Makan Bayam dan Tahu Bersamaan Bisa Berbahaya?

manfaat-bayam-doktersehat-1
Photo Credit: Pexels.com

DokterSehat.Com– Kita tentu pernah melihat pesan berantai yang berisi informasi kesehatan tentang bahaya makan tahu dan bayam bersamaan. Menurut pesan berantai ini, mengonsumsi tahu dan bayam bersamaan bisa menyebabkan terbentuknya kista di dalam tubuh atau bahkan meningkatkan risiko kanker rahim bagi kaum hawa. Sebenarnya, apakah mitos ini memang sesuai dengan fakta medis?

Pakar kesehatan menyebutkan bahwa mitos ini sama sekali tidak benar. Tidak ada kaitan sama sekali antara konsumsi tahu dan bayam dengan munculnya kista. Bayam dikenal luas sebagai makanan yang sangat baik bagi kesehatan tulang dan sistem pencernaan. Sementara tahu kaya akan selenium yang bisa menurunkan risiko kanker usus besar dan isoflavon yang bisa menurunkan risiko kanker lainnya, tepatnya kanker prostat. Mengonsumsi kedua jenis makanan ini di waktu yang hampir bersamaan juga tidak akan menyebabkan kista.

Selain tahu dan bayam, terdapat pula mitos yang menyebutkan bahwa makan tempe dan bayam bersamaan juga bisa berbahaya. Menurut mitos ini, kedua bahan makanan ini kaya akan oksalat sehingga bisa memicu endapan oksalat di dalam usus.

Penelitian membuktikan bahwa bayam dan tempe kaya akan berbagai macam mineral, khususnya kalsium. Kandungan ini bisa membantu menjaga kesehatan tulang. Sementara itu, oksalat ternyata bukan berasal dari makanan, melainkan sejenis senyawa yang terbentuk dari apa yang kita makan, khususnya sayuran dan buah-buahan. Keberadaan oksalat ini bisa membuat tubuh kesulitan untuk menyerap kalsium dari makanan. Jika sampai oksalat mengendap di dalam lambung atau usus, hal ini juga tidak akan membahayakan kesehatan karena pada akhirnya juga akan ikut terbuang saat kita melakukan buang air besar.

Melihat adanya fakta ini, kita tidak perlu khawatir saat akan mengonsumsi tempe dan bayam di dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, rutin mengonsumsi keduanya justru dianggap mampu menurunkan risiko terkena batu ginjal.

Ada banyak sekali informasi kesehatan yang beredar di media sosial atau pesan berantai di aplikasi percakapan. Meski terlihat meyakinkan, pastikan untuk mengeceknya terlebih dahulu karena bisa jadi informasi-informasi tersebut ternyata tidak sesuai dengan fakta medis.