Gawat Janin: Penyebab, Gejala dan Pengobatan

gawat-janin-doktersehat

DokterSehat.Com – Gawat janin adalah kondisi yang cukup sering terjadi, sekitar satu dari empat persalinan dipersulit dengan adanya gawat janin. Gangguan yang bisa terjadi saat kehamilan dan persalinan ini banyak dipengaruhi komplikasi kehamilan yang sudah ada sebelumnya.

Apa Itu Gawat Janin?

Gawat janin adalah suatu kondisi di mana janin dalam kandungan terganggu asupan oksigennya. Kondisi ini biasanya terjadi selama persalinan tetapi kadang-kadang juga terjadi pada trimester ketiga. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan penurunan denyut jantung janin dan bisa membahayakan janin.

Secara umum, kondisi disebut gawat janin jika mengalami kondisi seperti:

  • Ukuran bayi lebih kecil dari seharusnya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan oksigen dari plasenta.
  • Bayi sudah melebihi usia kehamilan normal, atau sudah berada dalam kandungan lebih dari 42 minggu.
  • Bayi memiliki sensitivitas rhesus.

Penyebab Gawat Janin

Seperti penjelasan sebelumnya, penyebab gawat janin yang utama adalah menurunnya pasokan oksigen pada janin. Kondisi ini bisa terjadi akibat kondisi ibu atau kondisi janin

Kondisi lain yang terkait dengan gawat janin meliputi:

  • Penyakit yang dimiliki ibu.
  • Solusio plasenta.
  • Prolaps tali pusat.
  • Infeksi janin.
  • Meconium staining.

Selain itu, terdapat beberapa kondisi yang dapat membuat bayi Anda berisiko lebih tinggi mengalami gawat janin, termasuk:

  • Pembatasan pertumbuhan intrauterin.
  • Hidramnion dan oligohidramnion.
  • Preeklampsia dan eklampsia.
  • Diabetes gestasional.
  • Kehamilan ganda.

Gejala Gawat Janin

Tanda gawat janin yang paling mudah dikenali adalah berubahnya pola gerakan atau bahkan janin berhenti bergerak. Bayi dengan detak jantung yang kuat dan stabil akan merespons rangsangan dengan gerakan yang tepat. Oleh karena itulah, penting bagi ibu hamil untuk memantau tendangan yang dilakukan janin.

Berikut adalah ciri ciri yang dapat mengarah ke kondisi gawat janin yang harus dipahami, di antaranya:

1. Jumlah Cairan Ketuban yang Tidak Normal

Jumlah cairan ketuban dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai metode ultrasonografi, termasuk penilaian kualitatif, deepest pocket (SDP) dan amniotic fluid index (AFI).

Dokter akan memindai rahim dan melaporkan apakah volume cairan ketuban tampaknya rendah, normal, atau tinggi. SDP adalah pengukuran secara vertical dari kantong terbesar cairan ketuban yang tidak mengandung bagian-bagian tubuh janin atau tali pusat

Sedangkan AFI dihitung dengan mengukur kedalaman cairan ketuban di empat bagian rahim dan menggunakan secara bersama-sama.

2. Perdarahan Vagina

Sejumlah kecil perdarahan vagina cukup umum selama kehamilan. Namun, perdarahan bisa menjadi indikasi bahwa ada sesuatu yang salah dengan kehamilan. Salah satu contoh yang sangat berbahaya adalah solusio plasenta, yaitu ketika plasenta terlepas dari rahim.

Meski menyebabkan janin kekurangan oksigen, hal itu bergantung pada lokasi dan ukuran solusio plasenta. Meski pada awalnya kondisi tidak menyebabkan gawat janin, akan tetapi kesehatan ibu dan janin masih bisa dalam bahaya.

3. Berat Badan Ibu yang Tidak Cukup atau Berlebihan

Beberapa pakar mengungkapkan, kenaikan berat ibu hamil yang normal berkisar antara 11-15 kg. Tentu patokan ini berbeda untuk wanita yang beratnya di bawah normal dan  kelebihan berat badan sebelum hamil.

Jika seorang ibu hamil mengalami peningkatan berat badan namun dalam jumlah lebih sedikit dari patokan umum, janin mungkin mengalami kesulitan dan memiliki kondisi yang disebut intrauterine growth restriction (IUGR). IUGR membutuhkan pemantauan dan pengujian dokter yang cermat, dan sering kali mengakibatkan persalinan dini.

Oleh karenanya, ibu hamil harus melakukan kunjungan prenatal secara teratur, dan perubahan berat badan yang abnormal mungkin memerlukan pemantauan janin tambahan.

Sementara itu, kenaikan berat badan ibu yang berlebihan telah dikaitkan dengan melahirkan bayi yang abnormal atau dikenal dengan sebutan makrosomia.

Makrosomia dapat menciptakan situasi kelahiran yang berisiko, seperti Cephalopelvic Disproportion (CPD), di mana panggul ibu terlalu kecil untuk mengakomodasi ukuran kepala bayi, atau distosia bahu, yaitu ketika bahu bayi tersangkut di tulang panggul ibu selama persalinan.

Diagnosis Gawat Janin

Diagnosis dilakukan dokter untuk memantau janin selama kehamilan sekaligus mendeteksi kemungkinan komplikasi. Salah satu metode pemantauan yang lebih banyak digunakan adalah fetal heart rate (FHR).

Manfaat pemantauan FHR meliputi:

  • Kemampuan untuk mengenali perkembangan hipoksia (ketika janin tidak menerima oksigen dalam jumlah yang cukup) dengan menganalisis pola dalam denyut jantung janin.
  • Kemampuan untuk memantau kontraksi ibu.
  • Kemampuan untuk memonitor respon janin terhadap hipoksia.

Meski FHR berguna untuk mencegah komplikasi, pemantauan FHR juga bisa membawa risiko termasuk kemungkinan peningkatan operasi caesar karena kesalahan interpretasi hasil pemantauan.

Penanganan Gawat Janin

Pada dasarnya perawatan gawat janin akan diberikan sesuai dengan tahap kehamilan, di antaranya:

  • Jika Anda hamil kurang dari 24 minggu dan tidak pernah merasakan bayi Anda bergerak, dokter akan memeriksa detak jantung bayi. Pemindaian ultrasound dapat dilakukan untuk memeriksa kesehatan bayi.
  • Jika Anda hamil antara 24 sampai 28 minggu, dan gerakan janin telah berubah, dokter akan memberi Anda pemeriksaan lengkap, termasuk memeriksa detak jantung bayi , mengukur tekanan darah, menguji urine dan memeriksa pertumbuhan bayi.
  • Jika Anda hamil lebih dari 28 minggu, dokter akan melakukan semua hal di atas, serta pemantauan terus-menerus detak jantung bayi selama setidaknya 20 menit menggunakan sensor yang terpasang pada sabuk yang diletakkan di sekitar perut.

Jika detak jantung dan kadar oksigen janin menunjukkan tanda-tanda penurunan, dokter akan coba meringankan dengan:

  • Meningkatkan kadar cairan, bisa dengan memberikan minuman atau melalui infus.
  • Memberikan parasetamol jika Anda mengalami peningkatan suhu.
  • Membaringkan Anda ke sisi kiri untuk mengurangi tekanan rahim pada vena utama di tubuh. Cara ini mencegah berkurangnya aliran darah ke plasenta.
  • Menghentikan sementara obat apa pun yang telah diberikan guna meningkatkan kontraksi.

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. Fetal Distress. https://americanpregnancy.org/labor-and-birth/fetal-distress/. (Diakses pada 12 September 2019).
  2. What Signs Indicate My Baby Is In Distress? How Is Fetal Distress Treated?. https://www.abclawcenters.com/frequently-asked-questions/what-are-some-signs-that-my-baby-is-in-distress/. (Diakses pada 12 September 2019).
  3. Weiss, Robin Elise, PhD. 2018. Fetal Distress in Labor. https://www.verywellfamily.com/fetal-distress-in-labor-2759064. (Diakses pada 12 September 2019).
  4. Fetal Distress During Pregnancy & Labor. https://www.whattoexpect.com/pregnancy/pregnancy-health/complications/fetal-distress.aspx. (Diakses pada 12 September 2019).
  5. Fetal distress. https://www.babycentre.co.uk/a1044907/fetal-distress. (Diakses pada 12 September 2019).