Terbit: 5 Mei 2018
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Pesatnya perkembangan teknologi akhir-akhir ini ternyata dibarengi juga dengan pesatnya perubahan gaya hidup masyarakat modern. Hari ini, tren foto selfie sudah merebak ke seluruh lapisan masyarakat. Beberapa orang mengakui jika mereka mengunggah status atau foto-foto selfienya dengan harapan menarik perhatian hingga mendapatkan popularitas. Namun, banyak pengguna media sosial yang ternyata memiliki obsesi dengan refleksi dari rupanya sendiri. Apakah hal ini masuk dalam kategori narsistik?

Memahami Jalan Pikiran Seorang Narsistik

Seperti dikutip dari Psychologytoday, untuk mendiganosis apakah seseorang masuk dalam kategori narsis adalah dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD), di mana orang tersebut harus menunjukkan beberapa ciri-ciri sebagai berikut.

  • Memiliki kepentingan diri sendiri yang berlebihan dan membesar-besarkan prestasi serta bakat.
  • Merasa memiliki kekuatan tak terbatas, kesuksesan, kecemerlangan, kecantikan, atau cinta yang ideal.
  • Membutuhkan kekaguman yang berlebihan.
  • Mengharapkan perlakuan khusus yang menyenangkan atau sesuai dengan keinginannya.
  • Memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi.
  • Tidak memiliki empati terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.
  • Memiliki perilaku yang arogan.

Selain beberapa ciri diatas, ada juga kategori narsis lain yaitu “Closet Narcissist“. Seseorang yang masuk dalam narsis kategori ini memiliki rasa percaya diri yang rendah, sering dilanda depresi dan mengalami kekosongan batin. Narsis kategori ini mungkin tampak pemalu, rendah hati atau sering cemas, karena kadar emosionalnya ditentukan oleh bentuk ideal yang diberikan orang lain.

Selain itu, ada kategori narsis “ganas”. Kategori ini cenderung menujukkan perilaku antisosial dan sikap bermusuhan. Narsis tipe ini dapat menjadi kejam dan pendendam ketika merasa terancam atau tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Penyebab Munculnya Narsistik

Tidak mendapatkan pengasuhan sejak kecil oleh seorang ibu ternyata memainkan peran dalam perkembangan narsistik. Sementara itu, pendapat lain mengungkapkan bahwa seorang ibu yang terlalu memanjakan anaknya juga bisa mengembangkan sifat narsistik. Sementara penelitan lain mengungkapkan, bahwa tindak kekerasan yang dilakukan orang tua juga berperan. Meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan, studi mengungkapkan adanya korelasi sebesar 64 persen perilaku narsistik dengan komponen genetik.

Seorang psikoanalis Heinz Kohut mengatakan, seorang narsis sebenarnya mengalami keterasingan, ketidakberdayaan, dan kurangnya makna menjalani hidup. Seorang narsis tidak memiliki struktur mental kuat untuk menjaga citra diri yang positif  guna memberikan identitas yang stabil.

Seorang narsis tidak yakin batas antara diri mereka dan orang lain. Diri yang dimaksud di sini adalah diri yang dipisahkan oleh rasa malu—yang terdiri dari diri yang bertindak superior, diri yang megah, dan rendah diri. Ketika diri yang direndahkan berada dalam posisi inferior, malu bermanifestasi dengan mengidealisasikan orang lain. Ketika individu berada dalam posisi superior, membela terhadap rasa malu, diri yang agung menyatu dengan kritik batin dan merendahkan orang lain melalui mekanisme pertahanan diri.

Sementara itu, banyak orang narsis adalah orang yang perfeksionis. Mereka tidak benar-benar menghargai orang lain. Seorang narsis berharap bahwa orang-orang di sekitarnya memenuhi kebutuhannya setiap saat. Pribadi narsis juga enggan mendengar kata ‘tidak’ dan selalu berharap orang lain tahu kebutuhannya tanpa harus bertanya.

Menyenangkan hati seorang narsistik seperti mencoba mengisi lubang tanpa dasar. Saat seorang narsis merasa senang, biasanya mereka akan segera meremehkan semuanya dan menutut lebih dari orang lain. Lantas, bagaimana jika dua orang narsis sedang berkumpul? Ketika dua orang narsisis berkumpul, mereka akan “berkelahi” mengenai kebutuhan siapa yang dipenuhi lebih dulu dan menyalahkan satu sama lain. Meski begitu, mereka saling membutuhkan.

Menangani Sifat Narsistik

Psikoterapi adalah sebuah metode yang dapat membantu mengatasi narsistik. Tujuannya adalah untuk membangun harga diri, serta menuntun mereka untuk memiliki harapan yang lebih realistis. Tidak ada obat untuk mengobati gangguan mental narsistik, tetapi jika ada gejala depresi dan kecemasan yang kadang-kadang berjalan beriringan dengan narsis, ada obat yang membantu untuk mengatasi kondisi sesuai dengan gejala yang mengiringi.

Jika gejala depresi lebih dominan, maka penderita diberikan obat antidepresan, sedangkan jika kecemasan yang dominan maka akan diberikan obat gangguan kecemasan. Tentunya, peresepannya harus diberikan oleh dokter psikiatri.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi