Masakan Serangga, Berbahaya atau Tidak?

masakan-serangga-doktersehat
Photo Source: Twitter/XHIndonesia

DokterSehat.Com– Belakangan ini, tren mengolah serangga menjadi makanan semakin populer di masyarakat seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, kita sebenarnya mengenal beberapa masakan yang dibuat dari serangga seperti keripik jangkrik yang bisa ditemukan di beberapa wilayah. Hanya saja, kini di berbagai belahan dunia semakin berkembang olahan serangga yang dianggap bisa menjadi sumber protein selain daging merah, daging unggas, dan daging ikan.

Mengapa serangga yang dipilih?

Sebuah penelitian memprediksi bahwa pada tahun 2050, dunia akan disesaki dengan 9 miliar penduduk. Semakin banyak manusia, maka semakin besar pula kebutuhan pangan kita. Masalahnya adalah melipatgandakan sumber makanan tidaklah mudah untuk dilakukan. Sebagai contoh, jika ikan di laut terus kita buru, maka lama-kelamaan bisa habis, bukan?

Menjadikan serangga sebagai makanan alternatif dianggap sebagai solusi yang ramah lingkungan, tinggi gizi, dan tidak akan menyedot biaya yang mahal karena memang tersedia dimana-mana. Sayangnya, banyak orang yang masih merasa jijik dan tidak nyaman saat diberi pilihan untuk makan serangga karena menganggapnya sebagai hewan yang kotor dan berpotensi membawa bibit penyakit.

Beberapa jenis serangga yang dikenal luas sebagai pembawa penyakit adalah nyamuk dan lalat. Nyamuk telah dituding menjadi pembawa beberapa penyakit seperti demam berdarah atau malaria. Sementara itu, lalat sering hinggap di tempat yang kotor sehingga tubuhnya dipenuhi dengan sumber penyakit.

Apakah ada manfaat dari makan serangga?

Pakar kesehatan menyebut serangga sebagai salah satu makanan super yang kaya nutrisi seperti protein, mineral, dan asam amino yang bisa memberikan banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh. Selain itu, memproduksi serangga sebagai sumber makanan jauh lebih ramah bagi lingkungan jika dibandingkan dengan membuat peternakan konvensional karena tidak akan menghasilkan efek gas rumah kaca, tidak akan membutuhkan air dalam jumlah banyak, dan tidak akan menghabiskan lahan.

Serangga apa yang layak untuk dikonsumsi?

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, tidak semua serangga layak untuk kita konsumsi. Nyamuk dan lalat yang membawa bibit penyakit misalnya, tentu akan mendapatkan penolakan dari banyak orang jika dijadikan makanan.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Organisasi Pangan Dunia milik PBB (FAO), disebutkan bahwa ada lebih dari 1.900 spesies serangga yang dianggap layak untuk dikonsumsi manusia. Serangga-serangga tersebut berupa ulat, kumbang, lebah, semut, belalang, jangkrik, dan capung.

Di Inggris misalnya, telah ada restoran yang menyajikan laba-laba dan kalajengking sebagai makanan. Memang, masyarakat setempat masih menganggap makanan ini sebagai sesuatu yang tidak biasa, namun, para pemilik restoran ini juga menyiasatinya dengan cara mengombinasikan serangga dengan berbagai masakan yang telah terbiasa dikonsumsi masyarakat setempat. Sebagai contoh, ada menu kumbang macaroni keju, brownies jangkrik, atau serangga yang ditaburkan sebagai topping pizza.

Makanan serangga semakin dinikmati

Dilansir dari BBC, pemilik toko yang menyediakan masakan serangga Crunchy Critters bernama Nick Cooper menyebut popularitas masakan serangga ternyata semakin meningkat. Banyak orang yang penasaran dengan rasa dan manfaat dari serangga sehingga mencobanya. Asalkan diolah dengan benar, banyak orang yang awalnya jijik akhirnya bisa mengonsumsinya.

Nick bahkan menyebut penjualan toko yang didirikannya pada 2012 ini telah mengalami peningkatan penjualan hingga 25 persen setiap tahun. Peminatnya berasal dari sekolah-sekolah atau pusat kebugaran. Selain itu, saat hari-hari perayaan tertentu, penjualan masakan serangganya juga cenderung melonjak tajam.

“Orang-orang sebenarnya sudah tidak lagi kaget dengan makanan serangga. Ke depannya, makanan serangga akan sama populernya dengan sushi. Contohlah saja, udang sebenarnya memiliki bentuk tubuh yang mirip dengan serangga, namun karena sudah dikenal luas memiliki rasa yang enak, orang-orang tetap saja memakannya karena tahu bisa memberikan manfaat bagi tubuh,” terang Nick.