Otitis Media – Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

penyakit-otitis-media-doktersehat

DokterSehat.Com – Apa itu penyakit otitis media? Otitis media adalah infeksi yang terjadi di telinga bagian tengah, yaitu ruang di belakang gendang telinga yang memiliki tiga tulang kecil dengan fungsi untuk menangkap getaran dan meneruskannya ke telinga bagian dalam.

Perlu diketahui, telinga bagian tengah merupakan organ yang memiliki penghalang dan biasanya terbebas dari kuman, karena terdapat bulu-bulu halus yang melindunginya. Otitis media akut terjadi ketika bulu-bulu halus tidak berfungsi dengan baik.

Pada dasarnya, siapapun bisa mengalami penyakit otitis media, akan tetapi infeksi telinga tengah ini lebih sering terjadi pada bayi usia 6-15 bulan dan anak di bawah 10 tahun.

Penyebab Otitis Media

Otitis media sebagian besar diawali oleh flu atau infeksi saluran pernapasan atas. Infeksi pada saluran napas bagian atas dapat menyebabkan penumpukan lendir di bagian tersebut. Akibatnya, tuba Eustachius yang menghubungkan telinga bagian tengah dengan bagian belakang hidung, mengalami penyumbatan dan infeksi telinga tengah.

Pada anak-anak, penyakit otitis media bisa terjadi karena tuba Eustachius nya sulit tetap terbuka dan terlalu empuk. Kondisi ini menyebabkan penyumbatan, penumpukan lendir dan infeksi telinga tengah.

Fungsi utama dari  tuba Eustachius adalah untuk mempertahankan tekanan udara di dalam telinga agar tetap normal. Selain itu, saluran ini berguna untuk mengeringkan mukosa dan kotoran dari telinga tengah, serta memastikan udara dalam telinga selalu bersih. Ketika saluran ini tersumbat atau meradang, mukosa tidak bisa mengering dengan baik, sehingga penyakit otitis media lebih mudah terjadi.

Hal lain yang juga harus diketahui adalah jaringan yang ada di belakang tenggorokan yaitu kelenjar adenoid, juga bisa menghambat  tuba Eustachius apabila mengalami pembengkakan. Pada akhirnya, kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya penimbunan muka yang berisiko membuat penyakit otitis media.

Salah satu jaringan yang ada di belakang tenggorokan yaitu kelenjar adenoid, juga bisa menghambat tuba Eustachius apabila mengalami pembengkakan. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya penimbunan mukosa yang mengarah pada infeksi telinga tengah. Jika infeksi telinga tengah sering terjadi, maka kelenjar adenoid harus diangkat.

Faktor Risiko

Seperti penjelasan sebelumnya, penyakit otitis media lebih sering terjadi pada anak-anak karena mereka memiliki kelenjar adenoid yang lebih besar dibandingkan orang dewasa dan tuba Eustachius yang lebih kecil

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya otitis media:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan otitis media atau penyakit terkait seperti asma.
  • Sering berada di sekitar perokok atau lingkungan berasap.
  • Saat banyak anak terserang penyakit flu dan pilek.
  • Memberi makan anak sambil berbaring.
  • Masih menggunakan dot.
  • Tidak mengonsumsi ASI.
  • Menderita bibir sumbing.
  • Menderita sindrom Down.

Gejala Otitis Media

Pada dasarnya, gejala otitis media pada setiap orang berbeda-beda tergantung pada usia dan stadium. Pada bayi, gejala khas penyakit otitis media ditandai dengan sering memegang telinga, diare, panas tinggi, kejang-kejang hingga sulit tidur.

Sementara pada usia anak-anak, gejala otitis media umumnya akan menyebabkan demam dan rasa nyeri pada telinga. Biasanya, penderita juga telah memiliki riwayat infeksi saluran pernapasan.

Pada bayi dan anak-anak, otitis media akut juga dapat menyebabkan gangguan makan. Hal ini disebabkan oleh demam yang tinggi dan rasa mual. Saat memasuki usia remaja dan dewasa, nyeri yang ditimbulkan dari infeksi telinga diikuti dengan gangguan pendengaran.

Sementara itu, otitis media efusi (OME) adalah proses inflamasi pada telinga tengah ditandai adanya kumpulan sekret dengan membran timpani yang intak. Sekret dapat berupa serous atau mukoid yang menetap selama 3 bulan atau lebih. Proses tersebut dapat berlangsung akut, subakut atau kronis.

Istilah lain yang sering dipakai adalah kronik otitis media sekretorik, kronik otitis media serosa, dan glue ear.

Gejala-gejala umum dari otitis media adalah:

  • Demam.
  • Diare.
  • Mudah marah.
  • Gangguan tidur.
  • Nyeri pada telinga.
  • Hidung tersumbat.
  • Menarik-narik telinga.
  • Kehilangan keseimbangan.
  • Gangguan pendengaran.
  • Mual dan muntah.
  • Menurunnya nafsu makan.
  • Cairan kuning, bening, atau berdarah dari telinga.

Jika otitis media tidak ditangani, pada kasus yang langka dapat menyebabkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Gendang telinga pecah.
  • Kehilangan pendengaran permanen.
  • Infeksi yang menyebar ke tulang telinga.
  • Infeksi yang menyebar ke cairan sekitar otak dan saraf tulang belakang.

Meski umumnya, penyakit otitis media dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari, pada beberapa kasus keadaan mengharuskan penderita otitis media segera mendapatkan pengobatan secara medis ketika:

  • Rasa sakit cukup parah.
  • Bayi tidak bisa tidur disertai rewel.
  • Gejala tidak membaik setelah tiga hari.
  • Cairan atau nanah keluar dari telinga.
  • Memiliki kelainan lain seperti penyakit jantung bawaan atau cystic fibrosis.

Diagnosis Otitis Media

Saat mendiagnosis otitis media atau infeksi telinga tengah, dokter akan menggunakan otoskop, yaitu sebuah alat kecil yang dilengkapi lampu dan kaca pembesar pada bagian ujungnya. Dengan bantuan alat ini dokter bisa mendeteksi keberadaan cairan di telinga bagian tengah dan tanda-tanda infeksi telinga, seperti

  • Gendang telinga membengkak.
  • Memiliki warna yang berbeda dari umumnya.
  • Terbentuknya lubang pada gendang telinga.
  • Munculnya cairan pada kanal telinga.

Jika hasil dari pemeriksaan yang dilakukan belum cukup, dokter bisa melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan lanjutan juga berguna untuk melihat tanda-tanda komplikasi akibat otitis media. Beberapa tes lanjutan tersebut adalah:

  • Timpanometri

Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengukur reaksi gendang telinga terhadap perubahan tekanan udara. Gendang telinga yang sehat akan bergerak jika terjadi perubahan tekanan udara. Jika gendang telinga tetap diam, maka kemungkinan terdapat cairan di belakangnya.

  • Audiometri

Pemeriksaan ini berfungsi untuk menentukan apakah terjadi penurunan fungsi. Sebuah alat bernama audiometer akan digunakan untuk menghasilkan suara dengan tingkat volume dan frekuensi yang berbeda-beda.

  • Pencitraan

Meski prosedur ini sangat jarang untuk dilakukan. MRI dan CT scan mungkin diperlukan jika infeksi diperkirakan sudah menyebar dari telinga bagian tengah ke area di sekitarnya.

Pengobatan Otitis Media

Berikut ini adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang bisa membantu Anda mengatasi otitis media, di antaranya:

  • Menjaga kebersihan telinga.
  • Imunisasi sesuai dengan usia anak.
  • Cegah anak untuk mengunyah benda asing.
  • Hindari asap dan polusi karena bisa memengaruhi kondisi tenggorokan.

Sementara itu, penanganan penyakit otitis media tergantung pada stadiumnya. Berikut adalah cara pengobatan dari penyakit ini:

1. Stadium oklusi

Memberikan obat tetes hidung guna melebarkan saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dan rongga mulut.

2. Stadium hiperemis

Saat memasuki stadium ini dapat diberikan antibiotik, antinyeri dan antiradang. Penggunaan antibiotik lebih dimaksudkan untuk membersihkan kuman-kuman.

3. Stadium supurasi

Selain pemberian antibiotik, dapat juga dilakukan tindakan perobekan pada sebagian kecil selaput yang memisahkan telinga luar dan telinga tengah. Tindakan tersebut membuat cairan yang kental dapat keluar sedikit demi sedikit dan tidak menimbulkan lubang yang besar.

4. Stadium perforasi

Pada stadium ini dapat diberikan obat cuci telinga dan antibiotik. Sementara itu, penggunaan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri ringan dikhawatirkan bisa meningkatkan risiko resistensi bakteri, sehingga antibiotik tidak lagi efisien jika digunakan untuk mengatasi infeksi yang sama di kemudian hari.

Namun, tidak ada bukti yang kuat bahwa antibiotik bisa mempercepat penyembuhan infeksi telinga tengah. Akan tetapi, jika infeksi yang terjadi disebabkan oleh virus, antibiotik tidak akan berguna.

Pencegahan Otitis Media

Langkah terbaik untuk mencegah penyakit otitis media adalah dengan mencegah terjadi ISPA. Jika Anda sudah terdapat tanda-tanda ISPA, segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat agar tidak berlanjut menjadi otitis media.

Sedangkan pada bayi dan anak yang sudah terkena penyakit otitis media akut, kondisi yang parah dapat dihindari dengan memberikan ASI sampai 6 bulan hingga 2 tahun. Selain itu, jauhkan mereka dari paparan asap rokok.

Selain itu, imunisasi terhadap kuman penyebab infeksi saluran pernapasan juga penting dilakukan. Imunisasi PCV agar terhindar dari bakteri Streptococcus pneumoniae dan imunisasi Hib agar terhindar dari bakteri Haemophilus influenzae. Pemberian dua vaksin ini harus dilakukan secara serangkai, yaitu saat anak berusia 2, 4, dan 6 bulan.