Leukemia: Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

leukimia-doktersehat

DokterSehat.Com – Leukimia atau disebut juga kanker darah adalah kondisi di mana tubuh memproduksi sel darah putih lebih banyak dari normal sehingga mengganggu fungsi tubuh dalam melawan infeksi. Penyakit leukimia menjadi berbahaya karena jumlah sel darah putih yang berlebih dalam aliran membuat produksi sel-sel darah lainnya terganggu.

Penyebab Leukimia

Hingga kini penyebab leukimia belum diketahui secara pasti. Penyebab leukemia adalah dari faktor internal maupun faktor eksternal tubuh. Penyebab leukimia secara internal adalah dari kelainan kromosom, paparan polusi, paparan radiasi, dan merokok.

Selain itu, perubahan lain dalam sel darah putih akibat faktor gen dan lingkungan juga diperkirakan turut menjadi penyebab leukimia atau kanker darah. Sementara faktor eksternal penyebab leukimia adalah termasuk paparan radiasi, polusi, atau zat kimia tertentu yang berbahaya.

Gejala Leukimia

Perlu diketahui, orang-orang pengidap penyakit leukimia rentan terhadap memar, perdarahan, dan infeksi. Penyakit leukimia adalah penyakit yang serius. Oleh karenanya siapapun harus waspada terhadap leukimia.

Karena penumpukan sel darah putih terjadi di aliran darah, sel abnormal tersebut juga dapat menyebar ke organ lain, seperti hati, limfa, paru-paru, ginjal, bahkan hingga ke otak dan tulang belakang.

Penyakit ini tidak memberikan gejala yang khas pada tahap awal. Berikut ini gejala leukimia yang dapat muncul, antara lain:

  • Anemia dan gejala yang terkait seperti kelelahan atau bibir pucat.
  • Kecenderungan untuk memar atau mudah berdarah, termasuk perdarahan dari gusi dan hidung, atau darah dalam tinja atau urine bisa menjadi salah satu gejala.
  • Rentan terhadap infeksi seperti sakit tenggorokan atau pneumonia bronkial, yang bisa disertai dengan sakit kepala, demam ringan, sariawan, atau ruam kulit.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, biasanya di tenggorokan, ketiak, atau selangkangan.
  • Kehilangan nafsu makan dan berat badan juga merupakan salah satu tanda leukimia.
  • Ketidaknyamanan di bawah tulang rusuk kiri bawah (disebabkan oleh limpa yang bengkak).
  • Jumlah sel darah putih yang sangat tinggi dapat mengakibatkan masalah penglihatan seperti perdarahan retina, telinga berdenging (tinnitus), gangguan mental, ereksi berkepanjangan (priapismus), stroke, ataupun kejang karena perdarahan di otak.

Diagnosis Leukimia

Dokter bisa menemukan leukimia kronis dalam tes darah yang dilakukan bahkan sebelum gejala muncul. Jika ini terjadi, atau jika Anda memiliki tanda atau gejala yang menunjukkan leukimia, beberapa tes yang bisa dijalani seperti:

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter akan mencari tanda-tanda fisik leukimia, seperti kulit pucat akibat anemia, pembengkakan kelenjar getah bening, pembesaran hati dan limpa.

2. Tes Darah

Dengan melihat sampel darah, dokter dapat menentukan apakah Anda memiliki kadar sel darah merah atau trombosit yang tidak normal–yang mungkin menunjukkan leukimia.

3. Tes Sumsum Tulang

Dokter mungkin merekomendasikan prosedur ini untuk mengambil sampel sumsum tulang dari tulang pinggul. Sumsum tulang diambil dengan menggunakan jarum panjang dan tipis. Sampel dikirim ke laboratorium untuk mencari sel-sel leukimia. Tes khusus sel-sel leukimia juga dapat mengungkapkan karakteristik tertentu yang digunakan untuk menentukan pilihan perawatan.

Pengobatan Leukimia

Tujuan pengobatan kanker darah atau leukimia adalah untuk menghancurkan sel-sel leukimia dan memungkinkan sel-sel darah yang normal dibentuk di dalam sumsum tulang. Keputusan pengobatan leukimia didasarkan pada jenis leukemia yang dimiliki, stadium penyakit, usia dan kondisi kesehatan secara umum.

Jenis Leukimia dan Pengobatannya

Jenis penyakit leukemia sendiri dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis sumsum tulang, apakah jenis leukimia limfoblastik atau mieloblastik. Pemeriksaan ini juga dapat menentukan apakah penderita leukeimia masuk kategori akut atau kronis.

1. Leukimia limfoblastik akut

Cara mengobati leukimia limfoblastik akut memiliki 3 langkah yang terdiri atas tahap induksi, konsolidasi, dan pemeliharaan.

  • Terapi induksi leukimia adalah tahap puntuk membunuh sel-sel leukimia di dalam darah dan sumsum tulang. Perawatan tahap ini termasuk kemoterapi dan kortikosteroid. Induksi biasanya berlangsung 4 minggu dan dilakukan di rumah sakit. Tetapi beberapa pasien memiliki sel-sel leukimia dengan perubahan gen tertentu. Gen ini disebut kromosom Philadelphia. Pasien dengan gen tersebut akan diberikan inhibitor tyrosine kinase.
  • Cara mengobati leukimia adalah dengan terapi konsolidasi membunuh sel-sel leukimia yang mungkin masih tersisa. Jika sel-sel tersisa, sel ini dapat tumbuh kembali dan dapat kambuh. Perawatan termasuk kemoterapi dan mungkin transplantasi sumsum tulang. Konsolidasi biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan tetapi tidak memerlukan opname di rumah sakit.
  • Terapi pemeliharaan leukimia adalah cara pengobatan mencegah sel-sel leukimia yang tersisa untuk tumbuh. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan dosis kemoterapi yang lebih rendah dari yang digunakan selama induksi atau konsolidasi. Kemoterapi diberikan dengan obat minum dan obat suntik intravena (IV). Terapi pemeliharaan dilakukan selama 3 tahun berturut-turut, tapi selama ini, kebanyakan pasien leukemia mengalami kekambuhan ketika sedang dalam terapi pemeliharaan.

2. Leukimia mieloblastik akut

Pengobatan leukimia mieloblastik akut (AML) didasarkan pada susunan genetik dari sel myeloid normal. Rencana pengobatannya biasanya memiliki 2 langkah yang meliputi induksi remisi dan terapi pasca-remisi.

  • Terapi induksi remisi adalah pengobatan leukimia yang umumnya dengan menggunakan kemoterapi, di mana terapi ini untuk membunuh sel-sel kanker di dalam darah dan sumsum tulang. Kemoterapi diberikan pada penderita dengan cara pengobatan suntikan intravena (IV). Terapi ini biasanya berlangsung 3 sampai dengan 5 minggu. Terapi induksi remisi biasanya memerlukan opname di rumah sakit.
  • Terapi pasca-remisi dilakukan untuk membunuh sel-sel leukemia yang mungkin ada meskipun mereka tidak terdeteksi. Terapi ini dapat berupa kemoterapi tambahan atau transplantasi sumsum tulang. Kemoterapi dapat diberikan kepada pasien di rumah sakit selama beberapa hari setiap bulannya dan proses biasanya dijalani selama 3 sampai 4 bulan.

Terdapat subtipe dari AML disebut promyelocytic leukemia akut, sehingga pasien atau penderita leukimia mendapatkan obat-obatan lain, seperti arsenik trioksida dan obat all-trans retinoic acid (ATRA). Transplantasi sel induk dan kemoterapi juga digunakan ketika leukimia tidak respons terhadap pengobatan atau jika AML kambuh kembali.

3. Leukimia limfositik kronis

Berikut ini adalah pilihan obat leukemia limfositik kronis, di antaranya:

  • Terapi kemoterapi. Dengan memberikan obat khusus, baik melalui suntikan atau diminum, dimana obat yang digunakan berfungsi untuk membunuh sel kanker. Obat yang diberikan umumnya berupa obat tunggal, seperti chlorambucil atau fludarabine, ataupun berupa obat kombinasi.
  • Targeted drug therapy. terapi ini sama seperti kemoterapi, dimana jika menggunakan metode ini dilakukan dengan pemberian obat. Namun, obat yang diberikan dalam targeted drug therapy berfungsi menghambat protein yang digunakan sel kanker untuk bertahan dan berkembang. Contoh obat yang digunakan dalam terapi ini yakni rituximab.
  • Transplantasi sumsum tulang. Terapi ini dengan menggunakan metode penggantian sel sumsum tulang yang rusak dengan sumsum tulang sehat dari pendonor. Sebelum metode ini dilakukan, kemoterapi akan dilakukan terlebih dahulu, 1 atau 2 minggu sebelum transplantasi.

Selain itu, pasien juga perlu untuk waspada dan memeriksa apakah ada tanda-tanda infeksi, seperti pneumonia (infeksi paru) atau infeksi jamur. Pengobatan dini akan membantu pasien bertahan hidup lebih lama. Obat leukimia disesuaikan dengan tingkat keparahan leukimia yang diderita oleh pasien.

4. Leukimia mieloblastik kronis

Chronic myelogenous leukemia (CML) perlu diobati dengan segera. Pilihan obat leukimia untuk penyakit jenis ini yang paling umum termasuk:

  • Targeted drug therapy dengan dengan ityrosine kinase inhibitor. Ini adalah pengobatan pertama kali digunakan untuk CML.
  • Transplantasi sumsum tulang. Sebelum transplantasi bisa dilakukan, kemoterapi atau radiasi digunakan untuk menghancurkan aktivitas sumsum tulang.

Bagi orang-orang yang baru didiagnosis pada tahap awal CML (fase kronis), tyrosine kinase inhibitor dapat bekerja selama bertahun-tahun. Jika pasien tidak menunjukkan kekambuhan, pasien tidak perlu melakukan transplantasi sumsum tulang. Tetapi jika pasien kambuh, sebaiknya pasien melakukan transplantasi sumsum tulang.

Sementara untuk orang-orang yang didiagnosis CML pada tahap selanjutnya (fase akselerasi atau fase krisis blast), pengobatan mungkin melibatkan kemoterapi atau tyrosine kinase inhibitor sebelum dilakukannya transplantasi sumsum tulang–guna meningkatkan kemungkinan keberhasilan operasi transplantasi sumsum tulang.

Pencegahan Leukimia

Hingga saat ini, belum ada langkah pencegahan yang pasti dapat mencegah kanker. Jika Anda mengalami gejala leukimia segera konsultasi dengan dokter. Berikut adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker darah, di antaranya:

1. Hindari Merokok

Merokok adalah faktor risiko yang kuat untuk terjadinya leukimia mieloblastik akut. Selain itu, merokok selama kehamilan atau bahkan paparan asap rokok selama kehamilan dapat meningkatkan risiko leukimia pada anak.

Asap tembakau mengandung banyak bahan kimia beracun, termasuk benzena dan formaldehida. Jika bahan kimia ini dihirup ke paru-paru, zat-zat ini dapat dengan mudah masuk ke aliran darah.

2. Menjaga Berat Badan Ideal

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kelebihan berat badan atau obesitas dikaitkan dengan peningkatan risiko acute myelogenous leukemia (AML). Jika indeks massa tubuh menunjukkan angka 30 atau lebih, hal itu berisiko meningkatkan leukimia dibanding orang dengan berat badan normal.

3. Membatasi Paparan Zat Kimia

Sumber paparan di sekitar lingkungan biasanya berasal dari pembasmi serangga, asap kendaraan, dan pembasmi hama tanaman. Selain itu, membatasi paparan radiasi yang berasal dari sinar-X, CT scan, dan alat sejenisnya juga perlu dilakukan.

 

 

Informasi kesehatan ini telah ditinjau dr. Jati Satriyo

Sumber:

  1. Leukemia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/leukemia/symptoms-causes/syc-20374373. (Diakses pada 23 September 2019).
  2. Felman, Adam. 2019. What to know about leukemia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/142595.php. (Diakses pada 23 September 2019).
  3. What Is Leukemia?. https://www.webmd.com/cancer/lymphoma/understanding-leukemia-basics#1. (Diakses pada 23 September 2019).
  4. Lights, Verneda, Lauren Reed-Guy, and Elizabeth Boskey, PhD. 2017. Leukemia. https://www.healthline.com/health/leukemia#risk-factors. (Diakses pada 23 September 2019).
  5. Fayed, Lisa. 2019. Preventing or Reducing the Risk of Leukemia. https://www.verywellhealth.com/leukemia-prevention-514159. (Diakses pada 23 September 2019).