Terbit: 18 Januari 2019 | Diperbarui: 7 Februari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Masyarakat Indonesia dikenal luas sebagai penggemar makanan pedas. Tanpa adanya sambal atau cabai, makanan akan terasa kurang mantap. Bahkan, warung-warung yang menyediakan masakan super pedas juga tetap laris karena banyak orang yang sangat menikmati sensasi panas dan berkeringat saat mengonsumsinya. Hanya saja, ada kabar yang menyebutkan bahwa kebiasaan sering mengonsumsi makanan pedas bisa menyebabkan kanker usus. Apakah kabar ini sesuai dengan fakta medis?

Makanan Pedas Bisa Menyebabkan Penyakit Kanker Usus?

Kaitan antara makanan pedas dengan kanker

Pakar kesehatan menyebut kabar makanan pedas terkait dengan kanker usus tidak benar. Alih-alih memicu kanker, mengonsumsi makanan super pedas lebih terkait dengan iritasi pada lambung. Hal ini disebabkan oleh kemampuan kandungan di dalam cabai untuk memicu iritasi pada bagian dinding dalam mukosa lambung.

Jika sampai hal ini terjadi, maka produksi asam lambung meningkat dan menyebabkan tukak lambung. Jika kita terlalu sering mengonsumsi makanan super pedas ini, ada kemungkinan dinding bagian dalam lambung sampai terluka.

– Iklan –

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

Jika sampai kondisi ini tidak ditangani dengan baik, dikhawatirkan luka pada lambung akan menyebabkan fungsi organ tubuh ini menurun. Hanya saja, hal ini sama sekali tidak terkait dengan kanker usus. Penyakit ini lebih terkait dengan pola makan rendah serat, malas berolahraga, faktor genetik, sering mengonsumsi makanan berlemak, hobi menenggak minuman beralkohol, dan kebiasaan buang air besar yang tidak teratur.

Makanan pedas bisa menyebabkan peradangan pada usus?

Jika kita cermati, setelah mengonsumsi makanan yang sangat pedas, kita akan merasakan gejala seperti perut mulas, ulu hati yang panas, atau bahkan sakit kepala. Bahkan, sebuah penelitian yang dilakukan di Edinburgh, Skotlandia, dan dilakukan dengan melibatkan 20 orang menghasilkan fakta bahwa sebagian partisipan mengalami muntah-muntah, napas yang terengah-engah, berkeringat banyak, hingga jatuh pingsan setelah mengonsumsi makanan pedas.

Pakar kesehatan Prof. Paul Bosland dari New Mexico State University, America Serikat menyebut makanan super pedas memang bisa memberikan dampak kesehatan tersebut. Memang, banyak orang yang kebal dengan makanan pedas sehingga tetap bisa menikmatinya meskipun level kepedasannya sangat luar biasa, namun terlalu sering mengonsumsi makanan ini memang bisa memberikan kerugian tersendiri bagi tubuh kita.

“Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada 1980 silam, dihasilkan fakta bahwa jika kita mengonsumsi 1,3 kg cabai pedas yang sudah dijadikan bubuk secara sekaligus, maka nyawa kita akan terancam,” ucap Prof. Bosland.

Cabai bisa mempengaruhi pencernaan

Jika kita mengonsumsi cabai, maka sistem saraf simpatik yang mengendalikan hampir semua organ-organ dalam tubuh menjadi lebih aktif. Hal ini akan membuat tubuh membutuhkan lebih banyak energi. Tubuh pun akan meresponnya dengan meningkatkan sistem metabolisme. Hal ini juga akan mempengaruhi kondisi pencernaan dengan signifikan.

“Capsaicin di dalam cabai termasuk dalam bahan aktif yang bisa memicu peradangan pada jaringan mukosa lambung. Bahkan, jika konsumsi capsaicin sangat banyak, ada kemungkinan usus mengalami peradangan atau bahkan mengalami kerusakan,” ungkap Prof. John Prescott yang berasal dari Sussex University.

Prof. Prescott juga menyebut dampak dari konsumsi cabai berlebihan inilah yang memicu gejala seperti perut mulas, mual-mual, sensasi melilit pada usus, dan sakit kepala. Selain itu, ia juga menyarankan kita yang memang cenderung tidak kuat atau tidak terbiasa makan pedas untuk tidak sembarangan dalam mengonsumsinya karena dampaknya bisa saja membuat peradangan pada usus. Padahal, jika sampai hal ini terjadi, tak hanya gangguan pencernaan yang akan muncul, bisa jadi sistem kekebalan tubuh menurun dan kita pun akan lebih rentan terkena berbagai penyakit lain yang tidak bisa disepelekan.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi