Terbit: 22 Juli 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Limfoma adalah kanker pada sistem limfatik yang berkembang dalam sel darah putih (limfosit). Kanker ini biasanya dapat diobati tergantung tingkat keparahannya. Simak informasi lengkapnya tentang gejala, penyebab, pengobatan, pencegahan, dan lainnya di bawah ini!

Limfoma: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Limfoma?

Limfoma adalah kanker yang dimulai pada sel-sel darah putih (limfosit). Limfosit berfungsi untuk melawan infeksi pada sistem kekebalan tubuh. Sel-sel ini terdapat di kelenjar getah bening, limpa, timus, sumsum tulang, saluran pencernaan, dan bagian tubuh lainnya.

Ketika limfoma berkembang, limfosit berubah dan tumbuh di luar kendali sehingga bermetastasis atau menyebar ke jaringan dan organ di seluruh tubuh. Penumpukan limfosit yang menyebabkan pembengkakan dapat terjadi di seluruh tubuh, namun umumnya terjadi di leher, ketiak, dan pangkal paha.

Ciri dan Gejala Limfoma

Limfoma tahap awal tidak selalu menimbulkan gejala, sehingga jarang disadari penderitanya. Adapun gejala limfoma adalah benjolan kecil dan lembut di bawah kulit pada beberapa bagian tubuh, termasuk di leher, dada atas, ketiak, perut, dan sekitar selangkangan.

Tanda dan gejala limfoma awal yang umum meliputi:

  • Nyeri tulang
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Limpa yang membesar
  • Demam
  • Keringat malam
  • Rasa sakit saat minum alkohol
  • Gatal gatal
  • Ruam pada lipatan kulit
  • Sesak napas
  • Kulit gatal
  • Sakit perut
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Segera periksakan ke dokter jika mengalami perubahan yang tidak normal pada tubuh atau jika memiliki salah satu tanda dan gejala limfoma yang telah dijelaskan sebelumnya. Semakin dini gejala diketahui, semakin tinggi kemungkinan keberhasilan untuk pengobatannya.

Penyebab Limfoma

Limfoma adalah kanker yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti, bahkan dokter sekalipun. Tapi kanker ini dimulai ketika sel darah putih yang melawan penyakit atau disebut limfosit yang mengembangkan mutasi genetik. Mutasi memberi tahu sel untuk berkembang dengan cepat dan tidak terkendali.

Sel yang bermutasi juga tidak mati meskipun usia selnya sudah mengharuskan sel tersebut untuk mati. Kondisi ini menyebabkan terlalu banyak penyakit dan limfosit tidak berfungsi di kelenjar getah bening, yang pada akhirnya menyebabkan kelenjar getah bening, limpa, dan hati membengkak.

Faktor Risiko Limfoma

Meskipun penyebab limfoma tidak diketahui, namun ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini, di antaranya:

  • Usia. Orang berusia di atas 60 tahun berisiko mengalami non-Hodgkin, sedangkan usia antara 20 dan 30, dan orang berusia di atas 55 tahun berisiko mengalami limfoma Hodgkin.
  • Pria. Pria lebih mungkin mengembangkan penyakit ini daripada wanita.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh. Limfoma lebih sering terjadi pada penderita penyakit sistem kekebalan tubuh atau pada pengguna obat yang menekan sistem kekebalan tubuh, serta memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV/AIDS.
  • Infeksi tertentu. Beberapa infeksi terkait dengan peningkatan risiko penyakit ini, termasuk virus Epstein-Barr dan infeksi Helicobacter pylori.
  • Paparan kimia dan radiasi. Orang yang terpapar bahan kimia dalam pestisida, pupuk, dan herbisida juga berisiko lebih tinggi. Radiasi nuklir juga dapat meningkatkan risiko non-Hodgkin.
  • Obesitas. Kelebihan berat badan terkait dengan limfoma sebagai faktor risiko yang mungkin, tetapi masih memerlukan penelitian lebih banyak untuk memahami faktor risiko yang mungkin terjadi.
  • Riwayat keluarga. Seseorang berisiko tinggi jika memiliki salah satu anggota keluarga yang mengalami limfoma, terutama untuk jenis limfoma Hodgkin.

Baca Juga: Kanker Kelenjar Getah Bening: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Diagnosis Limfoma

Sebelum menjalani tes untuk memastikan penyakit, dokter akan mengajukan pertanyaan seputar gejala limfoma yang dirasakan pasien dan tentang riwayat medis keluarga.

Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk memeriksa kelenjar getah bening yang membengkak. Gejala ini tidak berarti kanker, karena sebagian besar infeksi – yang tidak terkait dengan kanker – menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening.

Berikut ini sejumlah tes untuk mendiagnosis limfoma dan jenisnya:

  • Biopsi. Tes ini untuk mengangkat semua atau sebagian dari kelenjar getah bening. Prosedur lainnya dapat mengambil sedikit sampel jaringan menggunakan jarum dari bagian tubuh yang terkena.
  • Aspirasi atau biopsi sumsum tulang. Dokter akan menggunakan jarum untuk mengeluarkan cairan atau jaringan dari sumsum tulang – bagian spongy di dalam tulang tempat sel darah dibuat – untuk mencari sel limfoma.
  • Rontgen dada. Tes yang menggunakan radiasi dalam dosis rendah untuk menghasilkan gambar bagian dalam dada.
  • MRI. Dokter akan menggunakan magnet dan gelombang radio yang kuat untuk menghasilkan gambar organ dan struktur di dalam tubuh.
  • PET scan. Tes ini menggunakan zat radioaktif untuk mencari sel-sel kanker dalam tubuh.
  • Tes darah. Tes dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk memeriksa jumlah sel tertentu, kadar zat lain, atau infeksi dalam darah.
  • Tes molekuler. Tes untuk mencari perubahan pada gen, protein, dan zat lain dalam sel kanker untuk membantu dokter mengetahui jenis limfoma yang diderita.

Jenis Limfoma

Limfoma adalah kanker yang terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu Limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin, yang keduanya memiliki banyak subtipe.

Berikut ini penjelasan jenis limfoma:

1. Non-Hodgkin

Limfoma non-Hodgkin adalah jenis yang paling umum dan biasanya berkembang dari limfosit B dan T (sel) di kelenjar getah bening atau jaringan di seluruh tubuh. Pertumbuhan tumor pada non-Hodgkin tidak memengaruhi kelenjar getah bening, tetapi biasanya sebagian dan beberapa bagian tubuh lainnya.

Berikut ini jenis limfoma non-Hodgkin:

  • B-cell lymphoma
  • T-cell lymphoma
  • Burkitt’s lymphoma
  • Follicular lymphoma
  • Mantle cell lymphoma
  • Primary mediastinal B cell lymphoma
  • Small lymphocytic lymphoma
  • Waldenstrom macroglobulinemia (lymphoplasmacytic lymphoma)

2. Hodgkin

Limfoma Hodgkin adalah kanker pada sistem kekebalan tubuh. Ini dapat diidentifikasi dengan adanya sel Reed-Sternberg, yang merupakan limfosit B abnormal besar. Pada penderita limfoma Hodgkin, kanker biasanya bergerak dari satu kelenjar getah bening ke sekitarnya.

Berikut ini jenis limfoma Hodgkin:

  • Lymphocyte-depleted Hodgkin’s disease
  • Lymphocyte-rich Hodgkin’s disease
  • Mixed cellularity Hodgkin’s lymphoma
  • Nodular lymphocyte-predominant Hodgkin’s disease
  • Nodular sclerosis Hodgkin’s lymphoma

Stadium Limfoma

Kedua jenis limfoma dikategorikan menjadi empat stadium. Kondisi kedua jenisnya ditentukan oleh letak kanker berada dan seberapa jauh kanker telah menyebar.

  • Stadium I. Sel kanker telah menyerang satu kelompok kelenjar getah bening. Ini dapat terjadi di bagian tubuh mana pun, baik bagian tubuh atas atau bawah, tetapi masih dalam sisi yang sama (kanan saja atau kiri saja).
  • Stadium II. Kanker menyerang dua kelompok kelenjar getah bening atau menyebar di sekitarnya, namun penyebarannya hanya pada bagian tubuh atas dan bawah sebatas diafragma, namun masih dalam sisi yang sama (kanan saja atau kiri saja)
  • Stadium III. Pada tahap ini, kanker berada di kelenjar getah bening pada kedua sisi tubuh dan di beberapa kelenjar getah bening.
  • Stadium IV. Kanker menyerang organ dan menyebar di luar kelenjar getah bening di sekitarnya. Ketika non-Hodgkin berlangsung, mungkin mulai menyebar bagian tubuh lainnya. Bagian tubuh yang paling umum untuk non-Hodgkin, termasuk hati, sumsum tulang, dan paru-paru.

Cara Mengobati Limfoma

Perawatan limfoma tergantung pada jenis, stadium penyakit, dan kesehatan secara keseluruhan. Tujuan pengobatannya untuk menghancurkan sel kanker dan mengurangi gejalanya.

Berikut ini beberapa cara mengobati limfoma:

  • Pengawasan aktif. Beberapa bentuk penyakit limfoma tumbuh sangat lambat. Pasien dan dokter mungkin memutuskan menunggu ketika penyakit ini menyebabkan tanda dan gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Seiring waktu, pasien dapat menjalani tes berkala untuk memantau kondisi penyakit.
  • Kemoterapi. Perawatan ini menggunakan obat untuk menghancurkan sel kanker yang berkembang dengan. Obat-obatan ini diberikan melalui pembuluh darah atau secara oral yang dalam bentuk pil.
  • Terapi radiasi. Terapi ini menggunakan sinar energi berkekuatan tinggi, seperti sinar-X dan proton yang berfungsi untuk membunuh sel kanker.
  • Transplantasi sumsum tulang. Perawatan yang juga dikenal sebagai transplantasi sel induk ini dibantu dengan kemoterapi dan radiasi dosis tinggi untuk menekan sumsum tulang. Sel-sel induk sumsum tulang yang sehat dalam tubuh pasien atau dari donor kemudian dimasukkan ke dalam darah pasien di mana sel-sel ini beredar di tulang dan membangun kembali sumsum tulang.
  • Radioimunoterapi. Ini adalah terapi kanker dengan memberikan dosis radioaktif bertenaga tinggi langsung ke sel B kanker dan sel T untuk menghancurkannya.
  • Terapi target. Obat lain yang digunakan untuk pengobatan termasuk obat yang ditargetkan dengan fokus pada tempat di mana kanker tumbuh.
  • Operasi. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat limpa atau organ lain setelah penyakit limfoma menyebar dalam tubuh. Namun, spesialis kanker atau ahli kanker, mungkin akan lebih sering melakukan operasi untuk mendapatkan biopsi.

Komplikasi Limfoma

Komplikasi yang umum terjadi karena limfoma adalah sistem kekebalan tubuh melemah. Ini akibat obat-obatan yang digunakan untuk perawatan dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Penderita penyakit ini menjadi lebih rentan mengalami infeksi dan berisiko mengembangkan komplikasi serius dari infeksi. Beberapa gejala yang ditimbulkan akibat infeksi, di antaranya:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Kelelahan
  • Diare
  • Ruam melepuh yang menyakitkan

Pengobatan untuk penyakit limfoma juga dapat menyebabkan komplikasi berkut:

  • Infertilitas. Beberapa perawatan dapat menyebabkan infertilitas atau kemandulan. Ini seringkali bersifat sementara atau mungkin efek samping permanen. Biasanya, pasien yang sangat berisiko kemandulan setelah mendapatkan kemoterapi dan radioterapi dosis sangat tinggi.
  • Masalah kesehatan. Perawatannya dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti penyakit jantung, penyakit paru-paru, penyakit ginjal, penyakit tiroid, diabetes, dan katarak pada usia yang lebih muda. Kanker juga dapat meningkatkan risiko depresi.
  • Kanker baru. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah pasien yang memiliki satu kanker meningkatkan risiko mengalami kanker baru, yang mungkin sama atau berbeda dengan kanker pertama. Pengobatan yang berisiko tinggi, termasuk kemoterapi dan radioterapi.

Cara Mencegah Limfoma

Mengingat penyebab limfoma tidak diketahui secara pasti, sehingga sulit untuk melakukan pencegahan. Namun, ada banyak faktor risiko yang dapat dicegah, meliputi:

  • Menghindari perilaku yang meningkatkan risiko terkena infeksi AIDS dan hepatitis C, yang keduanya dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh.
  • Menghindari paparan radiasi dan kimia, misalnya di tempat kerja.
  • Mempertahankan berat badan normal dan konsumsi makanan sehat.
  • Hindari implan payudara pada wanita. Meskipun jarang, prosedur ini dapat mengembangkan penyakit limfoma di jaringan perut sekitar implan payudara.
  • Aktif secara fisik dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, sehingga membantu mencegah penyakit.

 

  1. Anonim. 2020. Non-Hodgkin lymphoma (B cell and T cell lymphoma). https://www.healthdirect.gov.au/non-hodgkin-lymphoma. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  2. Anonim. 2019. Adult Non-Hodgkin’s Lymphoma: Prevention. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15662-adult-non-hodgkins-lymphoma/prevention. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  3. Anonim. 2017. Seeing your GP. https://www.cancerresearchuk.org/about-cancer/non-hodgkin-lymphoma/getting-diagnosed/gp#:~:text=When%20to%20see%20your%20GP,don’t%20make%20an%20appointment. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  4. Anonim. 2018. What Is Lymphoma?. https://www.webmd.com/cancer/lymphoma/lymphoma-cancer#1. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  5. Felman, Adam. 2019. What to know about lymphoma. https://www.medicalnewstoday.com/articles/146136. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  6. Mayo Clinic Staff. 2019. Lymphoma. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lymphoma/symptoms-causes/syc-20352638. (Diakses pada 22 Juli 2020)
  7. Nall, Rachel. 2019. Everything You Need to Know About Lymphoma. https://www.healthline.com/health/lymphoma#treatment. (Diakses pada 22 Juli 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi