Terbit: 17 Desember 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Pria dewasa atau mereka yang sudah tua mungkin sudah umum mengalami gangguan pada kemampuan ereksi, gangguan prostat, hingga masalah pada kandung kemih. Mereka yang masih bayi, anak-anak, dan remaja juga memiliki masalah urologi yang hampir sama meski secara spesifik ada perbedaan yang akan terjadi.

Masalah Urologi yang Sering Menimpa Anak Laki-laki dan Remaja

Meski anak-anak atau remaja pria bisa memiliki gangguan pada saluran kemih dan reproduksinya, penyembuhan bisa segera dilakukan. Asalkan segera diketahui, kesembuhan bisa segera didapatkan sehingga tidak mengganggu kehidupan seks dan reproduksi di kemudian hari.

Masalah urologi yang dialami oleh anak dan remaja pria

Masalah urologi pada remaja pria dan anak-anak cukup banyak dan semua orang tua harus mengetahuinya. Berikut beberapa jenis gangguan yang harus diwaspadai:

  1. Testis tidak mau turun

Testis yang normal biasanya akan turun dan menggantung sehingga skrotum terlihat lebih berisi. Kalau testis anak tidak menggantung, kemungkinan terjadi gangguan sehingga operasi harus dilakukan agar tidak memicu gangguan lainnya. Salah satu gangguan yang bisa terjadi adalah kanker.

Kondisi ini bisa terlihat pada bayi dengan usia 6 bulan. Pada usia ini biasanya testis sudah mulai turun dan bisa dirasakan. Kalau saat usia 6 bulan belum ada perubahan, segera periksakan ke dokter agar diketahui ada atau tidaknya gangguan pada kemaluan bayi yang baru saja lahir.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

  1. Hydrocele

Hydrocele adalah cairan yang terkumpul di skrotum dan menyebabkan area ini jadi menggembung. Sebenarnya kondisi ini akan hilang sendiri seiring dengan berjalanya waktu. Kalau dibiarkan, maka akan tetap memberikan masalah pada beberapa orang khususnya yang sudah dewasa.

Skrotum yang membesar abnormal juga bisa menjadi tanda dari tumor dan penyakit menular seksual. Jadi, kalau cairan di skrotum berlebihan, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri.

  1. Torsi pada testis

Torsi penis adalah kondisi testis jadi terpelintir. Akibatnya aliran darah ke organ ini jadi tidak terjadi dan menyebabkan rasa sakit. Torsi ini muncul karena testis sudah mulai berat dan remaja pria mulai banyak bergerak untuk beraktivitas. Kondisi ini memicu testis jadi terpelintir dan susah dikembalikan.

Masalah urologi ini sangat berbahaya kalau tidak segera diatasi. Pasalnya, testis yang tidak mendapatkan aliran darah akan mati dan tidak berfungsi lagi. Oleh karena itu tindakan medis harus dilakukan dengan benar. Kalau sampai testis rusak, pria bisa mengalami penurunan kesuburan.

  1. Epididimitis

Epididimitis adalah inflamasi pada prostat yang menyebabkan gangguan berupa rasa sakit hingga kemungkinan terjadi perdarahan bersama dengan air mani yang keluar. Kondisi epididimitis ini bisa terjadi karena infeksi penyakit menular seksual, stres berlebihan, dan infeksi saluran kemih yang parah.

Kondisi epididimitis ini akan menyebabkan kerusakan kalau tidak segera diatasi. Kalau masalah urologi ini segera disembuhkan, maka tidak akan mendapatkan dampak yang permanen. Kondisi epididimitis ini biasanya terjadi pada remaja usia 14 tahun. Pada usia ini, anak akan mulai aktif secara seksual meski hanya masturbasi saja.

  1. Kanker testis

Kanker testis juga bisa terjadi pada remaja pria yang sedang tumbuh. Dari beberapa penelitian usia 15-33 tahun adalah yang paling rentan mengalami gangguan pada skrotumnya. Oleh karena itu, pemeriksaan testis harus dilakukan dengan rutin. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mencoba mencari ada atau tidaknya gangguan di testis seperti benjolan abnormal.

Meski terdengar berbahaya karena sudah merujuk pada kondisi kanker, pengobatan masalah urologi ini bisa dilakukan dengan mudah. Peluang kesembuhannya bahkan mencapai 98 persen. Kalau kondisi ini bisa segera diatasi, kemungkinan terjadi gangguan kesuburan di masa depan akan rendah.

Cara menjaga kesehatan urologi

Mencegah selalu lebih baik dari pada mengobati. Oleh karena itu, daripada terkena gangguan yang lebih parah lagi, ada baiknya orang tua mengajarkan cara pencegahan pada anak dan remaja laki-lakinya. Berikut beberapa cara menjaga kesehatan urologi yang mudah dilakukan:

  • Tidak sering menahan kencing dan membiarkan area perut bawah terus nyeri dan tidak nyaman. Kalau memang sudah tidak tahan segera berkemih dan kosongkan semuanya. Kalau terus menahan kencing, urine akan mengendap selain itu peluang terjadi infeksi di kandung kemih akan besar. Infeksi ini bisa menyebabkan masalah besar termasuk munculnya inkontinensia.
  • Selalu ganti celana dalam secara rutin minimal satu kalai dalam satu hari. Kalau bisa sampai 2 kali akan lebih baik. Dengan mengganti celana dalam secara rutin, peluang terjadi infeksi akan rendah. Apalagi anak-anak sering tidak bisa mencuci penisnya dengan bersih. Akibatnya ada banyak sekali kuman yang menyebar.
  • Jangan mengonsumsi makanan dan minuman yang menyebabkan gangguan pada kandung kemih. Minuman dengan soda akan menyebabkan gangguan saat berkemih. Pun minuman dengan kandungan kafein tinggi seperti kopi juga membuat beser dan kandung kemih tidak sehat.
  • Selalu penuhi kebutuhan air harian setiap hari. Dalam satu hari setidaknya tetap mengonsumsi sekitar 1-1,5 liter air putih. Selama ini anak-anak dan remaja sering sekali minum minuman yang terlalu manis dan menyebabkan gangguan di saluran kemihnya. Selalu ingatkan anak-anak atau remaja untuk minum air putih setiap hari.
  • Saat anak sudah remaja mulai ajarkan tentang menjaga kebersihan organ kemaluan dengan benar. Misal terkait dengan aktivitas masturbasi, seks yang aman, dan hal lain yang berpotensi menyebabkan gangguan pada urologi. Anak pada usia remaja biasanya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Kesehatan urologi sangat penting untuk pria di masa depan. Selagi masih sangat muda, gangguan atau masalah urologi yang muncul sebisa mungkin segera diatasi. Dengan mengatasi semuanya dengan baik, pria tidak akan mengalami masalah seks dan reproduksi di masa depan sehingga kualitas hidupnya tetap baik.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi