Terbit: 18 Mei 2020 | Diperbarui: 19 Mei 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter


Masokis adalah salah satu penyimpangan seksual yang bisa menyakitkan dan bahkan berisiko kematian. Perilaku menyimpang biasanya kerap dilakukan dengan mengikat atau menyakiti diri sendiri ketika berfantasi seks atau melakukan masturbasi. Selengkapnya baca terus untuk mengetahui apa itu masokis, gejala, penyebab, hingga cara mengatasi di bawah ini!

masokis-doktersehat

Apa Itu Masokis?

Masokis adalah kelainan seksual di mana seseorang akan merasa puas atau gairahnya memuncak jika disakiti atau direndahkan. Istilah ini diambil dari nama Chevalier Leopold von Sacher-Masoch, seorang Austria yang banyak menulis tentang kepuasan yang diperoleh dengan dipukul dan ditindas.

Masokis merupakan bagian dari parafilia, kelainan parafilia sendiri terkait dengan dorongan, perilaku, dan keinginan untuk membangkitkan gairah seksual yang kuat lewat perilaku seks yang menyimpang.

Biasanya pelaku kelainan seksual ini kerap dikaitkan dengan perilaku sadisme karena kebanyakan pelaku sadisme berhubungan dengan masokis untuk mendapatkan kepuasan seksual secara timbal balik. Pelaku sadisme bisa mendapatkan kepuasan dengan menyakiti pasangannya sedangkan seorang penderitanya bisa merasa puas saat dirinya disakiti atau direndahkan.

Aktivitas masokisme yang paling berbahaya adalah hipoksifilia, di mana penderita terangsang secara seksual dengan dikurangi konsumsi oksigennya, misalnya dengan menggunakan jerat, kantong plastik, bahan kimia, atau tekanan pada dada. Aktivitas ini tak jarang menimbulkan kematian.

Gejala Masokis

Berikut ini adalah beberapa gejala yang ditimbulkan dari seorang pengidap masokis:

  • Memiliki gairah seksual berulang dan intens seperti dipukul, diikat, dihina, atau dari bentuk penyiksaan lainnya.
  • Memiliki fantasi seksual yang intens dan berulang, dorongan seksual, perilaku dari tindakan dihina, dipukuli, diikat, atau dibuat menderita, perilaku tersebut setidaknya selama enam bulan.
  • Kelainan seksual ini secara signifikan mengakibatkan masalah dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya dalam kehidupan sehari-hari.

Penyebab Masokis

Tidak ada teori yang secara universal yang menjelaskan apa penyebab penyimpangan seksual ini. Namun, ada beberapa teori berusaha menjelaskan keberadaan paraphilia seksual pada umumnya.

Berikut beberapa teori yang mungkin menjadi penyebab masokis:

1. Trauma

Menurut teori yang berasal dari psikoanalisis menunjukkan bahwa trauma masa kanak-kanak seperti pelecehan seksual atau pengalaman masa kecil yang signifikan, dapat memicu penyimpangan seksual ini.

Seiring waktu, pengalaman tersebut dapat mengindikasikan untuk memiliki kecenderungan penyimpangan seksual yang justru menikmati kesakitan dari trauma atau pelecehan seksual.

2. Pelarian

Teori lain menunjukkan bahwa perilaku sadomasokistik (aktivitas seksual yang menyiksa pasangan) adalah bentuk pelarian. Melalui fantasi seksualnya, pengidap akan merasa baru dan berbeda.

3. Fantasi Seksual

Penyimpangan seksual awalnya mungkin karena memiliki fantasi seksual terlarang, gairahnya akan menjadi lebih kuat ketika ditekan. Ketika mempraktikannya, seseorang dalam keadaan tertekan akan semakin terangsang. Dalam kasus masokisme seksual, perilaku masokistik menjadi terkait erat dengan perilaku seksual.

4. Kekerasan Seksual

Meskipun sepenuhnya tidak dapat dipastikan, memiliki pengalaman buruk terhadap kekerasan seksual dapat menjadi penyebab seseorang mengidap masokis. Selain kekerasan seksual, pengalaman yang menjadi pemicunya juga bisa dikarenakan kekerasan fisik hingga kesedihan yang mendalam.

5. Faktor Lingkungan

Kelainan seksual ini dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang memengaruhi pola pikir, perilaku, kecenderungan seksual dan gaya hidup. Faktor lingkungan ini bisa didapat karea masalah keluarga, kekerasan, atau masalah lainnya yang memicu seseorang menjadi masokis.

Baca Juga: Pelecehan Seksual: Jenis-Jenis dan Cara Mengatasinya

Seberapa Umum Gangguan Masokis?

Prevalensi gangguan masokis pada umumnya tidak diketahui. Namun, sebuah penelitian di Australia memperkirakan bahwa sekitar 2,2% pria dan 1,3% wanita telah terlibat dalam perbudakan dan disiplin (BDSM), setidaknya selama 12 bulan.

Mereka yang mengidap masokis adalah di usia rata-rata 19,3 tahun, meskipun mungkin juga terjadi pada usia yang lebih dini. Sampai saat ini tidak banyak yang diketahui tentang kelainan seksual ini, tetapi seiring waktu ada kemungkinan bahwa gangguannya berbeda-beda terkait usia dan mungkin perilaku meyimpang ini akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

Cara Seorang Masokis Mendapatkan Kepuasan Seksual

Kegiatan masokis adalah cara yang disukai atau secara khusus untuk menghasilkan kesenangan seksual. Biasanya, orang-orang yang mengidap kelainan ini akan mendapatkan kepuasan seksual dengan cara berikut:

  • Mengikat diri sendiri
  • Menusuk kulit
  • Menerapkan kejutan listrik
  • Membakar diri sendiri

Selain itu, seorang masokis akan mencari pasangan yang mungkin sadis secara seksual, dengan cara berikut:

  • Diikat
  • Dipukul
  • Ditutup matanya
  • Dipermalukan dengan dikencingi atau buang air besar
  • Pemerkosaan yang disimulasikan

Cara Mengatasi Masokis

Perawatan gangguan mental ini biasanya melibatkan psikoterapi dan pengobatan. Tujuannya adalah untuk mengungkap melalui penyebab perilaku yang menyebabkan stres.

Berikut ini adalah beberapa cara mengatasi masokis:

  • Obat-Obatan

Obat penurun kadar testosteron akan berguna mengurangi frekuensi ereksi. Selain itu, obat antidepresan juga bisa diberikan untuk mengurangi gairah seksual. Namun pemberian obat-obatan medis ini harus berdasarkan pertimbangan dokter.

  • Psikoterapi

Cara mengatasi masokis berikutnya dengan psikoterapi yang bertujuan untuk mengungkap dan mengatasi penyebab perilaku penyimpangan masokis. Psikoterapi umumnya dalam bentuk terapi kognitif yang meliputi perbaikan gangguan pola pikir dan latihan empati.

Perbaikan gangguan pola pikir yang dimaksud adalah terapi untuk memperbaiki keyakinan pasien yang dapat memicu tindakan dan pemikiran yang negatif atau berbahaya.

Sedangkan latihan empati adalah latihan untuk membantu penderita mengambil sudut pandang dari para korban. Hal ini bertujuan agar penderita dapat memahami potensi bahaya yang dapat terjadi.

Baca Juga: 7 Cara Menghadapi Trauma Pasca Pelecehan Seksual

Pencegahan Masokis

Pencegahan perilaku menyimpang ini bisa dimulai dari anak-anak, mengajarkan mereka mengenali perilaku orang dewasa yang tidak pantas untuk dilakukan, cara menolak bujukan dan berani melaporkan perilaku tercela pada orang tua.

Penting juga untuk mengajarkan anak-anak bersikap tegas untuk mengatakan ‘tidak’ jika ada orang dewasa yang berbicara atau menyentuhnya–sehingga membuatnya merasa tidak nyaman.

Sementara intervensi untuk orang dewasa di titik beratnya adalah pada pemaparan terhadap ingatan atas trauma tersebut melalui diskusi atmosfer terapeutik yang aman dan suportif.

 

  1. Anonim. 2018. Paraphilias. https://www.webmd.com/sexual-conditions/guide/paraphilias-overview#1. (Diakses pada 18 Mei 2020)
  2. Anonim. 2019. Sexual Masochism Disorder. https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/sexual-masochism-disorder. (Diakses pada 18 Mei 2020)
  3. Patricelli, Kathryn. Tanpa tahun. Sexual Masochism Disorder. https://www.pbmhmr.com/poc/view_doc.php?type=doc&id=586&cn=98%5C%22. (Diakses pada 18 Mei 2020)
  4. Brown, George R. 2019. Sexual Masochism Disorder. https://www.msdmanuals.com/home/mental-health-disorders/sexuality-and-sexual-disorders/sexual-masochism-disorder. (Diakses pada 18 Mei 2020)
  5. Grohol, John M. 2019. Sexual Masochism & Sadism Disorder Symptoms. https://psychcentral.com/disorders/sexual-masochism-sadism-symptoms/. (Diakses pada 18 Mei 2020)



DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi