Terbit: 6 Januari 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Apa saja dampak buruk kaget? Dapatkah seseorang benar-benar mengalami serangan jantung ketika dikagetkan? Meski fenomena ini adalah sesuatu yang jarang terjadi, tetapi hal ini adalah sesuatu yang nyata dan dapat dijelaskan secara medis. Efek kaget seperti halnya ketakutan, dapat memengaruhi kondisi jantung dan membuat lonjakan adrenalin. Simak penjelasan mengenai dampak buruk kaget bagi kesehatan di bawah ini

Serangan Jantung Bisa Terjadi karena Kaget, Mitos atau Fakta?

Apakah Kaget Bisa Menyebabkan Serangan Jantung?

Sebelum menjelaskan mengenai dampak buruk kaget, hal penting yang harus Anda pahami adalah masalah jantung yang tidak biasa ini bisa terjadi pada orang sehat yang menderita ketakutan parah, pengalaman traumatis atau kehilangan orang yang dicintai.

“Anda akan menemukan orang-orang yang mengalami gagal jantung akut dengan kondisi kesehatan yang sangat baik satu jam sebelumnya,” kata Ilan Wittstein, dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Johns Hopkins di Baltimore yang telah mempelajari fenomena yang dikenal sebagai stres kardiomiopati.

Kardiomiopati adalah penyakit yang berhubungan dengan otot jantung di mana terdapat kelainan pada otot jantung secara struktur dan fungsi tanpa adanya penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung, atau hipertensi.

Sementara itu menurut Martin A. Samuels, chairman of the neurology department at Brigham and Women’s Hospital di Boston, dirinya telah mengumpulkan ratusan laporan tentang orang-orang yang mati mendadak dalam situasi yang menakutkan, antara lain:

  • Korban perampokan yang penyerangnya tidak melakukan kontak fisik.
  • Anak-anak yang meninggal dalam perjalanan ke taman hiburan.
  • Korban kecelakaan mobil yang hanya menderita luka ringan.

“Faktor yang menyatukan adalah bahwa sistem saraf mengontrol jantung dan dapat menyebabkan banyak kerusakan,” kata dr. Samuels.

Berdasarkan beberapa kasus yang pernah terjadi, para ahli memercayai bahwa banyak dari kematian ini disebabkan oleh kerusakan jantung mendadak yang disebabkan oleh gelombang hormon stres dari sistem fight-or-flight tubuh.

– Iklan –

Ketika otak merasakan ancaman, respons primitif ini mengaktifkan sistem saraf simpatik, yang mengirimkan adrenalin dan bahan kimia lain yang disebut katekolamin untuk meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, membuat otot tegang, mengerutkan pembuluh darah dan mempersiapkan tubuh untuk bertindak.

Menurut dr. Samuels, respons stres yang berlebihan dapat merusak sistem kardiovaskular dengan beberapa cara. Selain itu, ketakutan juga dapat menyebabkan serangan jantung klasik pada orang yang sudah berisiko.

“Seseorang yang sudah memiliki kondisi penyempitan arteri 50% mungkin tidak pernah memiliki gejala, tetapi jika mereka tertahan di bawah todongan senjata atau nyaris mengalami kecelakaan mobil, kadar adrenalin mereka dapat naik dan mengacaukan plak itu,” kata dr. Wittstein.

“Plak pecah itu dapat menyebabkan gumpalan darah terbentuk dan sekarang mereka memiliki penyumbatan 100%,” imbuhnya.

Bahkan, lonjakan adrenalin juga dapat mengganggu irama normal jantung, menyebabkan fibrilasi ventrikel, di mana jantung berdetak tidak teratur. Di Amerika Serikat, fibrilasi ventrikel diperkirakan menyebabkan sekitar 75% dari 325.000 kasus kematian jantung mendadak.

Meski begitu, tidak diketahui dengan pasti berapa banyak kematian akibat jantung mendadak yang mungkin terkait dengan ketakutan—karena banyak korban tidak menjalani autopsi. Bahkan jika autopsi dilakukan, bukti stres itu sulit dipahami.

Adrenalin dan Pengaruhnya Pada Jantung

Ketika seseorang ketakutan atau merasa dalam bahaya, otak akan memicu gelombang adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan mendorong tubuh ke mode fight-or-flight—di mana kondisi ini memengaruhi hati dan pankreas, memicu keringat serta mendorong darah ke arah kelompok otot utama.

Menurut dr Vincent Bufalino, cardiologist and president of Advocate Medical Group in Downers Grove, Illinois, lonjakan adrenalin yang lebih berbahaya datang dari respons tubuh terhadap situasi yang mengancam nyawa atau karena stres akibat kehilangan orang yang dicintai.

“Anda bisa mengalami kejadian jantung mendadak yang berhubungan dengan lonjakan adrenalin, akan tetapi sulit untuk mengatakan bahwa Anda bisa mendapatkannya dari seseorang yang mengenakan kostum manusia serigala di depan pintu,” katanya.

Pada dasarnya, ketika tubuh merespons situasi yang menakutkan, berbahaya, atau stres yang tiba-tiba, ia memompa banyak adrenalin ekstra (katekolamin). Dampak buruk kaget atau peningkatan hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis langsung pada tubuh.

Beberapa efek khas adalah peningkatan detak jantung, tekanan darah, kadar glukosa darah dan reaksi umum dari sistem saraf simpatik yang memberi tahu tubuh apakah harus berlari atau melawan.

Kondisi ini juga memengaruhi sistem kelistrikan jantung sehingga dapat menyebabkan aritmia, penyempitan pembuluh darah (bahkan ketika tidak ada penyumbatan) atau kejang yang dapat menyebabkan fungsi jantung menurun. Dalam hal ini, otot jantung mungkin berhenti berdetak dan tidak memompa darah secara efisien seperti yang diperlukan.

Untungnya, dalam kebanyakan kasus kondisi ini dapat diatasi dan fungsi jantung kembali normal dari waktu ke waktu. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi dapat menyebabkan kematian mendadak.

“Apakah Anda memiliki penyakit jantung atau tidak, kemungkinan kematian mendadak akibat ketakutan sangat jarang. Dan sulit untuk memprediksi siapa yang akan lebih mungkin mengalami peristiwa seperti itu,” kata ahli bedah jantung Cleveland Clinic, dr A. Marc Gillinov.

 

  1. American Heart Association News. 2018. Can you really be scared to death?. https://www.heart.org/en/news/2018/10/31/can-you-really-be-scared-to-death. (Diakses pada 6 Januari 2020).
  2. It’s True — You Can Be ‘Scared to Death’. https://health.clevelandclinic.org/its-true-we-can-be-scared-to-death/. (Diakses pada 6 Januari 2020).
  3. The Wall Street Journal. 2012. Can you literally be scared to death? Science says yes. https://www.foxnews.com/health/can-you-literally-be-scared-to-death-science-says-yes. (Diakses pada 6 Januari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi