Hiperlaktasi: Penyebab, Gejala, & Cara Mengurangi Hiperlaktasi

hiperlaktasi-doktersehat

DokterSehat.Com– Produksi air susu ibu (ASI) pada ibu bisa menjadi masalah tersendiri bagi ibu menyusui. Produksi ASI yang kurang dapat membuat ibu khawatir akan kekurangan ASI, demikian juga dengan produksi ASI yang berlebih. Istilah produksi ASI yang berlebih ini dikenal dengan hiperlaktasi.

Menyusui adalah pemberian ASI yang penting untuk kebutuhan nutrisi bayi. Baik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan banyak organisasi dokter anak, serta pemerintah menganjurkan agar anak-anak disusui secara eksklusif selama setengah tahun sejak lahir dan terus disusui dalam kombinasi dengan makanan yang sesuai bayi.

Apa Itu Hiperlaktasi?

Hiperlaktasi adalah kondisi dimana ibu dapat memproduksi ASI lebih banyak dari yang dibutuhkan bayi. Sekitar tiga bulan pertama kelahiran bayi biasanya produksi ASI melimpah dengan sangat banyak. Namun jika kondisi ini terus berlanjut hingga beberapa bulan berikutnya, maka Anda disebut mengalami hiperlaktasi atau juga disebut sindrom hiperlaktasi.

Penyebab Hiperlaktasi

Tidak semua wanita mengalami kondisi ini, hiperlaktasi adalah kelebihan produksi ASI ini disebabkan beberapa faktor yang khas pada wanita tertentu. Penyebab hiperlaktasi ini di antaranya:

1. Ketidakseimbangan Hormon

Produksi ASI adalah hasil dari hormon yang merangsang kelenjar yang diperlukan memproduksi ASI di payudara.

Wanita umumnya memiliki kelenjar ASI dalam payudara sebanyak 100.000-300.000, namun pada wanita dengan hiperlaktasi diduga memiliki kelenjar ASI yang jauh lebih banyak.

Setiap perubahan kadar hormon ini dapat menghasilkan jumlah susu yang tidak tepat. Terkadang, kondisi ini bisa menjadi efek samping dari obat-obatan, yang memengaruhi kadar hormon. Secara internal, kelenjar pituitari dapat menghasilkan lebih banyak hormon, yang menjadi penyebab hiperlaktasi.

2. Sering Memerah ASI

Proses menyusui sangat tergantung respons yang didapat dari kondisi eksternal tubuh. Ketika mulai menyusui dan bayi baru lahir mulai mengisap susu, tubuh pun mulai memahami permintaan setiap harinya dan menghasilkan jumlah ASI secara tepat yang dibutuhkan.

Namun, jika Bunda lebih suka memerah banyak ASI ke dalam botot di malam hari untuk si kecil atau memerah ASI ketika sedang bekerja, cara ini dapat menyebabkan respons tubuh menjadi bingung dalam hal jumlah susu yang dibutuhkan bayi. Begitu merasakan peningkatan akan kebutuhan ASI, tubuh akan memproduksi banyak ASI dari yang dibutuhkan, yang menyebabkan hiperlaktasi

3. Jumlah Kelenjar Alveoli

Kelenjar yang memproduksi susu di payudara dan menyimpannya sebelum melewati saluran, ke puting susu dan akhirnya ke bayi, disebut sebagai kelenjar alveoli.

Rata-rata jumlah kelenjar alveoli pada wanita menyusui cenderung sedikit atau berlebih. Untuk wanita yang menderita sindrom hiperlaktasi, kelenjar ini dapat meningkat tiga kali lipat, yang menjadi penyebab hiperlaktasi.

4. Kelebihan Hormon Prolaktin

Ketika ada kelebihan hormon prolaktin (yang merangsang produksi ASI) dalam darah, maka dapat menyebabkan hiperprolaktinemia yang mengakibatkan hiperlaktasi.

Gejala Hiperlaktasi pada Ibu

Ada beberapa gejala hiperlaktasi yang sering dialami ibu menyusui di antaranya:

1. Payudara Penuh dan Kencang

Gejala pertama dan paling tampak pada ibu menyusui adalah sensasi merasakan payudara yang sangat penuh dan kencang. Bahkan ada kemungkinan mengalami mastitis (peradangan pada payudara) atau saluran ASI yang tersumbat.

2. Payudara Sakit dan Asi Menetes

Payudara yang membesar dan terasa sakit, menyebabkan ASI keluar sendiri dan membasahi bra, sehingga mungkin membuat Anda risih. Saat menyusui pada satu sisi payudara, payudara yang lain mungkin juga mulai mengeluarkan ASI.

3. Konsistensi Jumlah Produksi ASI

Biasanya, jumlah produksi ASI yang tidak tepat terlihat pada sebagian besar ibu dalam beberapa minggu pertama. Setelah kondisi ini, sebagian besar wanita merasakan bahwa pasokan ASI-nya diatur pada tingkat yang tepat.

Gejala Hiperlaktasi pada Bayi

Ketika bayi mengisap ASI lebih dari biasanya, si kecil akan memberi Bunda petunjuk tentang kesulitannya, seperti :

  1. Perut kembung
  2. Bayi tersedak atau muntah
  3. Cegukan
  4. Peningkatan berat badan yang tidak wajar akan terlihat pada bayi karena asupan ASI yang tidak seimbang.
  5. Bayi menyusu selama beberapa menit , kemudian berhenti dan menekan puting.
  6. Feses padat dan popok basah adalah gejala terlalu banyak laktosa dalam ASI.

Cara Mengatasi Hiperlaktasi

Jika Bunda mengalami masalah hiperlaktasi, berikut adalah beberapa cara mengurangi hiperlaktasi yang mudah dan alami, di antaranya:

1. Cobalah Menyusui dengan Rileks

Menyusui bayi dalam posisi berbaring atau menyandar, dapat membantu bunda mengontrol pemberian ASI. Bayi dapat mengatur langkah dan mengangkat kepalanya untuk istirahat jika aliran ASI terlalu kencang untuknya. Cobalah meletakkan handuk di bawah payudara Anda untuk menyerap ASI yang tercecer.

2. Meringankan Tekanan

Jika kondisi payudara sangat tidak nyaman, Bunda dapat memompa sedikit ASI untuk meringankannya, ingat perah dengan jumlah sedikit. Setiap kali memerah ASI, tubuh merespons untuk memproduksi ASI di payudara dalam jumlah yang banyak.

Jadi, meski memerah sedikit ASI bisa melegakan sementara, namun memerah ASI dalam jangka panjang dapat memperburuk masalah.

Jika Bunda memerah ASI dan menyimpannya saat jauh dari bayi, cara yang terbaik adalah menunggu sampai Anda mengatasi kelebihan pasokan ASI Anda.

3. Menggunakan Bantalan Menyusui

Jika ASI menetes, selipkan handuk tipis kecil pada bra untuk menyerap ASi yang tercecer. Jika kebocoran ASI ringan sampai sedang atau mengalami kebocoran payudara selama kehamilan, membalut payudara dengan kain yang sangat tipis akan membantu bunda merasa nyaman.

4. Hindari Minum Teh dan Suplemen Laktasi

Jika Bunda sudah minum teh untuk meningkatkan produksi ASI, atau minum suplemen laktasi di masa-masa awal, pastikan untuk berhenti, karena ini bisa menyebabkan masalah.

5. Kompres Dingin

Meski terdengar tidak biasa, kompres dingin pada payudara dengan daun kol dingin dapat membantu mengatasi pembengkakan dan mencegah produksi susu berlebihan. Bunda juga bisa menggunakan kompres biasa, dengan membalut es memakai handuk.

Cara mengurangi hiperlaktasi ini mudah, Bunda cukup menyiapkan dua daun kol hijau, cuci dan masukkan ke dalam kulkas untuk dinginkan, jangat terlalu dingin atau bahkan beku. Kemudian balutkan selembar daun kol di setiap bra. Ganti setiap 2 jam sekali atau lebih ya, Bunda!

6. Teknik Menyusui

Cara mengurangi hiperlaktasi lainnya adalah dengan teknik menyusui. Cara pemberian ASI pada bayi ini dengan satu payudara hanya untuk jangka waktu tertentu (biasanya tiga hingga empat jam).

Nah, membiarkan payudara lainnya penuh selama beberapa waktu memberi sinyal kepada tubuh untuk memperlambat produksi ASI. Cara ini harus dilakukan dengan saran dari spesialis laktasi, karena untuk menghindari masalah pada payudara Anda.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau oleh dr. Jati Satriyo

 

Sumber:

  1. Overabundant milk supply: an alternative way to intervene by full drainage and block feeding. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2075483/ (Diakses 13 September 2019)
  2. Milk Oversupply. https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/abr7764 (Diakses 13 September 2019)
  3. Gujral, Cheena M . 2018. Hyperlactation (Overabundant Milk Supply) Causes & Remedies to Cure. https://www.parentune.com/parent-blog/high-milk-supply-hyperlactation/4426 (Diakses 13 September 2019)
  4. Everything You Need To Know About Hyperlactation. https://smartparentadvice.com/hyperlactation/ (Diakses 13 September 2019)
  5. Too much breast milk? How to reduce oversupply. https://www.medela.com/breastfeeding/mums-journey/breast-milk-oversupply (Diakses 13 September 2019)