Hipoglikemia – Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Penanganan

hipoglikemia-doktersehat

DokterSehat.Com – Apa itu hipoglikemia? Hipoglikemia adalah suatu kondisi yang terjadi akibat kadar gula (glukosa) dalam darah terlalu rendah. Hipoglikemia paling sering terjadi sebagai efek samping dari terapi diabetes. Hipoglikemia bukanlah penyakit, namun suatu gejala adanya masalah kesehatan lain.

Penyebab Hipoglikemia

Perlu Anda ketahui bahwa hipoglikemia adalah sebuah keadaan darurat yang harus mendapatkan penanganan dengan segera. Terlebih apabila penyakit hipoglikemia terjadi secara terus-menerus sehingga perlu diidentifikasi dan diterapi penyebab utamanya.

Seseorang yang menderita diabetes umumnya menggunakan berbagai perawatan untuk membantu tubuh memasukan glukosa darah ke dalam sel. Salah satu perawatan yang bisa dilakukan adalah suntikan insulin. Apabila Anda terlalu banyak menyuntikan insulin atau mengonsumsi obat yang merangsang insulin, gula darah akan turun terlalu rendah.

Kondisi lain yang menyebabkan hipoglikemia, terutama bagi penderita diabetes adalah:

  • Mengonsumsi minuman alkohol secara berlebihan. Konsumsi alkohol berlebihan tanpa makan dapat mencegah liver melepaskan simpanan glukosa ke dalam darah.
  • Olahraga berlebihan atau aktvitas berat lainnya tanpa asupan makanan yang cukup.
  • Pola makan yang tidak teratur, menunda makan atau konsumsi makanan terlalu sedikit.

Selain itu, hipoglikemia juga dapat dialami oleh mereka yang tidak menderita diabetes. Penyebab hipoglikemia ini, di antaranya:

  • Obat-obatan, seperti kuinin (obat malaria), obat antidiabetik (yang tidak sengaja tertelan).
  • Penyakit berat, seperti hepatitis berat atau gagal ginjal.
  • Overproduksi insulin akibat tumor pankreas (insulinoma) atau pembesaran sel beta pankreas (nesidioblastosis) menghasilkan senyawa mirip insulin dalam jumlah banyak dan menyebabkan hipoglikemia.
  • Defisiensi hormon tertentu yang berasal dari kelenjar adrenal dan hipofisis dapat menyebabkan gangguan produksi glukosa.
  • Pembedahan lambung dapat menyebabkan hipoglikemia reaktif yang terjadi setelah makan akibat tubuh menghasilkan insulin lebih banyak daripada yang dibutuhkan.
  • Kurangnya asupan nutrisi, misalnya akibat penyakit anoreksia nervosa.

Selain itu, seseorang memiliki risiko hipoglikemia lebih tinggi jika memiliki kondisi seperti berikut:

  • Memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol.
  • Pernah melakukan operasi pengecilan lambung.
  • Sedang menderita malaria, hepatitis, sepsis atau gangguan ginjal.
  • Sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti antibiotik, antiaritmia, antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat penurun gula darah.

Gejala Hipoglikemia

Tubuh dan otak memerlukan pasokan gula yang terus-menerus untuk dapat bekerja secara baik. Berikut adalah gejala hipoglikemia yang bisa terjadi, di antaranya:

  • Jantung berdebar-debar.
  • Lemah
  • Pucat.
  • Gemetar.
  • Cemas.
  • Keringat dingin.
  • Hilang keseimbangan.
  • Sulit untuk konsentrasi.
  • Sensasi kesemutan di sekitar mulut.

Jika hipoglikemia tidak segera mendapatkan penanganan dengan segera, terutama jika penderita tidak menyadari kadar gula darahnya mengalami penurunan, maka penderitanya bisa mengalami:

  • Kejang.
  • Gangguan penglihatan.
  • Mengalami penurunan kesadaran.
  • Bingung dan berperilaku tidak normal.

Perlu Anda ketahui bahwa gejala hipoglikemia mungkin saja tidak terjadi seperti yang dijelaskan di atas. Apabila Anda mengalami salah satu gejala seperti yang dijelaskan di atas, segera konsultasi dengan dokter. Kerusakan otak secara permanen bisa terjadi apabila tidak mendapatkan penanganan dengan segera.

Diagnosis Hipoglikemia

Perlu Anda ketahui, kadar gula darah normal berkisar antara 70-110 mg/dl. Meski begitu, Anda tidak dapat mengetahui dengan pasti apakah seseorang mengalami hipoglikemia atau tidak tanpa melakukan tes glukosa darah. Apabila tes glukosa darah menunjukkan gula darah di bawah 70 mg/dl berarti Anda mengalami hipoglikemia.

Sementara bagi penderita diabetes, konsultasi dengan dokter penyakit dalam minimal 2 kali dalam setahun diperlukan untuk mengevaluasi pengobatan dan mendeteksi komplikasi yang bisa terjadi.

Selain kadar gula darah, pada umumnya dokter juga akan melakukan tes fungsi kelenjar adrenal, hati, dan ginjal untuk mendeteksi hipoglikemia dengan akurat. Hal penting lainnya yang tidak boleh terlewatkan adalah mencatat tanggal, waktu, hasil tes, obat dan dosis, serta informasi diet dan olahraga setiap kali Anda melakukan cek darah.

Penanganan Hipoglikemia

Penderita diabetes yang mengalami keluhan hipoglikemia diharuskan mengonsumsi makanan seperti permen, camilan manis, atau minum sirup agar kadar gula darah meningkat. Asupan lain yang disarankan adalah makanan-makanan dengan indeks glikemik yang tinggi seperti nasi putih, sereal dan roti putih. Biasanya, gejala dapat mereda setelah 10-20 menit. Hindari konsumsi makanan berlemak karena bisa menghambat penyerapan gula.

Setelah mengonsumsi makanan atau minuman dengan kadar gula yang tinggi, 15 menit kemudian Anda harus memeriksa kadar gula apakah masih di bawah 70 mg/dl. Jika masih di bawah angka tersebut Anda harus mengonsumsi makanan atau minuman manis lagi. Setelah kadar gula darah stabil, bisa dilanjutkan dengan makan berat.

Apabila gejala tidak juga membaik setelah mendapatkan penanganan, Anda harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit. Biasanya, dokter akan memberikan infus cairan gula.

Apabila tidak segera ditangani, penderita hipoglikemia dapat mengalami kejang, penurunan kesadaran, hingga kematian. Oleh karena itu, apabila Anda atau orang lain mengalami gejala-gejala seperti penjelasan di atas–walaupun belum dapat dipastikan bahwa telah terjadi hipoglikemia, segera lakukan langkah berikut:

  • Bila penderita tidak sadar, segera bawa penderita ke IGD terdekat untuk dilakukan pemeriksaan dan mendapatkan penanganan yang sesuai. Bila penderita terbukti mengalami hipoglikemia, penderita akan diberikan glukosa secara intravena. Jangan berikan makanan maupun minuman pada orang yang tidak sadar karena berisiko masuk ke saluran pernapasan.
  • Bila Anda menderita diabetes dan sering mengalami hipoglikemia, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter mengenai perubahan pola makan dan olahraga serta pengaturan konsumsi obat. Sedangkan bila Anda tidak menderita diabetes namun sering mengalami hipoglikemia, konsultasikanlah pada dokter untuk mencari penyebab terjadinya hipoglikemia, serta konsumsi makanan dalam porsi kecil–namun sering setiap selang waktu tertentu untuk mencegah kadar gula darah terlalu rendah.