Terbit: 12 Januari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Melioidosis atau dikenal juga sebagai penyakit Whitmore adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Burkholderia pseudomallei. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasi penyakit ini.

Melioidosis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Melioidosis?

Melioidosis adalah kondisi mematikan yang dapat memengaruhi manusia dan hewan. Penyebab infeksi ini adalah bakteri Burkholderia pseudomallei yang dapat menyebar melalui kontak dengan air dan tanah yang terkontaminasi. Penyakit ini berpotensi menyebar ke area yang biasanya tidak ditemukan. Oleh karena itu, B. pseudomallei juga telah diidentifikasi sebagai senjata biologis yang potensial.

Penyebab Melioidosis

Kuman melioidosis yang disebut Burkholderia pseudomallei (sebelumnya dikenal sebagai Pseudomonas pseudomallei) adalah penyebab utama penyakit ini.

Bakteri tersebut ditemukan di air dan tanah yang terkontaminasi dan menyebar ke manusia dan hewan melalui kontak langsung dengan sumber yang terkontaminasi, terutama jika ada luka kecil di kulit.

Penyakit ini jarang menyebar dari satu orang ke orang lain dan bakteri dapat hidup selama bertahun-tahun di tanah dan air yang terkontaminasi.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Faktor Risiko Melioidosis

Berikut ini adalah beberapa faktor yang mengembangkan risiko penyakit ini, antara lain:

  • Diabetes.
  • Penyalahgunaan alkohol.
  • Penyakit ginjal kronis.
  • Penyakit hati.
  • Talasemia.
  • Konsumsi kava.
  • Kanker atau kondisi yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh (namun tidak terkait dengan HIV).
  • Penyakit paru-paru kronis (seperti fibrosis kistik, penyakit paru obstruktif kronik, atau dan bronkiektasis).

Faktor risiko lain yang mungkin berkontribusi terhadap infeksi virus melioidosis termasuk penggunaan steroid, terapi imunosupresif, penyakit jantung reumatik, gagal jantung kongestif, hemosiderosis paru, penyakit granulomatosa kronik, dan tuberkulosis.

Gejala Melioidosis

Gejala penyakit ini bervariasi tergantung pada jenis infeksinya. Secara umum, dibutuhkan waktu dua hingga empat minggu untuk gejala muncul setelah terpapar bakteri. Namun, gejala mungkin memerlukan waktu berjam-jam atau bertahun-tahun untuk muncul, dan beberapa orang menderita penyakit ini tanpa gejala.

Berikut beberapa gejala yang bisa terjadi berdasarkan jenisnya, di antaranya:

  • Infeksi Paru. Tanda dan gejala paling sering berasal dari penyakit paru-paru dimana infeksi dapat membentuk rongga nanah (abses). Efek dari infeksi paru dapat berkisar dari bronkitis ringan hingga pneumonia berat. Akibatnya, pasien juga bisa mengalami demam, sakit kepala, kehilangan nafsu makan (anoreksia), batuk, sesak napas, nyeri dada, dan nyeri otot umum.
  • Infeksi yang terlokalisasi: Efeknya juga dapat dilokalisasi pada infeksi kulit (selulitis) dengan nyeri atau bengkak, ulserasi, dan abses, yang disertai demam serta nyeri otot.
  • Infeksi aliran darah: Jika bakteri memasuki aliran darah, gejalanya bisa berupa demam, sakit kepala, gangguan pernapasan, ketidaknyamanan perut, nyeri sendi, dan disorientasi.
  • Disseminated infection atau infeksi diseminata: Penyakit ini dapat menyebar dari kulit melalui darah menjadi bentuk kronis melioidosis yang memengaruhi jantung, otak, hati, ginjal, sendi, dan mata. Gejala infeksi yang sudah menyebar adalah munculnya demam dan berat badan menurun.

