Terbit: 16 Juni 2020 | Diperbarui: 23 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Pembengkakan kelenjar getah bening atau limfadenopati adalah kondisi yang dapat menandakan masalah kesehatan atau bahkan memiliki kanker tertentu. Ketahui informasi lengkap tentang definisi kelenjar getah bening yang membengkak, gejala, pengobatan, hingga pencegahan di bawah ini!

Limfadenopati: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Limfadenopati?

Limfadenopati adalah pembengkakan kelenjar getah bening (kelenjar limfe) yang tidak terasa nyeri saat ditekan yang dapat disebabkan karena infeksi atau tumor ganas. Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem imun yang membawa cairan, nutrisi, dan bahan limbah antara jaringan tubuh dan aliran darah, serta melokalisir infeksi.

Bagian tubuh yang dapat mengalami pembengkakan kelenjar getah bening, termasuk di bawah ketiak, lipatan paha, leher, dada, perut, dan selangkangan.

Kelenjar getah bening memiliki saringan sehingga cairan yang melaluinya terbebas dari bakteri, virus, dan zat asing lainnya yang mencegah berbagai penyakit. Selain itu, sel-sel darah putih yang disebut limfosit juga bertugas untuk menghancurkan limbah-limbah yang terdapat di kelenjar getah bening.

Ciri dan Gejala Limfadenopati

Sistem limfatik adalah jaringan organ, pembuluh, dan kelenjar getah bening yang terdapat di seluruh tubuh. Kebanyakan kelenjar getah bening yang terletak di area kepala dan leher sering kali membengkak, serta ketiak dan selangkangan. Pembengkakan kelenjar getah bening dapat menandakan adanya masalah dalam tubuh.

Awalnya gejala limfadenopati ditandai dengan kelenjar getah bening atau benjolan terasa lembut, dan pembengkakan bisa seukuran kacang polong atau bahkan lebih besar.

Terkadang penyakit ini tidak menimbulkan gejala. Gejala yang terkait dengan limfadenopati tergantung pada penyebabnya, termasuk:

  • Demam
  • Berkeringat di malam hari
  • Penurunan berat badan
  • Tidak nafsu makan
  • Infeksi

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Limfadenopati adalah penyakit yang akan kembali normal ketika kondisi yang mendasarinya membaik, seperti infeksi ringan. Namun, segera ke dokter jika khawatir atau kelenjar getah bening membengkak yang ditandai dengan kondisi berikut:

  • Muncul pembesaran kelenjar getah bening tanpa sebab yang jelas.
  • Terasa keras, kenyal, atau tidak bergerak ketika digoyangkan.
  • Semakin memperbesar atau bertahan selama dua hingga empat minggu.

Penyebab Limfadenopati

Penyebab limfadenopati adalah kondisi yang berbeda (terutama kelenjar di kepala dan leher), termasuk kelainan autoimun, jenis kanker tertentu, dan infeksi umum seperti flu. Obat-obatan tertentu seperti antimalaria dan obat antikejang.

Kebanyakan pembengkakan kelenjar getah bening terjadi di satu bagian tubuh tertentu. Namun, pembengkakan yang terjadi di lebih dari satu bagian tubuh disebut limfadenopati menyeluruh dan biasanya menandakan penyakit sistemik atau seluruh tubuh, yang mungkin memerlukan perawatan medis.

Berikut beberapa kemungkinan penyebab limfadenopati yang lebih lengkap:

1. Infeksi

Infeksi yang menyebabkan limfadenitis (pembesaran kelenjar getah bening disertai rasa nyeri) antara lain:

  • Flu biasa
  • Pilek
  • Infeksi sinus
  • Infeksi gigi atau gusi
  • Infeksi Staph (disebabkan bakteri)
  • Infeksi kulit
  • Infeksi jamur
  • Infeksi berulang
  • Infeksi menular seksual (IMS), seperti sifilis dan gonore
  • Mononukleosis (demam kelenjar)
  • Tonsilitis
  • Radang tenggorokan

Infeksi yang dapat menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening tanpa disertai rasa nyeri (limfadenopati) antara lain:

2. Gangguan Sistem Kekebalan Tubuh

Gangguan kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan limfadenopati meliputi:

3. Kanker

Meskipun jarang, limfadenopati juga dapat mengindikasikan kanker berikut:

  • Leukemia
  • Limfoma
  • Kanker lainnya yang telah menyebar (metastasis) ke kelenjar getah bening
  • Sarkoma Kaposi

Faktor Risiko Limfadenopati

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang lebih mungkin memiliki gangguan getah bening yang ganas, seperti limfoma.

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko limfadenopati:

  • Memiliki usia di atas 40 tahun
  • Laki-laki
  • Berkulit putih

Diagnosis Limfadenopati

Guna mendiagnosis penyebab limfadenopati, dokter akan melakukan satu atau beberapa tes berikut ini:

  • Riwayat kesehatan pasien. Dokter akan mencari tahu kapan dan bagaimana pembengkakan kelenjar getah bening pasien berkembang dan jika memiliki tanda atau gejala lainnya.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini termasuk kelenjar getah bening untuk memastikan ukuran, nyeri tekan, kehangatan, dan tekstur. Lokasi yang terkena atau tanda dan gejala lainnya akan memberikan petunjuk penyebab yang mendasarinya.
  • Tes darah. Dapat dilakukan pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui infeksi atau tumor marker bila dicurigai ada gejala keganasan.
  • Pencitraan. Dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada kelenjar getah bening yang membesar, bila dicurigai terdapat TB paru bisa dilakukan rontgen thorax, dan bila dicurigai terdapat tumor pada organ lain bisa dilakukan computed tomography (CT) scan dengan kontras pada organ yang dicurigai (misal kepala, dada atau perut).
  • Biopsi kelenjar getah bening. Pengambilan sampel dari kelenjar getah bening atau bahkan seluruh kelenjar getah bening untuk dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop guna memastikan penyebab limfadenopati.

Baca Juga: Kanker Kelenjar Getah Bening: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Cara Mengobati Limfadenopati

Pembengkakan kelenjar getah bening yang terasa lunak atau nyeri dapat diredakan secara mandiri di rumah atau menjalani pengobatan berdasarkan penyebabnya.

1. Pengobatan di Rumah

Beberapa cara mengobati limfadenopati secara mandiri, di antaranya:

  • Istirahat yang cukup. Memperbanyak waktu istirahat dapat membantu pemulihan gejala dan kondisi yang mendasarinya.
  • Kompres hangat. Mengompres hangat pada pembengkakan dengan handuk yang telah dicelupkan ke dalam air panas dan diperas.
  • Penghilang rasa sakit. Obat dengan atau tanpa resep ini termasuk aspirin, ibuprofen, naproxen, atau acetaminophen. Namun, berhati-hati menggunakan aspirin kepada anak-anak atau remaja atau sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

2. Pengobatan Berdasarkan Penyebabnya

Limfadenopati yang disebabkan virus biasanya akan kembali normal setelah infeksi virus sembuh. Biasanya, penggunaan antibiotik tidak efektif mengobati infeksi virus. Namun, pengobatan tergantung pada penyebabnya:

  • Infeksi. Antibiotik adalah obat yang paling umum untuk mengobati pembengkakan kelenjar getah bening yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Sedangkan limfadenopati yang disebabkan oleh infeksi HIV, pasien akan mendapat perawatan khusus.
  • Gangguan kekebalan tubuh. Jika kelenjar limfadenopati akibat kondisi tertentu, seperti lupus atau rheumatoid arthritis, pengobatan disesuaikan dengan kondisi yang mendasarinya.
  • Kanker. Pembengkakan kelenjar yang disebabkan kanker tertentu akan membutuhkan perawatan khusus kanker. Perawatan tergantung jenis kanker, termasuk pembedahan, radiasi, atau kemoterapi.

Komplikasi Limfadenopati

Pembengkakan kelenjar getah bening yang disebabkan infeksi dan tidak segera mendapatkan pengobatan yang tepat dapat menyebabkan pembentukan abses. Abses adalah kumpulan nanah yang disebabkan infeksi. Nanah biasanya berisi cairan, sel darah putih, jaringan mati, atau bahkan bakteri.

Abses mungkin harus mendapatkan perawatan dengan mengeluarkan dan perawatan dengan antibiotik.

Cara Mencegah Limfadenopati

Sampai saat ini tidak ada cara yang tepat untuk mencegah pembengkakan kelenjar getah bening karena beberapa penyebab. Namun, ada beberapa cara tertentu yang dapat menurunkan risiko penyebab limfadenopati, di antaranya:

  • Tetap di rumah saat sakit untuk mencegah infeksi seperti flu biasa.
  • Mendapatkan vaksinasi untuk hepatitis dan flu.
  • Melakukan hubungan seks yang aman untuk mencegah infeksi menular seksual (IMS).

_

Itulah penjelasan lengkap tentang apa itu limfadenopati hingga bagaimana cara mencegahnya. Jika mengalami gejala yang telah dijelaskan di atas, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang tepat. Perawatan di awal gejala kemungkinan akan memudahkan pengobatan.

Satu hal yang harus dilakukan adalah menerapkan gaya hidup yang sehat dengan pola makan sehat dan rajin berolahraga untuk membantu perawatannya ya, Teman Sehat!

 

  1. Anonim. 2019. Swollen Lymph Nodes. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15219-swollen-lymph-nodes. (Diakses pada 16 Juni 2020)
  2. D’Souza, Gillian. 2019. Why are my lymph nodes swollen?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324105#when-to-see-a-doctor. (Diakses pada 16 Juni 2020)
  3. Kahn, April. 2019. What’s Causing My Swollen Lymph Nodes?. https://www.healthline.com/health/swollen-lymph-nodes. (Diakses pada 16 Juni 2020)
  4. Medlife Blogger. 2019. Swollen Lymph Nodes: Causes, Symptoms, Diagnosis, Treatment, and Prevention. https://www.medlife.com/blog/swollen-lymph-nodes-causes-symptoms-treatment-prevention/. (Diakses pada 16 Juni 2020)
  5. Mayo Clinic Staff. 2019. Swollen lymph nodes. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/swollen-lymph-nodes/symptoms-causes/syc-20353902. (Diakses pada 16 Juni 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi