Masokis, Kelainan Seksual yang Harus Diwaspadai

Doktersehat-masokis

DokterSehat.Com– Apa itu masokis? masokis atau masokisme adalah kelainan seksual di mana seseorang akan merasa puas atau gairahnya memuncak jika disakiti atau direndahkan.

Masokis merupakan bagian dari parafilia, kelainan parafilia sendiri terkait dengan dorongan, perilaku, dan keinginan untuk membangkitkan gairah seksual yang kuat lewat perilaku seks yang menyimpang.

Biasanya pelaku masokis kerap dikaitkan dengan perilaku sadisme karena kebanyakan pelaku sadisme berhubungan dengan masokis untuk mendapatkan kepuasan seksual secara timbal balik. Pelaku sadisme bisa mendapatkan kepuasan dengan menyakiti pasangannya sedangkan seorang masokis bisa merasa puas saat dirinya disakiti atau direndahkan.

baca juga: Tanda Anak Mengalami Pelecehan Seksual

Perilaku masokis biasanya kerap dilakukan dengan mengikat atau menyakiti diri sendiri ketika berfantasi seks atau melakukan masturbasi. Sedangkan dalam berhubungan intim dengan pasangan, seorang masokis juga bisa meminta untuk membatasi gerak dengan mengikat, menutup mata, mencambuk, bahkan memukul.

Aktivitas masokisme yang paling berbahaya adalah hipoksifilia, di mana penderita terangsang secara seksual dengan dikurangi konsumsi oksigennya, misalnya dengan menggunakan jerat, kantung plastik, bahan kimia, atau tekanan pada dada. Aktivitas ini tak jarang menimbulkan kematian.

Perlu diketahui, masokis bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti trauma saat masih anak-anak, keluarga yang tidak harmonis, dan faktor pergaulan. Kelainan seksual ini juga bisa terjadi pada seseorang yang memiliki latar belakang kehidupan yang normal.

Penderita masokis cenderung menghindarkan diri dari kesenangan dan lebih tertarik dengan penderitaan. Mereka lebih senang memancing amarah dan penolakan serta menolak bantuan orang lain.

Dibanding wanita, pria justru lebih banyak terlibat dalam perilaku masokis. Wanita cenderung menyukai bentuk masokis seksual ringan seperti pukulan ringan. Sedangkan pria menyukai tindakan yang melecehkan status mereka sebagai pria.

Hingga kini, belum ada penelitian yang menunjukkan sumber penyebab dari perilaku masokis ini. Namun beberapa teori menjelaskan bahwa masokis terkait kelainan parafilia pada umumnya, yang timbul karena adanya fantasi seksual yang tidak terbendung.

Teori lain menyatakan bahwa perilaku masokis merupakan bentuk pelarian seorang individu ketika dirinya memiliki peran berbeda saat bercinta. Penderita masokis akan merasa menjadi orang baru dan berbeda.

Sementara itu, perilaku masokis juga bisa terbentuk apabila Anda sering mendapatkan  aktivitas seksual yang menyenangkan terhadap situasi dan objek tertentu, sehingga terbentuklah penyimpangan seksual pada situasi dan objek tersebut.

Pencegahan dan Penanganan Perilaku Masokis

Pencegahan perilaku masokis bisa dimulai dari anak-anak, ajarkan mereka mengenali perilaku orang dewasa yang tidak pantas untuk dilakukan, cara menolak bujukan dan berani melaporkan perilaku tercela pada orang tua.

Penting juga untuk mengajarkan anak-anak bersikap tegas untuk mengatakan ‘tidak’ jika ada orang dewasa yang berbicara atau menyentuhnya–sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.

Sementara intevensi untuk orang dewasa titik beratnya adalah pada pemaparan terhadap ingatan atas trauma tersebut melalui diskusi atmosfer terapeutik yang aman dan suportif.

baca juga: Pelecehan Seksual Bukan Hanya Dari Tindakan, Tapi Juga Dari Hal ini

Selain itu, penanganan lain yang bisa dilakukan pada penderita gangguan masokis biasanya dengan melibatkan obat-obatan dan psikoterapi.

  • Obat medis

Obat penurun kadar testosteron akan berguna mengurangi frekuensi ereksi. Selain itu, obat antidepresan juga bisa diberikan untuk mengurangi gairah seksual. Namun pemberian obat-obatan medis ini harus berdasarkan pertimbangan dokter

  • Psikoterapi

Psikoterapi bertujuan untuk mengungkap dan mengatasi penyebab perilaku penyimpangan masokis. Psikoterapi umumnya dalam bentuk terapi kognitif yang meliputi perbaikan gangguan pola pikir dan latihan empati.

Perbaikan gangguan pola pikir yang dimaksud adalah terapi untuk memperbaiki keyakinan pasien yang dapat memicu tindakan dan pemikiran yang negatif atau berbahaya.

Sedangkan, latihan empati adalah latihan untuk membantu penderita mengambil sudut pandang dari para korban masokis seksual. Hal ini bertujuan agar penderita masokis dapat memahami potensi bahaya yang dapat terjadi.