Terbit: 29 Mei 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Tahukah Anda ada berbagai manfaat temu kunci bagi kesehatan? Temu kunci adalah salah satu tanaman herbal asli Indonesia yang digunakan sebagai bumbu masakan hingga jamu tradisional. Ketahui apa saja khasiat temu kunci, kandungan, hingga cara mengolahnya menjadi jamu.

7 Manfaat Temu Kunci bagi Kesehatan dan Kandungannya

Kandungan Temu Kunci

Temu kunci (Boesenbergia pandurata) atau yang disebut juga dengan fingerroot mengandung berbagai komponen bioaktif yang dikaitkan dengan manfaatnya bagi kesehatan. Ketahui apa saja kandungan temu kunci, berikut ini:

  • Senyawa penyusun flavonoid termasuk chalcone, flavanon, dan flavones
  • Gamma-terpinene
  • Geraniol
  • Camphor
  • Beta-ocimene
  • 1,8-cineole
  • Myrcene
  • Borneol
  • Camphene
  • Methyl
  • Cinnamate
  • Terpineol
  • Geranial
  • Neral

Tanaman herbal temu kunci juga mengandung:

  • Senyawa antikanker
  • Senyawa antibakteri
  • Aktivitas antiparasit
  • Aktivitas antiperiodontitis
  • Aktivitas antikariogenik
  • Aktivitas antioksidan
  • Efek antiulcer
  • Aktivitas antitumor
  • Aktivitas antijamur
  • Efek antiinflamasi
  • Aktivitas anti-HIV-1
  • Aktivitas antioksidatif
  • Aktivitas antiobesitas
  • Aktivitas antiamuba

Berbagai penelitian tentang kandungan temu kunci yang dikaitkan dengan manfaat kesehatan masih terus dikembangkan lebih lanjut.

Manfaat Temu Kunci bagi Kesehatan

Temu kunci digunakan sebagai rempah alami, bumbu, dan obat tradisional di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya. Tanaman herbal ini biasa diolah menjadi jamu tradisional untuk tujuan kesehatan. Selain itu, temu kunci juga memiliki wangi khas yang menenangkan sehingga digunakan sebagai antipiretik, aroma terapi, dan analgesik.

Ketahui lebih lanjut tentang khasiat temu kunci, berikut ini:

1. Memiliki Efek Antibakteri

Temu kunci memiliki efek antibakteri dan flavonoid untuk mengatasi infeksi bakteri seperti Helicobacter pylori yang menyebabkan gastritis, dispepsia, dan tukak lambung. Ekstrak Boesenbergia rotunda (L.). juga dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk (Spoilage Bacteria).

Spoilage bacteria adalah grup bakteri yang menyebabkan pembusukan makanan akibat fermentasi dan penguraian makanan. Contoh dari bakteri pembusuk termasuk L.cellobiosus, L.plantarum, dan Staphylococcus. Penelitian lebih lanjut masih dikembangkan terkait bakteri apa saja yang dapat diatasi dengan kandungan bioaktif dari temu kunci.

2. Memiliki Efek Antioksidan

Manfaat temu kunci selanjutnya adalah sebagai sumber antioksidan alami bagi tubuh. Fungsi antioksidan adalah untuk melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Berdasarkan penelitian, aktivitas antioksidan dari temu kunci didapat dari enam senyawa bioaktif ekstrak rimpang B. rotunda yaitu (-) – panduratin A, (-) – 4-hydroxypanduratin A, 2 ´, 6´-dihydroxy-4´-methoxychalcone, 2 ´, 4´-dihydroxy-6´-methoxychalcone, 5-hydroxy-7-methoxyflavanone, dan 5,7-dihidroksiflavanon.

Setiap komponen bioaktif dalam temu kunci memiliki fungsinya masing-masing seperti memberikan efek perlindungan saraf dan mencegah radikal bebas. Bagaimanapun, antioksidan dapat membantu menjaga kesehatan sel-sel dan fungsinya.

3. Mengatasi Gangguan Gigi dan Mulut

Komponen bioaktif dalam temu kunci dapat menghambat formasi biofilm oleh patogen oral (mulut dan gigi). Pembentukan formasi biofilm memicu terjadinya karies gigi, gingivitis, dan periodontitis akibat bakteri Streptococci mutan dan Lactobacillus.

Berdasarkan penelitian pada tahun 2008, ekstrak temu kunci dapat menghambat pembentukan biofilm tersebut dan mencegah kerusakan gigi dan gangguan mulut lainnya. Kandungan pada temu kunci ini juga dijadikan bahan dasar untuk obat kumur dan pasta gigi.

Baca Juga: Empon-Empon: Jenis, Manfaat, Cara Membuat | Penangkal Virus Corona?

4. Mengatasi Obesitas

Temu kunci dipercaya memiliki sifat antiobesitas. Obesitas adalah gangguan metabolisme di mana seseorang kelebihan berat badan dan memiliki risiko tinggi untuk mengembangkan penyakit kronis lainnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tikus, ekstrak temu kunci dapat mengurangi lemak hati yang berefek positif pada penurunan berat badan. Walaupun demikian, seseorang yang menderita obesitas harus memeriksakan diri ke dokter, menjalani pola makan sehat, dan pola hidup baru untuk mengatasi kondisinya.

5. Memiliki Efek Antikanker/Antitumor

Para peneliti masih mencari obat kanker dan potensi kandungan lainnya yang berpotensi untuk mengatasi kanker. Berdasarkan penelitian, temu kunci memiliki efek antikanker dan antitumor dengan potensi penyembuhan yang masih dikembangkan.

Beberapa tanaman herbal seperti temu kunci dan lempuyangan (Zingiber aromaticum) dipercaya memiliki sifat antikanker untuk menekan perkembangan sel kanker payudara dan kanker perut. Walaupun demikian, penelitian tentang manfaat temu kunci ini masih sedikit dan belum diverifikasi secara medis.

6. Menyembuhkan Luka

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tikus, temu kunci memiliki ekstrak etanol untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Temu kunci juga mengandung antibakteri dan antijamur untuk mengatasi luka.

Beberapa kelompok masyarakat tradisional membalut luka dengan ekstrak temu kunci agar luka cepat sembuh. Selain itu, ekstrak temu kunci juga dipercaya dapat menyamarkan noda bekas kulit secara alami.

7. Memiliki Aktivitas Antiamuba untuk Pasien HIV

Kandungan bioaktif pada temu kunci memiliki efek antiamuba yang efektif pada pasien HIV. Amoebiasis adalah infeksi yang menyebabkan diare kronis dan akut pada penderita HIV. Kondisi ini disebabkan oleh Entamoeba histolytica.

Penggunaan obat herbal menjadi salah satu solusi untuk mengatasinya, termasuk tanaman herbal temu kunci, Lempuyang (Zingiber zerumbet), Lengkuas (Alpinia galanga), Barleria lupulina, B. rotunda, sirih (Piper betle), dan Piper chaba. Obat herbal dianggap lebih aman, mudah digunakan, dan terjangkau bagi penderita HIV.

Penelitian terkait manfaat temu kunci bagi kesehatan memang masih terbatas, namun memiliki kandungan yang potensial sebagai obat tradisional. Penelitian lainnya juga masih dikembangkan secara medis.

Baca Juga: 15 Manfaat Jahe untuk Kesehatan dan Kecantikan (Paling Lengkap)

Cara Mengolah Temu Kunci Menjadi Jamu Tradisional

Umumnya, temu kunci diolah menjadi jamu tradisional. Ketahui bagaimana cara mengolah temu kunci, berikut ini:

Bahan-Bahan 

  • 1 liter air
  • 4 ruang rimpang temu kunci
  • 1 ruas kayu manis
  • 1 buah jeruk nipis
  • 5 ruas kencur
  • 5 ruas jahe
  • 5 butir kapulaga
  • 2 batang serai
  • Beberapa lembar daun sirih
  • Beberapa lembar daun beluntas
  • 7 gram atau ¼ ons asam jawa
  • 25 gram gula merah

Cara Mengolah Temu Kunci

  • Geprek atau tumbuk semua bahan rimpang-rimpangan.
  • Masukan semua bahan ke panci berisi air.
  • Tambahkan juga asam jawa, kayu manis, dan gula merah.
  • Panaskan hingga mendidih.
  • Setelah mendidih, matikan api dan diamkan selama 15 menit.
  • Anda dapat menambahkan jeruk nipis atau madu sebagai penambah rasa.
  • Jamu temu kunci siap diminum.

Anda dapat minum jamu temu kunci ini setiap hari atau sesuai kebutuhan. Tanaman herbal ini umumnya aman dikonsumsi namun Anda tetap perlu waspada terhadap risiko reaksi alergi. Selain itu, obat herbal biasanya hanya untuk pemeliharaan kesehatan secara umum. Bila Anda menderita gejala penyakit parah, tetap konsultasi dengan dokter.

 

  1. Health Benefits Times. 2020. All about Fingerroot. https://www.healthbenefitstimes.com/fingerroot/. (Diakses pada 29 Mei 2020).
  2. Nurrachma, et al. 2018. Fingerroot (Boesenbergia pandurata): A Prospective Anticancer Therapy. Indones. J. Cancer Chemoprevent., 9(2), 102-109. (Diakses pada 29 Mei 2020).
  3. Silalahi, Marina. 2017. Boesenbergia rotunda (L.). Mansfeld: Manfaat dan Metabolit Sekundernya. https://www.researchgate.net/publication/313761899_Boesenbergia_rotunda_L_Mansfeld_Manfaat_dan_Metabolit_Sekundernya. (Diakses pada 29 Mei 2020).
  4. Tan Eng-Chong, et al. 2012. Boesenbergia rotunda: From Ethnomedicine to Drug Discovery. https://www.hindawi.com/journals/ecam/2012/473637. (Diakses pada 29 Mei 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi