Terbit: 11 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kista epididimis adalah benjolan kecil berisi cairan yang terbentuk di epididimis testis pria. Simak informasi selengkapnya tentang seberapa bahaya gejalanya, penyebab, pengobatan, komplikasi, dan lainnya di bawah ini!

Kista Epididimis: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Komplikasi, dll

Apa Itu Kista Epididimis?

Kista epididimis adalah benjolan kecil atau kantung berisi cairan yang ditemukan di epididimis, saluran melingkar di bagian belakang testis yang berfungsi untuk menyimpan dan mengangkut sperma.

Benjolan ini bersifat jinak dan sangat sering terjadi seiring bertambahnya usia pada pria. Benjolan kadang-kadang disebut sebagai spermatokel, tetapi ini adalah jenis kista berbeda yang menampung cairan termasuk sperma di dalam kista.

Kista epididimis berbeda dengan epididimitis, merupakan peradangan pada saluran epididimis yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus.

Tanda dan Gejala Kista Epididimis

Kista epididimis biasanya tidak menimbulkan gejala sebelum terbentuk benjolan di epididimis. Ketika sudah terbentuk, mungkin tampak benjolan seukuran kacang polong di salah satu testis tempat sperma diproduksi. Sedangkan untuk spermatokel, kista biasanya muncul di bagian atas testis.

Berikut ini sejumlah gejala kista epididimis lainnya:

  • Nyeri tumpul di skrotum (kantong yang membungkus testis).
  • Terasa berat di skrotum.
  • Kemerahan di bagian skrotum.
  • Peningkatan tekanan di bagian bawah penis.
  • Epididimis terasa lunak atau bengkak.
  • Testis terasa lunak, bengkak, atau mengeras.
  • Nyeri di selangkangan atau punggung bawah dan perut.

Benjolan kecil di epididimis biasanya tidak menyebabkan gejala nyeri yang tajam dan intens dan sering kali tidak menimbulkan rasa sakit sama sekali.

Penyebab Kista Epididimis

Penyebabnya tidak diketahui secara pasti. Terkadang kista yang didiagnosis sebagai spermatokel, hal ini mungkin disebabkan oleh penyumbatan pada epididimis.

Kebanyakan pria yang memiliki kondisi ini cukup sehat. Namun, benjolan kecil di epididimis terkadang dapat dipicu oleh beberapa kondisi berikut:

  • Fibrosis kistik. Penyakit bawaan di mana terdapat kista di paru-paru, pankreas, dan organ tubuh lainnya.
  • Penyakit ginjal polikistik. Ini adalah kondisi bawaan di mana kista berkembang di ginjal dan organ tubuh lainnya.
  • Penyakit Von Hippel-Lindau. Penyakit bawaan di mana tumbuhnya tumor di mata, ginjal, dan
    sistem saraf.
  • Obat pengganti hormon diethylstilbestrol. Kista epididimis terkadang dapat terjadi pada anak yang ibunya ketika hamil pernah terpapar bahan kimia yang disebut diethylstilbestrol.

Faktor Risiko Kista Epididimis

Pria paling berisiko mengembangkan kista seiring bertambahnya usia, biasanya sekitar usia 40 tahun. Anak-anak jarang mengalaminya sebelum beranjak menjadi remaja.

Jumlah penderitanya sulit diketahui karena kebanyakan orang yang mengidap kondisi ini bahkan tidak mengetahuinya. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 6 pria mengalami kista epididimis.

Baca Juga: Kista: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Diagnosis Kista Epididimis

Meski kista jenis ini sering kali ditemukan pada pria dan tidak berbahaya, tetapi sebaiknya periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dengan akurat. Benjolan pada epididimis biasanya dapat ditemukan dengan memeriksa testis secara mandiri di rumah. Namun, agar diagnosis lebih akurat, tes dapat dilakukan oleh dokter.

Berikut ini beberapa tas untuk mendiagnosis kista epididimis:

1. Pemeriksaan Fisik

Jika menemukan adanya benjolan setelah memeriksa testis secara mandiri, dokter dapat memastikan kondisi yang sebenarnya. Dokter dapat mengesampingkan penyebab yang lebih serius dari benjolan di skrotum, seperti tumor atau hernia.

2. Pemeriksaan Transiluminasi

Selain pemeriksaan fisik untuk mendiagnosis benjolan kecil di epididimis, dokter mungkin akan menyorotkan cahaya di masing-masing belakang testis untuk menguji transparansi dan menentukan apakah ada massa yang menghalangi cahaya agar tidak masuk.

Cara tersebut dapat memastikan apakah benjolan adalah kista epididimis atau spermatokel karena cahaya dapat menembus testis. Massa yang padat seperti tumor dapat menghalangi cahaya masuk.

3. USG

Dokter mungkin juga menyarankan ultrasonografi (USG), merupakan tes yang menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar bagian dalam organ tubuh. USG adalah cara cepat dan akurat untuk menentukan apakah massa tersebut adalah kista atau sesuatu yang lebih serius.

Setelah menentukan jenis massa, dokter kemungkinan akan merujuk Anda ke ahli urologi untuk memantau pertumbuhan benjolan kecil di epididimis dan gejala apa pun yang mungkin terkait penyakit ini.

Baca Juga: Epididimitis: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Pengobatan Kista Epididimis

Kebanyakan kondisi ini hanya dapat diobati jika memiliki gejala yang menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Jika tidak, penderita hanya memantau dengan pemeriksaan mandiri secara rutin dan pemeriksaan ke dokter.

Biasanya, kista epididimis dan spermatokel akan mengecil seiring waktu karena tubuh menyerap kembali cairan dari kista atau ukurannya akan tetap sama. Dalam beberapa kasus, kista ini terus membesar atau menyebabkan nyeri, bengkak, atau tidak percaya diri. Jika mengalami kondisi, sebaiknya segera mendapatkan pengobatan yang tepat.

Berikut ini cara mengobati kista epididimitis:

1. Operasi

Operasi adalah pengobatan yang paling sering dilakukan jika pasien dan ahli urologi memutuskan bahwa kista jenis ini perlu diangkat. Pasien akan diberikan anestesi untuk tertidur selama operasi atau pasien akan diberi anestesi tulang belakang yang akan membuatnya terjaga tetapi mati rasa sepenuhnya dari pinggang ke bawah.

Dokter bedah kemudian membuat sayatan di skrotum, memisahkan kista dari epididimis dan testis. Skrotum kemudian ditutup dengan jahitan yang bisa larut. Antibiotik kemungkinan diberikan sebelum prosedur operasi dimulai untuk mencegah infeksi.

Efek samping operasi kista epididimis mungkin mengalami pembengkakan dan memar selama beberapa hari. Ada kemungkinan kista akan tumbuh kembali, tetapi risiko ini terjadi dengan pembedahan lebih kecil dibandingkan dengan beberapa perawatan lain untuk kista.

Dalam beberapa kasus, pengangkatan kista epididimis atau spermatokel dapat memengaruhi kesuburan pria karena dapat mengganggu kemampuan sperma dalam melakukan perjalanan dari testis ke penis atau menyebabkan penyumbatan di epididimis, sehingga menghambat sperma untuk keluar.

Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan semua kemungkinan efek samping operasi kista epididimis dengan ahli urologi sebelum operasi sehingga pasien dapat mengetahui risikonya dan membuat pilihan pengobatan terbaik.

2. Aspirasi

Metode pengangkatan massa ini dapat mengeringkan kista ini dengan memasukkan jarum ke testis, langsung ke dalam kista, untuk menghilangkan penumpukan cairan di epididimis. Pengobatan ini tidak begitu sering disarankan oleh dokter karena ada kemungkinan cairan menumpuk kembali dengan cepat.

3. Skleroterapi Perkutan

Ketika kista epididimis terus tumbuh kembali setelah menjalani aspirasi, prosedur skleroterapi perkutan dapat dilakukan. Ini adalah prosedur rawat jalan yang menggunakan USG untuk membantu memasang kateter ke dalam kista untuk memberikan pewarna kontras ke dalam kista.

Pewarna memudahkan dokter melihat kista dengan lebih jelas serta memantau kebocoran atau komplikasi yang mungkin mengalami kista pada organ lain.

Setelah disetujui, cairan (biasanya etanol yang membantu membunuh sel dalam kista) dimasukkan melalui kateter ke dalam dinding kista dalam waktu yang lama, sekitar 20 menit.

Langkah selanjutnya pasien dipindahkan ke posisi berbeda untuk memastikan cairan mengenai seluruh kista. Cairan ini kemudian disedot keluar dari kista dan pasien dimonitor selama pemeriksaan lanjutan beberapa bulan setelah prosedur.

Komplikasi Kista Epididimis

Kondisi ini jarang menyebabkan komplikasi, namun terkadang kista yang terpelintir pada tangkainya (torsi) bisa terjadi. Ini menyebabkan nyeri mendadak dan bengkak pada sebagian skrotum. Jika mengalami kondisi ini, sangat penting untuk mendapatkan pertolongan medis dengan cepat karena diperlukan operasi yang mendesak.

 

  1. Colleen Travers. 2020. An Overview of an Epididymal Cyst. https://www.verywellhealth.com/epididymal-cyst-overview-4687689. (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  2. Knott, Laurence. 2014. Epididymal Cyst. http://www.rotherhamccg.nhs.uk/Downloads/Top%20Tips%20and%20Therapeutic%20Guidelines/Therapeutic%20guidelines/epididymal%20cyst%20-%20PIL.pdf. (Diakses pada 11 Agustus 2020)
  3. Starr, Oliver. 2017. Epididymal Cyst. https://patient.info/mens-health/scrotal-lumps-pain-and-swelling/epididymal-cyst. (Diakses pada 11 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi