Terbit: 16 Juli 2020 | Diperbarui: 22 Juli 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang saraf tepi, kulit, dan saluran pernapasan. Ketahui apa itu kusta, gejala, penyebab, pengobatan, pencegahan, dll.

Kusta: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Kusta?

Kusta adalah penyakit yang menyerang kulit, saraf tepi, lapisan hidung, mata, saluran pernapasan bagian atas, otot, hingga menyebabkan cacat. Penyakit kulit ini disebabkan oleh paparan bakteri Mycobacterium leprae yang menular melalui kontak sekresi mukosa (selaput lendir) dari percikan batuk atau bersin orang yang terinfeksi.

Penyakit kusta memiliki beberapa sebutan seperti lepra, penyakit Hansen, dan Morbus Hansen. Penyakit ini dikatakan sebagai penyakit tertua yang pertama kali diketahui sekitar 600 SM. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia.

Penyakit lepra umum terjadi di banyak negara, namun lebih sering terjadi di negara dengan iklim tropis atau subtropis. Penyakit ini sebenarnya tidak menular dengan cepat, namun kontak dekat berulang kali dengan orang yang terinfeksi akan meningkatkan risiko tertular lepra.

Gejala Kusta

Penyakit lepra memengaruhi kulit, jaringan tipis yang melindungi bagian hidung, dan mata. Gejalanya berbeda tergantung pada tingkat keparahan, namun gejala umum meliputi:

  • Luka kulit
  • Lesi kulit, jaringan kulit abnormal berupa penebalan kulit, ruam, bercak, nodul, atau luka
  • Lesi kulit yang menghasilkan penurunan sensasi sentuhan, suhu, atau rasa sakit
  • Kulit mungkin merah akibat peradangan
  • Benjolan yang tidak hilang dalam beberapa bulan
  • Otot lemah
  • Mata rasa di tangan dan kaki
  • Alis atau bulu mata rontok
  • Mata kering
  • Hidung tersumbat
  • Kehilangan tulang hidung
  • Saraf di sekitar siku dan lutut membesar

Gejala penyakit kusta berkembang perlahan-lahan. Umumnya, gejala baru muncul setelah 3-5 tahun setelah terpapar bakteri. Beberapa kasus penderita lepra bahkan baru mengalami gejala setelah 20 tahun kemudian.

Kapan Harus ke Dokter?

Mengingat gejala lepra berkembang sangat lambat, Anda mungkin baru mengunjungi dokter setelah beberapa waktu. Sebaiknya, segera konsultasi pada dokter bila mengalami gejala mati rasa, lesi kulit, dan benjolan yang tidak kunjung sembuh. Apabila tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan cacat parah.

Penyebab Kusta

Berdasarkan laporan dari World Health Organization, ada sekitar 180,000 orang di seluruh dunia yang terkena penyakit lepra. Mayoritas pasien berasal dari Afrika dan Asia. Penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium leprae.

Bakteri M. leprae ditularkan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan sekresi mukosa orang yang terinfeksi. Biasanya, bakteri ini ditularkan dari percikan batuk atau bersin.

Berdasarkan laporan dari New England Journal of Medicine, bakteri penyebab lepra juga mungkin ditularkan dari binatang armadillo. Armadillo adalah binatang asli Amerika Serikat bagian selatan dan Meksiko yang juga menularkan bakteri ke manusia.

Faktor Risiko Kusta

Sebenarnya, lepra adalah penyakit yang tidak terlalu mudah ditularkan. Walaupun demikian, ada beberapa faktor yang membuat Anda rentan terkena penyakit ini, di antaranya:

  • Bepergian di wilayah dengan angka kasus lepra tinggi (kawasan endemik).
  • Memiliki kontak langsung dengan armadillo.
  • Memiliki sistem gangguan kekebalan yang lemah.
  • Memiliki kontak langsung dengan penderita lepra berulang kali.

Baca Juga: Kulit: Struktur, Fungsi, Penyakit, dan Cara Merawatnya

Diagnosis Kusta

Dokter akan melakukan diagnosis lepra dengan beberapa cara, seperti:

  • Pemeriksaan fisik, diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan fisik untuk memastikan gejala lepra.
  • Biopsi, bila dokter mencurigai adanya penyakit lepra, maka dokter akan melakukan biopsi yaitu mengambil sampel kulit dan saraf. Sampel akan diteliti di laboratorium.
  • Smear skin, sampel kulit yang diambil secara smear (kerokan) untuk mengidentifikasi paparan bakteri.
  • Tes kulit lepromin, dilakukan untuk diagnosis jenis lepra.

