menjadi Bau

Bagi wanita, vagina adalah organ yang sangat penting dan harus dijaga dengan baik. Kalau sampai vagina terjadi masalah atau gangguan seperti aromanya jadi tidak sedap, wanita akan mengalami penurunan percaya diri. Mereka takut kalau akan berhubungan seks dengan pasangannya.

Cara terbaik untuk menjaga kesehatan dan juga mencegah bau tidak sedap pada vagina adalah dengan menerapkan sanitasi yang baik. Wanita harus rutin mengganti celana dalamnya, mencuci vagina secara rutin, dan berusaha membersihkan kotoran yang muncul di area vagina.

Merapikan rambut pada kemaluan juga dilakukan beberapa wanita untuk menghindari kelembaban tinggi pada area selangkangan. Wanita tidak disarankan menggunakan sabun atau produk perawatan vagina yang terlalu wangi dan mengandung zat kimia berbahaya.

Douching atau mencuci rongga vagina dengan cairan khusus juga dilakukan oleh wanita. Cara ini dianggap berbahaya karena bisa membunuh bakteri baik atau flora normal yang ada di dalam vagina. Cairan atau semi padat dimasukkan ke vagina agar rongga jadi lebih kesat dan memiliki aroma lebih wangi.

Terakhir, wanita juga melakukan penguapan atau ratus vagina yang dipercaya mampu memberikan banyak manfaat pada organ kewanitaan. Nah, yang menjadi pertanyaan, amankah melakukan penguapan pada vagina agar aroma dari organ ini jadi lebih wanita dan tidak sedap?

Penguapan atau Ratus Vagina

Ratus adalah metode penguapan pada vagina yang dilakukan secara langsung. Wanita akan duduk di kursi khusus yang di bawahnya terdapat beberapa ramuan tradisional yang didihkan. Uap dari ramuan yang mendidih ini akan dipaparkan langsung ke vagina sehingga efek yang didapatkan akan langsung dirasakan wanita.

Lama penguapan pada ratus vagina ini berjalan selama 30 menit. Setelah diratus, wanita akan dibersihkan vagina bagian luarnya dan diinginkan dengan air. Proses total untuk ratus vagina sekitar 45 menit. Beberapa proses penguapan bisa lebih cepat atau lebih lama, tergantung dengan kebutuhan dari wanita.

Selama menjalankan ratus, ada banyak bahan yang digunakan untuk penguapan. Sebagian besar berasal dari herbal yang banyak digunakan dalam dunia pengobatan tradisional. Ada kulit kayu secang, kelopak mawar, akar wangi, dan temulawak. Semua bahan akan dicampur menjadi satu untuk dididihkan dan menghasilkan uap.

Karena bahan-bahan untuk penguapan kadang susah didapatkan, beberapa penyedia layanan ratus memakai bentuk minyak esensial. Jadi herbal yang dibutuhkan sudah dibuat menjadi bentuk yang instan agar lebih mudah digunakan, bahkan oleh wanita secara langsung saat berada di rumah.

Klaim Manfaat dari Penguapan Vagina

Ratus vagina diklaim mampu membuat aroma tidak sedap pada vagina hilang dengan lebih cepat dan memberikan kebaikan lain khususnya yang berhubungan dengan kemampuan seksual dan reproduksi. Bau yang dianggap mengganggu bisa segera dihilangkan meski masih terdapat risiko yang jarang diperhatikan oleh wanita.

Penguapan pada vagina juga diklaim mampu melancarkan peredaran darah pada vagina. Uap hangat dianggap mampu memicu peredaran darah berjalan dengan lancar. Area di sekitar vagina jadi lebih relaks sehingga otot di sekitarnya bisa bekerja dengan maksimal.

Klaim lain terkait dengan ratus vagina adalah keseimbangan hormon. Wanita yang melakukan ratus akan memiliki hormon seimbang sehingga kerja tubuhnya jadi membaik. Itulah mengapa ratus vagina banyak dilakukan oleh wanita kerajaan atau bangsawan di masa lalu.

Berbagai klaim yang dibahas di atas hanya klaim sepihak saja. Pasalnya penelitian tentang penginapan vagina ini belum ada. Kalau ada, tentu akan banyak membahas efek atau dampak yang akan ditimbulkan. Pasalnya vagina sangat sensitif dan kalau diberi sesuatu yang panas dan sangat kuat bisa terluka.

Dampak Negatif Menguapi Vagina

Klaim memberikan banyak manfaat untuk vagina harus dipertanyakan. Pasalnya ratus ternyata cukup berbahaya sehingga wanita harus menghindarinya. Berikut bahaya dari ratus vagina.

  • Vagina melepuh karena panas uap yang berlebihan. Praktik ratus vagina dilakukan dengan penguapan secara langsung. Padahal uap air lebih tinggi suhunya dari permukaan air. Kalau jarak vagina dengan asal uap dekat, kondisi melepuh bisa saja terjadi dan membuat vagina jadi mengalami inflamasi.
  • Membunuh bakteri baik atau flora normal yang ada di dalam vagina. Penguapan ke vagina secara langsung akan membuat organ itu dimasuki uap air yang banyak. Uap panas itu bisa saja mengganggu flora normal yang ada di dalam vagina. Kalau flora normal yang ada di sana mati, infeksi bakteri bisa muncul dengan mudah.
  • Seks terganggu dan jadi lebih sakit dari biasanya. Kalau vagina jadi lebih sensitif dari biasanya, wanita akan mengalami gangguan saat bercinta. Gangguan pada vagina membuat penetrasi sangat menyiksa sehingga wanita susah mendapatkan kepuasan.
  • Setelah ratus dilakukan, vagina mungkin lebih kesat dan wangi. Namun, kondisi ini hanya sementara saja. Wanita harus melakukan berkali-kali untuk mendapatkan kondisi itu. Kalau kondisi ini terus dilakukan, dikhawatirkan kerusakan vagina akan lebih besar.

Vagina memang wajib dibersihkan oleh semua wanita setiap harinya. Namun, proses itu harus dilakukan dengan aman dan baik agar tidak menimbulkan masalah. Kalau vagina jadi rusak, berarti prosesnya salah.

 

 

Sumber:

  1. Nall, Rachel. 2018. What to know about vaginal steaming. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322657.php. (Diakses 10 September 2019).
  2. McDermott, Annette. 2017. Everything You Need to Know About Vaginal Steaming. https://www.healthline.com/health/womens-health/vaginal-steaming. (Diakses 10 September 2019).
  3. BBC. 2019. Warnings after woman is burned by ‘vagina steaming’. https://www.bbc.com/news/health-49278279. (Diakses 10 September 2019).