Terbit: 5 Januari 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Berbicara tentang tindakan operasi, salah satu teknik yang digunakan oleh dokter adalah laparotomi (laparotomy). Ada beberapa kasus di mana metode operasi yang satu ini harus dilakukan. Lantas, apa itu laparotomi? Simak penjelasannya berikut ini.

Laparotomi: Tujuan, Tata Laksana, Efek Samping

Apa Itu Laparotomi ?

Laparotomi adalah prosedur operasi bedah yang dilakukan dengan cara menyayat area perut (abdomen).

Laparotomi lazimnya diterapkan pada 2 (dua) jenis operasi bedah, yakni operasi bedah digestif dan operasi bedah obgyn. Operasi  bedah digestif yang dilakukan dengan metode laparotomi ini adalah sebagai berikut:

  • Apendektomi
  • Fistuloktomi
  • Gasterektomi
  • Hemoroidektomi
  • Hepatorektomi
  • Herniotomi
  • Kolesistoduodenostomi
  • Kolostomi
  • Splenoktomi

Sementara operasi bedah obgyn yang dituntaskan dengan prosedur laparotomi umumnya meliputi:

  • Operasi uterus
  • Operasi tuba fallopi
  • Operasi ovarium (histerektomi total, radikal, eksenterasi pelvis, salpingo oferektomi bilateral)

Tujuan Laparotomi

Mengapa prosedur ini yang dipilih? Hal ini bukannya tanpa pertimbangan. Dokter umumnya akan menerapkan laparotomi untuk menyembuhkan pasien dengan keluhan penyakit organ yang ada di area perut.

Selain itu, tujuan dari dilakukannya metode ini adalah untuk memeriksa kondisi jaringan maupun pembuluh darah yang ada di dalam perut. Prosedur ini kemudian dikenal dengan istilah ‘laparotomi eksplorasi’. Laparotomi eksplorasi dilakukan apabila pemeriksaan dengan teknik pencitraan CT Scan dirasa belum memberikan hasil diagnosis yang diinginkan.

Indikasi Laparotomi

Indikasi atau kegunaan dari prosedur ini adalah untuk mengatasi sejumlah masalah pada organ yang terdapat di area perut.

Berikut ini adalah penyakit yang membutuhkan penanganan berupa tindakan bedah laparotomi.

1. Trauma Abdomen

Trauma abdomen adalah kondisi ketika struktur di antara pelvis dan diafragma mengalami kerusakan. Umumnya, hal ini diakibatkan oleh:

  • Luka tembus, yakni luka menembus rongga peritoneum (luka tembak, luka tusuk)
  • Luka tumpul, yakni luka yang tidak sampai menembus rongga peritoneum (luka pukul, benturan benda tumpul, dsb.)

2. Peritonitis

Penyakit lainnya yang membutuhkan prosedur bedah ini adalah peritonitis.

Peritonitis adalah penyakit peradangan (inflamasi) pada peritoneum lapisan membran serosa dari rongga abdomen. Penyakit ini terbagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu:

  • Peritonitis primer, terjadi akibat infeksi spontaneous bacterial peritonitis (SBP)
  • Peritonitis sekunder, terjadi akibat perforasi apendisitis, perforasi gaster, perforasi kolon
  • Peritonitis tersier, merupakan efek samping dari operasi bedah

3. Apendisitis

Apendisitis adalah kondisi di mana timbul semacam kantong pada bagian dalam dari sekum. Beberapa jenis penyakit yang menyebabkan terjadinya apendisitis hingga perlu dilakukan tindakan operasi bedah ini adalah sebagai berikut:

  • Tumor abdomen
  • Radang pankreas
  • Abses hati (liver)
  • Perforasi intestinal
  • Perdarahan internal
  • Kehamilan di luar rahim (kehamilan ektopik)
  • Luka pada jaringan pasca operasi atau trauma

4. Obstruksi Usus

Kondisi organ di dalam perut yang juga lazim ditangani dengan prosedur bedah laparotomi adalah obstruksi usus.

Obstruksi usus adalah penyakit yang terjadi ketika organ usus—usus halus dan usus besar—mengalami sumbatan akibat sejumlah faktor seperti karsinoma, intususepsi, volvulus, hernia, dan sebagainya.

Penyakit obstruksi usus sangat berbahaya dan bahkan, bisa sampai mengancam keselamatan jiwa jika tidak segera ditangani.

Selain itu, masih ada lagi masalah kesehatan lainnya yang memerlukan prosedur ini sebagai usaha penyembuhan, yaitu:

  • Peradangan usus buntu
  • Penyakit batu empedu
  • Endometriosis
  • Kanker pankreas
  • Kanker hati (liver)
  • Kanker ovarium
  • Kanker usus

Jika Anda diharuskan untuk menjalani prosedur ini untuk menyembuhkan penyakit yang diderita, pastikan Anda ditangani oleh dokter terpercaya agar risiko kegagalan tindakan operasi dapat diminimalisir.

Tata Laksana Laparotomi

Dalam penerapannya, laparotomi memiliki 4 (empat) cara yakni:

  • Midline incision
  • Paramedian
  • Transverse upper abdomen incision
  • Transverse lower abdomen incision

Berikut ini adalah tata laksananya mulai dari pra-operasi, saat operasi, dan pasca-operasi.

1. Pra Operasi Laparotomi

Sebelum tindakan operasi dilakukan, berikut adalah beberapa tahapan yang harus dijalani terlebih dahulu:

  • Pemeriksaan (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang)
  • Apabila diperlukan, pasien akan diminta menjalani rawat inap
  • Berpuasa (durasi puasa ditentukan oleh dokter menyesuaikan dengan kondisi pasien)

2. Saat  Operasi Laparotomi

Tahapan operasi laparotomi adalah sebagai berikut:

  • Dokter akan memberikan bius total pada pasien
  • Dokter akan menyayat kulit di area perut sembari tak lupa diberikan cairan antiseptik
  • Setelah organ dalam perut terlihat, dokter akan memeriksa kondisinya
  • Organ maupun jaringan yang terdeteksi bermasalah akan segera ditangani
  • Setelah selesai, sayatan akan dijahit agar tertutup kembali

Apabila masalah pada organ dalam perut tergolong berat, mungkin saja pasien akan kembali menjalani operasi ini dalam beberapa hari ke depan.

3. Pasca Operasi Laparotomi

Pasca tindakan operasi, pasien akan menjalani sejumlah prosedur berikut ini:

  • Observasi sampai efek obat bius hilang
  • Pembersihan lambung menggunakan selang khusus
  • Pemasangan selang kateter untuk mempermudah aktivitas berkemih
  • Menjalani rawat inap untuk beberapa hari ke depan
  • Tidak diizinkan makan dan minum untuk beberapa hari. Sebagai pengganti, pasien akan diberikan cairan infus untuk mencukupi asupan nutrisi harian
  • Terapi fisik oleh dokter selama masa pemulihan

Mungkin masih ada lagi prosedur pasca operasi yang belum disebutkan, namun diterapkan oleh dokter yang menangani. Pastikan Anda mendapat perawatan medis yang tepat.

Efek Samping Laparotomi

Prosedur operasi ini tak lepas dari yang namanya efek samping pasca operasi. Beberapa contoh efek samping tindakan yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut:

  • Infeksi
  • Perdarahan
  • Dehiscence dan eviscerasi
  • Pembentukan jaringan parut

Apabila pasca melakukan operasi Anda mengalami kondisi-kondisi di atas, pastikan dokter melakukan penanganan medis sesegera mungkin guna menghindari komplikasi lanjutan yang lebih serius dan membahayakan diri.

Itu dia informasi mengenai laparotomi yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

 

  1. Anonim. Laparascopy (keyhole surgery). https://www.nhs.uk/conditions/laparoscopy/ (Diakses pada 5 Desember 2019)
  2. Anonim. Laparotomy. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/laparotomy (Diakses pada 5 Desember 2019)
  3. Anonim. Having an Operation (Surgery) – Overview. https://www.nhs.uk/conditions/having-surgery/ (Diakses pada 5 Desember 2019)
  4. Rajaretnam, N dan Burns, B. 2018. Laparotomy (Celiotomy). https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK525961/ (Diakses pada 5 Desember 2019)
  5. Laparatomi: Tinjauan Pustaka. http://repository.unimus.ac.id/2595/5/BAB%20II.pdf (Diakses pada 5 Desember 2019)
  6. Whitlock, J. 2019. Understanding Laparotomy and Laparoscopy Procedures. https://www.verywellhealth.com/what-is-an-exploratory-laparotomy-surgery-3157278 (Diakses pada 5 Desmeber 2019)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi