Maag – Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, & Pencegahan

maag-doktersehat

DokterSehat.Com – Gastritis atau yang dikenal dengan penyakit maag adalah suatu kondisi dimana terjadi peradangan pada mukosa (lapisan) dari permukaan lambung. Kadar asam lambung yang berlebihan menyebabkan kerusakan pada dinding lambung. Alhasil, perut tarasa perih, mual, dan kembung.

Penyebab Maag

Maag atau gastritis adalah peradangan yang terjadi di lapisan lapisan dalam perut. Kondisi ini ditandai dengan dinding lambung yang dilapisi lendir yang kemungkinan rusak oleh cairan pencernaan. Sejumlah penyakit dan kondisi mungkin juga meningkatkan risiko penyakit maag, termasuk penyakit Crohn dan sarkoidosis, kondisi di mana kumpulan sel-sel inflamasi tumbuh di dalam tubuh.

Faktor risiko maag

Berikut ini faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko maag, di antaranya:

1. Infeksi bakteri

Meskipun infeksi Helicobacter pylori adalah infeksi manusia yang paling sering dialami, namun hanya beberapa orang penderita infeksi yang mengalami gastritis atau gangguan pencernaan bagian atas lainnya. Dokter meyakini penyakit ini rentan oleh bakteri yang dapat diturunkan atau disebabkan oleh gaya hidup, seperti pola makan dan merokok.

2. Usia yang lebih tua

Orang dewasa yang lebih tua berisiko mengalami maag karena lapisan lambung cenderung mengalami penipisan seiring bertambahnya usia dan lebih mungkin mengalami infeksi H. pylori atau gangguan autoimun.

3. Stres

Kondidi psikologis juga berisiko mengalami maag akut, seperti halnya stres akibat menjalani operasi, mengalami luka bakar, cedera, atau infeksi parah.

4. Terlalu banyak minum alkohol

Minum alkohol dapat mengiritasi dan mengikis lapisan dalam perut dan lebih rentan mengeluarkan cairan pencernaan. Sementara minum alkohol berlebihan cenderung akan menyebabkan maag akut.

5. Sering menggunakan pereda nyeri

Obat penghilang rasa sakit yang biasa dikonsumsi di antaranya, aspirin, ibuprofen dan naproxen, yang dapat menyebabkan maag akut dan maag kronis. Jika sering menggunakan pereda rasa sakit atau terlalu banyak, dapat mengurangi zat utama yang membantu menjaga lapisan pelindung perut.

6. Sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel di perut

Ini disebut penyakit maag autoimun, yang terjadi saat tubuh menyerang sel-sel pembentuk lapisan perut. Sementara reaksi tersebut bisa hilang pada pelindung perut. Maag autoimun lebih sering terjadi pada orang penderita kelainan autoimun, termasuk penyakit Hashimoto dan diabetes tipe 1. Maag autoimun juga berhubungan dengan defisiensi vitamin B-12.

7. Penyakit dan kondisi lainnya

sakit Maag dapat dikaitkan dengan kondisi medis lainnya, seperti penyakit HIV/AIDS, infeksi parasit, dan penyakit Crohn.

Gejala Maag

Keluhan yang sering muncul biasanya berupa nyeri di area perut kiri atas sewaktu-waktu dan sering kambuh atau timbul saat lapar dan hilang setelah makan atau pemberian obat antasida, mual, kembung dan muntah-muntah. Apabila peradangan lambung yang terjadi cukup luas dan dalam dapat timbul gejala muntah darah atau bahkan buang air besar yang disertai darah yang berwarna kehitaman.

Gejala maag umum lainnya termasuk kembung dan mual. Dalam kasus gastritis yang melibatkan muntah, penampilan muntah bisa jernih, kuning, atau hijau. Ciri-ciri maag berat termasuk sesak napas, nyeri dada, sakit perut parah, dan buang air besar yang berbau busuk.

Berikut gejala maag yang bisa Anda kenali:

  • Muntah berwarna kuning atau hijau dalam jumlah berlebihan
  • Sakit perut disertai demam
  • Buang air besar hitam atau berdarah
  • Pusing dan pingsan
  • Detak jantung yang cepat
  • Sesak napas
  • Keringat berlebih
  • Sait maag dapat terjadi tanpa gejala sama sekali.

Diagnosis Maag

Dokter akan meninjau riwayat medis pribadi dan keluarga, melakukan evaluasi fisik menyeluruh, dan  merekomendasikan salah satu dari tes berikut ini :

1. Endoskopi bagian atas

Endoskop adalah tabung tipis berisi kamera kecil, yang dimasukkan melalui mulut dan turun ke perut untuk melihat lapisan perut. Dokter akan memeriksa peradangan dan mungkin melakukan biopsi, prosedur di mana sampel kecil jaringan diambil dan kemudian dikirim ke laboratorium untuk dianalisis.

2. Tes darah

Dokter melakukan berbagai tes darah, seperti memeriksa jumlah sel darah merah untuk menentukan apakah menderita anemia, yang berarti Anda tidak memiliki cukup sel darah merah. Dokter juga dapat melakukan skrining terhadap infeksi H. pylori dan anemia pernisiosa dengan tes darah.

3. Tes darah okultisme tinja (tes tinja)

Tes ini untuk memeriksa keberadaan darah di tinja Anda, yang kemungkinan tanda gastritis.

Pengobatan Maag

Obat-obatan yang biasanya diberikan dokter bertujuan untuk mengembalikan kesimbangan asam dalam lambung baik berupa obat-obatan yang menetralkan asam lambung, seperti antasida atau yang mengurangi produksi dari asam lambung yang ada seperti cimetidine atau ranitidine.

Obat maag umumnya dikonsumsi 2 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. Adapun tujuan obat tersebut diminum 2 jam sebelum makan adalah untuk menetralisir asam lambung, karena pada saat tersebut penumpukan asam di dalam lambung telah cukup banyak dan pada orang yang menderita penyakit maag di dalam lambungnya telah terjadi luka-luka kecil di dinding lambung yang apabila terkena asam dalam jumlah cukup banyak akan menimbulkan keluhan perih.

Sedangkan obat maag yang diminum 2 jam sesudah makan bertujuan untuk melindungi dinding lambung dari asam yang akan terus diproduksi.

Selama 2 jam sesudah makan, asam yang ada di lambung akan terpakai untuk mencerna makanan sehingga ternetralisir dan tidak melukai dinding lambung. Namun, setelah 2 jam lambung kembali akan memproduksi asam padahal makanan yang telah dicerna di dalam lambung mulai kosong dan masuk ke usus.

Tindakan dokter untuk mengatasi sakit maag:

  • Memberi resep antasida untuk mengurangi nyeri.
  • Pengobatan khusus biasanya diberikan selama 3 bulan supaya tukak sembuh sempurna.
  • Bila tidak sembuh atau bila timbul komplikasi, mungkin memerlukan tindakan bedah.

Pencegahan Maag

Pencegahan utama dari gastritis adalah dengan menjaga keseimbangan zat yang ada dalam lambung misalnya dengan melakukan langkah berkut:

  • Mengatur pola makan yang teratur
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu lama
  • Hindari minum alkohol
  • Hindari zat kimia lain yang dapat merusak dinding lambung
  • Hindari makanan yang memiliki rasa asam dan pedas.