Terbit: 1 Maret 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Data yang dikeluarkan oleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa diabetes termasuk dalam penyakit yang paling sering menyerang masyarakat Indonesia. Diketahui bahwa setidaknya 12 juta masyarakat Tanah Air dengan usia lebih dari 15 tahun menderita diabetes tipe 2. Masalahnya adalah hanya sekitar 26 persen saja yang sudah terdiagnosis. Kebanyakan orang masih tidak tahu jika dirinya mengidap penyakit tersebut.

Makan Nasi Tiga Kali Sehari Bisa Picu Diabetes, Benarkah?

Penyebab tingginya risiko diabetes masyarakat Indonesia

Data lain yang dikeluarkan oleh International Diabetes Federation pada 2015 silam menyebut jumlah penderita diabetes di Indonesia dengan rentang usia 20 hingga 79 tahun sekitar 10 juta orang.

Hanya sebagian dari jumlah ini yang menyadari dirinya terkena diabetes. Angka ini sangat banyak dan tidak bisa disepelekan. Hal ini membuat banyak orang menduga jika hal ini terkait dengan kebiasaan makan tidak sehat yang sayangnya masih diterapkan oleh masyarakat Indonesia.

Sebagai contoh, banyak orang yang menyebut kebiasaan kita untuk makan tiga kali sehari menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko diabetes, apalagi jika porsi nasi yang dikonsumsi sangat banyak. Padahal, telah ada penelitian yang membuktikan bahwa nasi memang bisa meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2.

Dalam penelitian berjudul White Risk Consumption and Risk of Type 2 Diabetes: Meta-Analysis and Systematic Review yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ pada 2012 silam, disebutkan bahwa kelompok partisipan yang makan nasi lima kali dalam seminggu cenderung memiliki risiko terkena diabetes tipe 2 lebih besar 17 persen dibandingkan dengan partisipan yang makan nasi sebulan sekali.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Penelitian ini juga mengungkap bahwa orang-orang Asia yang bisa makan tiga atau empat porsi nasi dalam sehari cenderung memiliki risiko terkena diabetes 10 persen lebih besar dibandingkan dengan penduduk dari wilayah lain yang lebih jarang mengonsumsi nasi.

Memang, penelitian ini belum benar-benar mengungkap kaitan sebab-akibat dari kebiasaan makan nasi. Hanya saja, pakar kesehatan menyebut nasi memiliki kandungan karbohidrat sederhana yang cenderung mudah diserap oleh tubuh.

Selain itu, indeks glikemik nasi putih yang ada di angka 86 membuktikan bahwa mengonsumsinya akan mampu meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Karena alasan inilah kita sering disarankan untuk menggantinya dengan nasi merah yang memiliki indeks glikemik jauh lebih rendah, yakni 55 demi menurunkan risiko diabetes.

Kebiasaan minum teh dan kopi memicu diabetes

Masyarakat Indonesia dikenal luas sebagai penikmat teh dan kopi. Hal ini disebabkan oleh kayanya variasi kedua minuman ini di Indonesia. Bahkan, teh dan kopi yang berasal dari Indonesia termasuk yang paling berkualitas di seluruh dunia.

Hanya saja, kebiasaan masyarakat Indonesia yang menambahkan gula dalam jumlah banyak di teh atau kopi yang dikonsumsi, termasuk saat memesan minuman ini di tempat makan, membuat kita mengonsumsi gula dalam jumlah yang berlebihan. Padahal, sudah menjadi rahasia umum jika gula bisa meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.

Masyarakat Indonesia termasuk malas bergerak

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan di Stanford University, Amerika Serikat, dihasilkan fakta bahwa masyarakat Indonesia cenderung malas berjalan kaki. Dibandingkan dengan masyarakat Hong Kong yang paling rajin berjalan kaki misalnya, mereka bisa berjalan rata-rata 6.880 langkah setiap hari, jauh dari rata-rata langkah masyarakat Indonesia yang hanya 3.513 langkah saja setiap hari.

Kebiasaan malas bergerak dan dikombinasikan dengan pola makan yang buruk inilah yang akhirnya membuat masyarakat Indonesia cenderung rentan terkena diabetes.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi