Cokelat dikenal sebagai camilan dengan rasa yang lezat. Bahkan, kenikmatannya disebut-sebut bisa sampai membuat kita mengatasi stres dan memperbaiki suasana hati. Sebenarnya, bagaimana efek yang diberikan cokelat bagi otak kita sehingga bisa memberikan manfaat kesehatan ini?

efek-makan-cokelat-doktersehat

Dampak Makan Cokelat bagi Otak

Pakar kesehatan Lee Berk dari Loma Linda University, California, Amerika Serikat menyebut cokelat bisa memberikan dampak kesehatan yang sangat besar bagi kondisi otak kita. Manfaat ini bahkan bisa didapat sejak gigitan pertama!

Penelitian ini dilakukan dengan mengukur gelombang otak yang dihasilkan para partisipan setelah mengonsumsi cokelat seberat 48 gram. Cokelat yang dikonsumsi adalah cokelat hitam. Hasilnya adalah, hanya dalam waktu dua jam setelah dikonsumsi, cokelat hitam langsung bisa memberikan efek bagi otak.

Saat kita pertama kali menggigit cokelat, kadar hormon serotonin dan dopamine di dalam otak langsung meningkat dengan drastis. Hal ini akan berimbas positif bagi suasana hati dan membuat kita menjadi lebih berbahagia. Selain itu, kandungan phenylethylamine di dalam camilan ini juga bisa memberikan efek bahagia layaknya saat sedang jatuh cinta.

Pakar kesehatan Darlene Mayo menyebut cokelat bisa memberikan manfaat kesehatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan cokelat jenis lainnya.

“Cokelat hitam memiliki kandungan kakao sekitar 85 persen. Kandungan ini bisa memberikan pengaruh bagi kondisi otak kita, khususnya dalam membuat suasana hati meningkat, menurunkan kecemasan, dan mengatasi depresi,” jelasnya.

Sebenarnya, cokelat putih juga bisa membuat kadar dopamine meningkat, namun efeknya tidaklah sebaik cokelat hitam.

Jangan Dikonsumsi dengan Berlebihan

Meskipun rutin makan cokelat terbukti bisa memberikan banyak manfaat seperti memperbaiki kesehatan mental, mengendalikan kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol jahat, dan membuat sirkulasi darah meningkat, bukan berarti kita bisa sembarangan mengonsumsinya. Pakar kesehatan menyarankan kita untuk membatasinya sekitar 100 hingga 200 gram saja setiap hari.

Selain itu, kita juga sebaiknya memilih cokelat hitam yang lebih tinggi manfaat sehatnya dan tidak sembarangan mengonsumsi cokelat jenis lain, khususnya yang tinggi kandungan gula, lemak, serta kalori tambahan.

Manfaat Kesehatan Lain dari Rutin Makan Cokelat

Pakar kesehatan menyebut ada beberapa manfaat kesehatan yang bisa kita dapatkan jika rutin makan cokelat.

Berikut adalah manfaat-manfaat kesehatan tersebut

  1. Baik bagi Kesehatan Jantung

Kandungan biji kakao di dalam cokelat memiliki senyawa antioksidan flavonoid yang dikenal bisa menurunkan risiko terkena penyakit jantung dengan signifikan. Rutin mengonsumsinya juga akan mencegah datangnya atrial fibrillation, kondisi yang membuat denyut jantung menjadi tidak teratur yang termasuk dalam faktor pemicu datangnya stroke, gagal jantung, dan penyakit kardiovaskular lainnya.

  1. Menjaga Kondisi Otot

Setelah melakukan aktivitas fisik yang berat, cobalah untuk makan cokelat demi membantu proses pemuihan otot berlangsung dengan lebih cepat.

  1. Meningkatkan Fungsi Kognitif

Penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam New England Journal of Medicine pada 2012 silam menghasilkan fakta bahwa rutin makan cokelat bisa membuat fungsi kognitif dan memori otak meningkat dengan signifikan. Hal ini tentu akan membantu kita melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik.

  1. Menjaga Kesehatan Kulit

Anggapan bahwa cokelat bisa memicu masalah kulit seperti jerawat tidaklah benar. Dalam realitanya, kandungan antioksidan yang tinggi di dalamnya mampu menjaga kulit dari paparan buruk sinar ultra violet. Hanya saja, pastikan bahwa cokelat yang dipilih adalah yang rendah gula.

  1. Menjaga Pola makan

Cokelat hitam bisa membuat kita tidak mudah lapar atau tertarik untuk ngemil makanan yang tidak sehat. Hal ini tentu akan membantu keberhasilan program diet.

 

Sumber:

  1. Anonim. 2019. Eating Dark Chocolate Improves Memory, Reduces Inflammation and Stress, Two Studies Say. www.sci-news.com/medicine/dark-chocolate-memory-inflammation-stress-05949.html/ (Diakses pada 20 Desember 2019).