Terbit: 26 Oktober 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pemeriksaan kehamilan adalah sesuatu yang penting dilakukan saat Anda sudah dinyatakan hamil. Hal ini diperlukan untuk mendeteksi masalah kesehatan pada ibu dan janin secara keseluruhan. Simak penjelasan lengkap mengenai berbagai jenis pemeriksaan tersebut.

12 Pemeriksaan Kehamilan yang Wajib Diketahui Bumil

Berbagai Macam Pemeriksaan Kehamilan

Pada dasarnya, pemeriksaan saat hamil berguna untuk memberikan informasi tentang kesehatan dan mengoptimalkan perawatan janin. Ada ibu hamil yang disarankan untuk melakukan berbagai tes, akan tetapi ada juga yang hanya melakukan beberapa pemeriksaan utama saja. Berikut adalah macam-macam pemeriksaan kehamilan, antara lain:

1. Berat dan Tinggi Badan

Pemeriksaan fisik ibu hamil yang pertama adalah menghitung indeks massa tubuh (IMT), yaitu dengan membandingkan antara berat dan tinggi. Jika hasil IMT mengategorikan Anda kelebihan berat badan, maka berisiko tinggi mengalami masalah selama kehamilan.

Pada banyak kasus, seorang wanita akan bertambah berat badan antara 11 sampai 16 kg, peningkatan berat biasanya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu. Sebagian besar kelebihan berat badan disebabkan oleh pertumbuhan bayi, tetapi tubuh Anda juga menyimpan lemak untuk membuat ASI setelah melahirkan.

2. Ultrasonografi

Selama kehamilan biasanya Anda akan ditawari berbagai jenis ultrasonografi, termasuk pemindaian yang digunakan untuk memastikan tanggal lahir, nuchal translucency scan untuk membantu mengetahui risiko bayi mengalami kelainan kromosom, dan anomaly scan untuk mendeteksi ada tidaknya kelainan pada usia kehamilan 20 minggu.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

3. Tes Urine

Pemeriksaan kehamilan dengan mengambil sampel urine diperlukan untuk memeriksa kadar protein di dalamnya. Apabila protein ditemukan di dalam urine, hal ini bisa menandakan bahwa Anda mengalami infeksi yang perlu segera diobati, bahkan kondisi ini juga bisa menjadi tanda preeklamsia

Preeklamsia memengaruhi 5% kehamilan dan dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk kejang. Kondisi ini juga juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan kesehatan janin. Jika keadaan ini tidak mendapatkan penanganan, preeklamsia ini bisa mengancam jiwa.

4. Tes Tekanan Darah

Tekanan darah Anda akan diperiksa setiap kunjungan rutin kehamilan. Peningkatan tekanan darah pada masa kehamilan bisa menjadi tanda preeklamsia. Sementara itu, tekanan darah rendah adalah keadaan yang umum terjadi pada masa kehamilan. Hal ini bukanlah masalah yang serius, akan tetapi mungkin membuat Anda pusing jika bangun dengan cepat. Konsultasi dengan dokter kandungan diperlukan jika Anda mengkhawatirkan hal tersebut.

5. Tes Darah

Sebagai bagian dari perawatan kehamilan, biasanya Anda akan ditawari untuk melakukan tes darah. Sementara jika Anda berisiko mengalami infeksi atau kondisi tertentu, tes ini mungkin harus dilakukan.

6. Skrining untuk HIV, Sifilis, dan Hepatitis B

Anda akan ditawari tes darah untuk tiga penyakit menular yaitu HIV, hepatitis B, dan sifilis. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan saat usia kehamilan memasuki 8 sampai 12 minggu. Tes ini direkomendasikan untuk melindungi kesehatan Anda melalui perawatan dini dan untuk mengurangi risiko penularan infeksi pada janin, pasangan, atau anggota keluarga lainnya.

Baca Juga: Pemeriksaan Kehamilan saat Pandemi COVID-19 (Panduan Aman)

7. Golongan Darah dan Status Rhesus

Tes ini sangat berguna jika Anda perlu mendapatkan darah tambahan, misalnya saat mengalami pendarahan hebat selama kehamilan atau kelahiran. Tes ini juga berguna untuk mengetahui apakah golongan darah Anda rhesus negatif atau rhesus positif.

Wanita dengan rhesus negatif mungkin memerlukan perawatan ekstra untuk mengurangi risiko penyakit rhesus. Penyakit ini dapat terjadi jika wanita hamil dengan rhesus negatif mengembangkan antibodi yang menyerang sel darah bayi. Hal ini dapat menyebabkan anemia dan penyakit kuning pada bayi.

8. Skrining Anemia

Pemeriksaan anemia biasanya dilakukan pada usia kehamilan 28 minggu. Anemia bisa membuat Anda kelelahan dan membuat tubuh tidak bisa mengatasi kehilangan darah saat melahirkan. Apabila hasil tes menunjukkan Anda menderita anemia, biasanya ibu hamil disarankan mengonsumsi zat besi dan asam folat.

9. Diabetes Gestasional

Anda mungkin berisiko lebih tinggi terkena diabetes saat kehamilan jika:

  • Kelebihan berat badan.
  • Pernah menderita diabetes pada kehamilan sebelumnya.
  • Pernah memiliki bayi dengan berat 4,5 kg atau lebih sebelumnya.
  • Memiliki anggota keluarga dengan diabetes.

Jika Anda dianggap berisiko tinggi terkena keadaan ini, Anda mungkin ditawari tes yang disebut oral glucose tolerance test (OGTT).

Jadwal pemeriksaan kehamilan ini biasanya dilakukan saat usia kehamilan 24 sampai 28 minggu. Jika Anda pernah menderita kondisi ini sebelumnya, Anda akan ditawari swa-monitor dini kadar glukosa darah atau melakukan OGTT pada awal kehamilan.

10. Skrining Serviks

Tes ini lebih akurat daripada Pap smear dalam mendeteksi human papillomavirus (HPV), virus umum yang dapat mengubah sel-sel pada leher rahim. Pada kasus yang jarang terjadi keadaan ini dapat berkembang menjadi kanker serviks.

Pemeriksaan fisik ibu hamil ini dapat dilakukan kapan saja selama kehamilan. Konsultasi dengan dokter mungkin diperlukan tentang waktu yang tepat untuk menjalani tes tersebut

11. Infeksi Bakteri Streptococcus

Streptokokus Grup B atau group B streptococcus (GBS) adalah bakteri yang umumnya ditemukan di usus dan vagina. Meski kondisi umumnya tidak menyebabkan masalah pada kehamilan, namun penyakit ini juga bisa menginfeksi janin. Kondisi ini bisa terjadi sebelum atau selama persalinan.

Jika Anda pernah memiliki bayi yang mengalami infeksi GBS, Anda harus mengonsumsi antibiotik selama persalinan untuk mengurangi kemungkinan bayi terkena infeksi.

Selain itu, apabila Anda pernah mengalami group B streptococcal urinary tract infection dengan GBS (sistitis) selama kehamilan, Anda juga harus mengonsumsi antibiotik selama persalinan. Pemeriksaan biasanya dilakukan pada usia kehamilan 36 minggu. 

12. Amniosentesis

Amniosentesis adalah tes yang mengambil sampel kecil cairan ketuban untuk mengidentifikasi masalah kromosom dam open neural tube defects seperti spina bilfida. Tes ini juga dapat digunakan untuk mencari masalah terkait dengan genetik. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada usia kehamilan 15 sampai 20 minggu

Nah, itulah berbagai pemeriksaan kehamilan yang dapat menjadi pilihan untuk memastikan kehamilan aman dan memastikan janin yang dikandung sehat. Meski begitu, tidak semua pemeriksaan wajib dilakukan, konsultasikan dengan dokter kandungan untuk menentukan mana yang sesuai dengan kondisi Anda.

 

  1. Anonim. Antenatal checks and tests. https://www.nhs.uk/conditions/pregnancy-and-baby/antenatal-care-checks-tests/. (Diakses pada 26 Oktober 2020).
  2. Anonim. Routine antenatal tests. https://www.pregnancybirthbaby.org.au/routine-antenatal-tests. (Diakses pada 26 Oktober 2020).
  3. Anonim. Common Tests During Pregnancy. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=85&contentid=P01241. (Diakses pada 26 Oktober 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi