Menggugurkan Kandungan dengan Kiranti, Bisakah?

kiranti-untuk-menggugurkan-kandungan-doktersehat

DokterSehat.Com – Akhir-akhir ini, kita kerap mendengar rumor bahwa salah satu produk minuman wanita yakni “Kiranti”, bisa menggugurkan kandungan alias aborsi, pun menghambat pertumbuhan janin manakala dikonsumsi saat usia kehamilan masih tergolong muda. Lantas, apakah benar Kiranti bisa menggugurkan kandungan? Adakah efek samping atau bahaya dari menggugurkan kandungan dengan Kiranti?

Apa Itu Kiranti?

Kiranti adalah minuman herbal dalam kemasan khusus wanita produksi Orang Tua Group (OT). Kiranti acap kali dikonsumsi oleh para wanita yang mengalami masalah datang bulan alias menstruasi. Ini tak lain karena manfaat Kiranti adalah untuk meredakan nyeri pre-menstruation syndrome (PMS), nyeri saat haid (dismenore), melancarkan siklus menstruasi, hingga menambah tenaga.

Sejumlah kalangan percaya bahwa Kiranti bisa menggugurkan kandungan. Hal ini lantas mendorong sejumlah wanita untuk menggugurkan kandungan dengan Kiranti, dengan anggapan cara menggugurkan kandungan ini mudah dan “aman” (terjadi pada kasus di mana kehamilan diakibatkan oleh hubungan seksual pra-nikah).

Menggugurkan Kandungan dengan Kiranti, Bisakah?

Menggugurkan kandungan dengan Kiranti acap kali jadi ‘jalan pintas’ bagi pasangan yang tidak atau belum menginginkan kehadiran buah hati di kehidupan mereka. Apakah Kiranti bisa menggugurkan kandungan, atau ini hanyalah mitos belaka?

Dihimpun dari berbagai sumber, menggugurkan kandungan dengan Kiranti yang banyak dipercayai orang ini sejatinya belum memiliki bukti medis yang kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa rumor tersebut hanya sebatas mitos.

Bagi Anda yang sempat merasa haidnya tidak lancar lalu minum Kiranti, kemudian baru menyadari bahwa penyebab siklus haid berhenti adalah kehamilan, maka tidak usah khawatir karena hampir bisa dipastikan tidak ada efek samping berbahaya yang bisa mengancam janin di dalam perut Anda.

Kalaupun masih ragu, menghentikan konsumsi Kiranti selama masa kehamilan adalah langkah tepat guna menghindari segala kemungkinan negatif yang bisa saja terjadi. Atau, segera temui dokter Anda untuk memastikan hal ini lebih lanjut.

Mengapa Seseorang Melakukan Aborsi?

Kegiatan menggugurkan kandungan (aborsi) dipicu oleh sejumlah faktor. Apa saja penyebab seseorang melakukan aborsi? Berikut beberapa di antaranya.

1. Kehamilan Tidak Diharapkan

Memiliki anak adalah dambaan setiap pasangan suami-istri. Ketika sang istri dinyatakan positif hamil, rasanya lengkap sudah kebahagiaan Anda dan pasangan, bukan? Lain halnya ketika kehamilan tersebut terjadi di luar ikatan pernikahan? Tentu ini bisa jadi ‘bencana’ bagi pasangan yang melakukan.

Aborsi pun kerap dijadikan jalan pintas guna mengatasi masalah ini. Segala cara dilakukan guna ‘membunuh’ buah cinta yang baru saja hendak tumbuh dan berkembang di dalam perut, salah satu caranya ialah menggugurkan kandungan dengan Kiranti.

2. Faktor Usia

Hamil di saat usia Anda sudah di atas 35 tahun secara klinis memiliki risiko yang cukup berbahaya terkait keselamatan nyawa, baik untuk si ibu maupun janin. Atas dasar ini, sejumlah wanita yang sudah berumur lalu mendapati dirinya hamil memutuskan untuk menggugurkan kandungannya dengan alasan keselamatan.

3. Cacat Janin

Ada sejumlah kasus di mana kondisi janin tidak sempurna, seperti kelainan kromosom. Jika sudah begini, maka bukan tidak mungkin prosedur aborsi akan ditempuh demi menjaga keselamatan sang calon ibu.

4. Kelainan Rahim

Kelainan Rahim juga bisa jadi faktor penyebab mengapa akhirnya seseorang harus menggugurkan kandungannya. Akibat kondisi Rahim yang abnormal, perkembangan janin menjadi tidak sempurna sehingga bisa membahayakan jani tersebut, maupun wanita yang mengandungnya.

Akhirnya, dokter pun terpaksa harus mengambil langkah aborsi atau abortus guna menghindari risiko kematian pada sang ibu.

5. Terlalu Banyak Anak

Rasanya tidak logis, namun ada saja pasangan suami-istri yang berpikir untuk melakukan aborsi karena sudah terlalu punya banyak anak, demikian pernyataan dari Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Inne Silviane, sebagaimana dikutip dari DetikHealth.

Kasus seperti ini sebenarnya bukan menjadi alasan yang etis bagi seseorang untuk melakukan aborsi, sama halnya dengan alasan seseorang melakukan aborsi akibat hubungan seksual pra-nikah.

Alih-alih menggugurkan kandungan, lebih baik mencegah agar jangan sampai terjadi kehamilan, seperti menggunakan alat kontrasepsi, atau sebisa mungkin menghindari seks bebas.

6. Urusan Karir

Masih dilansir dari sumber yang sama, faktor pemicu seseorang melakukan aborsi adalah ingin meniti karir profesionalnya terlebih dahulu.

Sekalipun sudah menikah, beberapa pasangan berpikir bahwa kehadiran anak dapat mengganggu pekerjaan sehingga karir pun akan ikut terhambat. Akibatnya, saat terlanjur hamil, mereka tak segan-segan melakukan aborsi.

Bahaya Aborsi bagi Tubuh

Jika bukan karena faktor medis yang dapat membahayakan diri, aktivitas aborsi sejatinya tidak dibenarkan, terutama jika dilihat dalam konteks agama dan budaya. Lagipula, aborsi juga memiliki sejumlah bahaya yang tidak bisa disepelekan.

Berikut ini beberapa bahaya aborsi yang perlu Anda ketahui.

1. Rahim Rusak

Bahaya aborsi yang pertama adalah potensi terjadinya kerusakan pada Rahim. Satu dari seribu kasus aborsi dengan obat, dan 250 dari 1.000 kasus aborsi lewat operasi berujung pada rusaknya Rahim dari wanita yang melakukan tindakan ini.

Kerusakan pada Rahim tersebut meliputi:

  • Perforasi Rahim
  • Kerusakan leher Rahim
  • Luka robek pada Rahim (laserasi)

Selain itu, akibat aborsi juga bisa merusak serviks, terjadi pada wanita usia remaja yang melakukan aborsi pada trimester kedua.

2. Perdarahan pada Vagina

Aborsi juga memungkinkan pelakunya untuk mengalami perdarahan hebat pada vaginanya. Kasus seperti ini terjadi 1 : 1000 dari kegiatan aborsi yang dilakukan. Perdarahan vagina juga ditandai dengan gejala:

  • Keluarnya gumpalan darah besar
  • Darah mengalir sangat deras
  • Perdarahan berlangsung selama 2 jam

3. Sepsis

Sepsis adalah kondisi di mana infeksi bakteri tidak hanya terjadi di area Rahim, melainkan telah menyebar ke seluruh tubuh. Kondisi ini lazim terjadi pasca operasi aborsi. Akibat sepsis ini, tekanan darah akan menurun secara drastis.

Sepsis sendiri ditandai oleh sejumlah gejala, seperti:

  • Demam tinggi
  • Nyeri di sekujur tubuh
  • Tubuh menggigil
  • Denyut jantung berdetak sangat kencang
  • Kesulitan bernapas
  • Susah buang air kecil

4. Kematian

Ini dia bahaya aborsi yang paling berbahaya. Ya, melakukan aborsi sangat mungkin menyebabkan pelakunya meninggal dunia. Studi yang dilakukan di Finlandia pada  tahun 1997 mengungkapkan bahwasanya wanita yang melakukan aborsi memiliki risiko kematian 4 (empat) kali lebih besar ketimbang wanita yang mempertahankan janinnya sampai siap dilahirkan.

Serangan komplikasi aborsi seperti perdarahan, infeksi, dan lain-lain ditengarai menjadi penyebab utama mengapa seseorang bisa meninggal dunia pasca melakukan aborsi.

Itu dia penjelasan mengenai rumor menggugurkan kandungan dengan Kiranti beserta bahaya aborsi yang perlu Anda ketahui. Selalu jaga diri dan rencanakan dengan matang sebelum memutuskan untuk hamil agar tidak ada aktivitas aborsi yang harus dilakukan.

Anak adalah anugerah tak ternilai yang diberikan Sang Pencipta kepada kita. Jadi, jangan tolak kehadirannya dengan cara melakukan aborsi. Terkait Kiranti, kiranya kini Anda tidak perlu percaya lagi bahwa menggugurkan kandungan dengan Kiranti adalah sebuah fakta. Semoga bermanfaat!