Dalam beberapa kasus, tes lepra mungkin negatif namun pada pemeriksaan lainnya hasilnya positif. Berdasarkan klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi tersebut diklasifikasikan sebagai:

  • Paucibacillary, memiliki gejala lesi kulit lepra namun tidak ada bakteri Mycobacterium leprae yang terdeteksi.
  • Multibacillary, memiliki gejala lesi kulit lepra dan hasil dari tes lepra dengan skin smear positif. Kemungkinan besar dapat menularkan ke orang lain.

Dokter mungkin akan mengajukan tes atau pemeriksaan lain untuk mendukung hasil diagnosis.

Jenis Kusta

Setiap jenis kusta memiliki gejala dan pilihan perawatan yang berbeda. Berikut ini jenis kusta:

  • Tuberculoid, memiliki gejala hanya beberapa bercak lesi dan berwarna pucat (paucibacillary leprosy). Area lesi kulit mungkin mengalami mati rasa. Kondisi ini cenderung ringan dan tidak terlalu parah.
  • Lepromatous, gejala berupa benjolan dan ruam kulit yang meluas (kusta multibasiler). Penderita lepra ini juga mengalami mati rasa, otot lemak, dan gangguan pada hidung, ginjal, serta organ reproduksi.
  • Borderline, memiliki kedua gejala tuberculoid dan lepromatous.

Ada beberapa jenis kusta dari klasifikasi lainnya seperti Ridley-Jopling classification dan World Health Organization (WHO). Pada dasarnya, gejalanya sama namun tingkat keparahannya berbeda.

Cara Mengobati Kusta

World Health Organization (WHO) memberikan obat gratis untuk semua penderita kusta di seluruh dunia. Berdasarkan laporan, 16 juta penderita kusta sudah disembuhkan dalam dua dekade terakhir.

Obat-obatan yang umum digunakan untuk menyembuhkan penyakit ini adalah antibiotik:

  • Dapson
  • Rifampin
  • Clofazimine
  • Minocycline
  • Ofloxacin

Dokter juga mungkin memberi resep obat antiinflamasi untuk mengatasi kerusakan saraf akibat bakteri M. leprae, termasuk:

  • Aspirin
  • Prednison
  • Thalidomide
  • Steroid
  • Prednison

Umumnya, obat kusta digunakan hingga 6 bulan hingga 1 tahun perawatan. Pasien mungkin juga diberikan obat kombinasi dan obat lainnya untuk sistem kekebalan tubuh.

Baca Juga: 7 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah Penyakit Menular

Komplikasi Kusta

Apabila tidak segera diobati, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius, termasuk:

  • Rambut rontok
  • Hidung tersumbat kronis
  • Mimisan
  • Otot lemah
  • Peradangan iris mata
  • Galukan, kerusakan saraf optik mata
  • Sulit menggunakan kaki dan tangan
  • Kerusakan saraf kaki dan lengan
  • Gagal ginjal
  • Disfungsi ereksi
  • Infertilitas, gangguan kesuburan
  • Kebutaan
  • Cacat permanen

Komplikasi serius terjadi bila saraf rusak. Ini akan menyebabkan mati rasa yang berbahaya.

Cara Mencegah Kusta

Cara mencegah kusta adalah dengan membatasi kontak langsung dengan penderita kusta. Anda juga dianjurkan untuk menghindari kunjungan ke wilayah yang sedang mengalami wabah kusta.

Itulah pembahasan tentang apa itu kusta atau lepra. Lepra adalah penyakit kulit akibat M. leprae yang juga memengaruhi saraf dan organ lain. Kondisi ini bisa disembuhkan dengan pengobatan antibiotik dan obat antiinflamasi. Konsultasikan lagi pada dokter apabila Anda memiliki gejala penyakit ini untuk pengobatan yang lebih tepat.

 

  1. Donohue, Maureen. 2019. Leprosy. https://www.healthline.com/health/leprosy. (Diakses pada 16 Juli 2020).
  2. WebMD. 2019. Leprosy Overview. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/guide/leprosy-symptoms-treatments-history#2-6. (Diakses pada 16 Juli 2020).
  3. WHO. 2020. What is leprosy?. https://www.who.int/lep/disease/en/#. (Diakses pada 16 Juli 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi