Berbahayakah Mengonsumsi Telur yang Sudah Pecah?

doktersehat-masker-telur

DokterSehat.Com– Harga telur yang terus membumbung tinggi membuat banyak orang yang kini berpikir untuk mengonsumsi telur yang cangkangnya sudah pecah. Menurut masyarakat yang ada di kota Blitar, Jawa Timur, telur ini disebut sebagai telur bentesan. Setelah diolah, telur ini memiliki rasa yang tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan telur yang masih baik. Sebenarnya, apakah tidak apa-apa jika kita mengonsumsi telur yang sudah pecah?

Meski cangkangnya sudah rusak atau pecah, telur bentesan yang memiliki harga lebih murah ini isinya masih utuh sebagaimana telur normal. Yang menjadi masalah adalah, meskipun isinya masih utuh, ada kemungkinan isi dari telur ini sudah terpapar bakteri patogen yang membuatnya tentu tidak aman untuk dikonsumsi.

Jika selaput atau kulit ari dari telur ini belum sobek meskipun cangkang dari telur ini sudah pecah, besar kemungkinan isi di dalam telur belum terpapar bakteri patogen. Hal ini berarti, telur ini masih aman untuk dikonsumsi. Meskipun begitu, kita tidak bisa memprediksi apakah selaput di dalam telur ini masih dalam kondisi baik atau tidak. Bisa jadi, di bagian yang retak selaput ini tidak sobek, namun di bagian lain selaput ini sudah robek sehingga ada kemungkinan isi bagian telur sudah terpapar bakteri. Karena alasan inilah ada baiknya memang kita tidak mengonsumsi telur yang cangkangnya sudah pecah ini.

Sebagai informasi, telur termasuk dalam bahan makanan yang sangat disukai oleh bakteri patogen. Hal ini disebabkan oleh sifat telur yang kaya akan nutrisi, organik, dan cenderung basah. Karena alasan inilah telur yang cangkangnya sudah retak sebaiknya tidak dikonsumsi.

Mengingat harga telur sedang naik dengan drastis, kita bisa mencari sumber bahan makanan lain yang sehat sebagai penggantinya atau menurunkan frekuensinya untuk sementara hingga harga telur normal kembali. Jangan tempatkan kesehatan tubuh dalam risiko besar hanya karena mengonsumsi telur berharga murah dengan cangkang yang sudah rusak.