Insiden Melioidosis

Berikut ini adalah berbagai keadaan yang membuat penyebaran penyakit ini semakin tinggi, di antaranya:

Lokasi

Beberapa pakar menduga bahwa penyakit ini tidak berkembang di daerah tropis dan subtropis. Area dengan kasus penyakit ini yang paling banyak dilaporkan adalah:

  • Thailand
  • Malaysia
  • Singapura
  • Australia Utara

Penyakit melioidosis juga umum terjadi di Vietnam, Papua Nugini, Hong Kong, Taiwan, dan sebagian besar India, Pakistan, dan Bangladesh.

Cuaca

Meski bisa terjadi di daerah kering, penyakit ini paling sering terjadi setelah hujan lebat, topan, angin monsun, atau banjir. Pneumonia adalah gejala pertama yang umum selama periode ini.

Orang dengan Risiko Tertinggi

Orang-orang yang paling mungkin melakukan kontak dengan B. pseudomallei di air atau tanah, antara lain:

  • Personil militer.
  • Pekerja di bidang konstruksi, pertanian, perikanan, dan kehutanan.
  • Seseorang yang menghabiskan waktu kurang dari seminggu di daerah di mana penyakit menyebar.

Hewan yang Paling Terpengaruh

Selain kontak dengan air dan tanah yang terkontaminasi, hewan dapat terkontaminasi bakteri dari susu hewan yang terinfeksi, urine, feses, sekresi hidung, dan luka. Hewan yang paling sering terkena dampak adalah:

  • Domba
  • Kambing
  • Babi

Hewan lain yang juga telah dilaporkan terpengaruh penyakit ini adalah kuda, kucing, anjing, sapi, ayam, marsupialia, ikan tropis, dan iguana.

Diagnosis Melioidosis

Penyakit ini bisa menyerang semua organ dan dapat menyerupai banyak penyakit lainnya. Oleh karena itu, kesalahan diagnosis bisa berakibat fatal.

Kultur bakteri B. pseudomallei dianggap sebagai gold standard diagnostic test. Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari darah, dahak, nanah, urine, cairan sinovial (ditemukan di antara persendian), cairan peritoneal (ditemukan di rongga perut), atau cairan perikardial (ditemukan di sekitar jantung), untuk diuji di laboratorium.

Baca Juga: 10 Cara Meningkatkan Kekebalan Tubuh (Terhindar dari Virus & Bakteri)

Pengobatan Melioidosis

Perawatan mungkin berbeda-beda tergantung pada jenisnya. Tahap pertama pengobatan untuk penyakit ini adalah pemberian antibiotik melalui jalur intravena (IV) selama 10 sampai 14 hari. Selain itu, dokter mungkin meresepkan:

  • Ceftazidime diberikan setiap enam sampai delapan jam.
  • Meropenem diberikan setiap delapan jam.

Tahap kedua pengobatan adalah tiga hingga enam bulan dari salah satu dari dua antibiotik oral ini:

  • Sulfamethoxazole-trimethoprim diminum setiap 12 jam.
  • Doxycycline diminum setiap 12 jam.

Pencegahan Melioidosis

Hingga saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit ini. Seseorang yang tinggal atau bepergian di mana penyakit ini sering terjadi, harus mengambil tindakan berikut untuk mencegah infeksi, di antaranya:

  • Kenakan sepatu bot dan sarung tangan tahan air saat melakukan aktivitas di tanah atau air.
  • Hindari kontak dengan tanah dan genangan air jika Anda memiliki luka terbuka, diabetes, atau penyakit ginjal kronis.
  • Jika meminum produk susu, pastikan produk tersebut telah dipasteurisasi.
  • Dapatkan skrining untuk penyakit ini jika Anda akan memulai terapi imunosupresif.

 

  1. Cunha, John P. Melioidosis (Whitmore’s Disease). https://www.medicinenet.com/melioidosis/article.htm#what_is_melioidosis__what_causes_melioidosis. (Diakses pada 12 Januari 2021).
  2. McDowell, Sandy. 2018. Everything You Need to Know About Melioidosis. https://www.healthline.com/health/melioidosis#causes. (Diakses pada 12 Januari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi