Konstipasi pada Anak – Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

konstipasi-doktersehat

DokterSehat.Com– Konstipasi pada anak adalah kesulitan buang air besar (BAB). Ini merupakan kondisi umum yang ditandai dengan feses keras dan kering. Frekuensi normal dan konsistensi BAB bervariasi sesuai dengan usia anak dan pola makan. Konstipasi adalah kasus yang sebagian besar bersifat sementara pada anak.

Seiring bertambahnya usia anak, intensitas BAB per hari akan berkurang. Bayi usia beberapa bulan yang diberi ASI rata-rata BAB 3 kali sehari, dan bayi yang diberi susu formula sekitar 2 kali sehari. Sementara anak usia 2 tahun jumlah BAB <2 sehari, dan anak usia 4 tahun >1 sehari.

Bila BAB buah hari tidak lancar, bagaimana cara mengatasi konstipasi pada anak? Baca terus untuk mencari tahu apa penyebab konstipasi pada anak, pengobatan hingga pencegahannya.

Penyebab Konstipasi

Biasanya, konstipasi atau juga disebut sembelit terjadi ketika feses atau tinja bergerak lambat pada saluran pencernaan, yang menyebabkan tinja menjadi keras dan kering. Selain itu, berikut sejumlah faktor yang menjadi penyebab konstipasi pada anak:

1. Masalah Pelatihan Toilet

Jika Bunda mulai melakukan pelatihan toilet terlalu cepat pada anak, mungkin si kecil akan berontak dan menahan diri. Jika kondisi ini terjadi, terkadang hasilnya akan membiarkan anak mengabaikan keinginan BAB dengan cepat dan ini bisa menjadi kebiasaan buruk yang tidak disengaja.

2. Menunda BAB

Anak mungkin mengabaikan keinginan untuk BAB karena asyik bermain atau takut pergi ke toilet. Ketika jauh dari rumah, sebagian anak mungkin menahan BAB karena merasa tidak nyaman menggunakan toilet umum.

Pergerakan usus yang menyakitkan disebabkan oleh feses besar dan keras dapat menyebabkan menunda BAB. Jika sakit saat BAB, anak mungkin merasa enggan untuk pergi toilet.

3. Perubahan Pola Makan

Konstipasi disebabkan karena anak tidak cukup serat dari buah-buahan dan sayuran atau cairan. Salah satu penyebab konstipasi pada anak yang sering terjadi adalah ketika anak beralih dari makanan serba cair ke makanan padat, seiring bertambahnya usia.

4. Perubahan Rutinitas

Rutinitas anak yang berubah, seperti melakukan perjalanan, beraktivitas di luar rumah, cuaca panas, atau stres, dapat memengaruhi fungsi ususnya. Anak juga lebih rentan mengalami sembelit ketika mulai sekolah.

5. Alergi Susu Sapi

Bagi sebagian anak, alergi terhadap susu sapi atau mengonsumsi produk susu terlalu banyak (keju dan susu sapi) terkadang menjadi penyebab konstipasi pada anak.

6. Riwayat Keluarga

Anak yang memiliki salah satu anggota keluarga yang sering mengalami konstipasi lebih mungkin berisiko konstipasi. Ini mungkin karena faktor genetik atau lingkungan.

7. Kondisi Medis

Meski jarang, konstipasi pada anak menunjukkan cacat anatomi, masalah metabolisme atau sistem pencernaan, dan kondisi lain yang mendasarinya.

8. Obat-Obatan

Penggunaan obat seperti antidepresan tertentu dan berbagai obat lain mungkin menjadi  penyebab konstipasi pada anak.

Faktor Risiko Konstipasi

Berikut beberapa hal yang meningkatkan risiko konstipasi pada anak:

  • Tidak banyak bergerak
  • Tidak cukup serat
  • Tidak minum air yang cukup
  • Minum obat-obatan tertentu (termasuk beberapa antidepresan)
  • Kondisi medis yang mempengaruhi anus atau dubur
  • Kelainan neurologis

Gejala Konstipasi

Gejala utama konstipasi adalah kesulitan buang air besar dengan frekuensi yang lebih jarang dari biasanya (kurang dari tiga kali dalam seminggu).

Secara umum, berikut sejumlah ciri-ciri konstipasi pada anak:

  • Tidak BAB selama bebrapa hari
  • Feses keras menyebabkan BAB menyakitkan
  • Demam
  • Perut kembung
  • Penurunan berat badan
  • Nyeri perut (seperti sakit perut, kram, dan mual)
  • Nafsu makan anak yang buruk
  • Pendarahan pada dubur akibat luka (fisura)
  • Bagian usus yang keluar dari anus (prolaps dubur)

Kadang-kadang anak yang sembelit dapat mengalami diare sehingga hal ini akan membingungkan orang tua. Apa yang terjadi di sini adalah bahwa adanya tinja padat yang terjebak dalam rektum, dan tinja yang agak cair bisa keluar di sekitar tinja yang padat.

Konstipasi pada bayi juga sering dialami dengan gejala yang mirip pada orang dewasa. Tetapi ada beberapa gejala konstipasi lain yang mungkin akan dialami oleh anak-anak dan bayi, seperti sering mengeluarkan bercak-bercak di celana karena tinja yang menumpuk di rektum, tinja atau kentut berbau busuk, serta cenderung terlihat lemas, rewel atau murung.

Diagnosis Konstipasi

Guna mendiagnosis konstipasi pada anak, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengambil riwayat medis. Dokter juga akan bertanya tentang kondisi anak selama konstipasi:

  • Pola buang air besar
  • Pola makan dan kebiasaan makan
  • Pelatihan toilet
  • Masalah kesehatan
  • Obat-obatan

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa perut anak untuk melihat apakah perut bengkak atau lunak, atau memiliki massa atau benjolan. Dokter akan memeriksa rektum anak untuk memeriksa adanya darah atau penyumbatan.

Dokter juga dapat melakukan tes, seperti X-ray, dapat menunjukkan feses yang masih di usus besar. Terkadang tes di laboratorium diperlukan untuk membantu diagnosis masalah kesehatan yang mendasarinya.

Komplikasi Konstipasi

Sembelit pada anak-anak dapat menyebabkan ketidaknyamanan, tapi biasanya tidak serius. Namun, bila kondisi menjadi kronis, mungkin dapat menjadi komplikasi:

  • Saat duduk menjadi menyakitkan di sekitar anus (celah anal)
  • Prolaps dubur, ketika rektum keluar dari anus
  • Menghindari BAB karena rasa sakit, yang menyebabkan feses menumpuk
  • Feses menumpuk di usus besar dan dubur dan bocor keluar (encopresis)

Cara Mengatasi Konstipasi pada Anak

Berikut beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi konstipasi pada anak:

1. Obat Pelunak Tinja

Cara mengatasi konstipasi pada anak yang satu ini tergolong aman, tetapi harus digunakan di bawah pengawasan dokter anak. Kesalahan umum orang tua yang menggunakan pelunak tinja untuk konstipasi adalah tidak menggunakan dosis yang cukup banyak, atau menghentikannya terlalu cepat.

Misalnya, orang tua mungkin berpikir dapat menghentikan memberikan pelunak feses setelah buang air besar pertama kali tampak normal, akan tetapi berhenti yang terlalu cepat ternyata dapat menyebabkan masalah lain pada anak.

Beberapa anak mungkin perlu untuk tetap menggunakan pelunak feses selama beberapa minggu. Dokter dapat menyarankan tentang jadwal pemberian dosis yang tepat untuk anak.

2. Perbanyak Serat dan Cairan

Banyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran, sereal berserat tinggi, roti gandum (minimal 3 sampai 5 gram serat per porsi), dan berbagai kacang-kacangan. Selain itu, makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt, juga dapat meningkatkan kesehatan pencernaan yang baik.

Perlu dicatat, jika anak banyak makan makanan kaya serat tetapi tidak mendapatkan cukup cairan, Anda dapat membuat masalah lebih buruk. Anak harus minum banyak air sepanjang hari, bersama dengan beberapa gelas susu, dan batasi minuman manis.

3. Waktu ke Toilet yang Teratur

Ingatkan anak untuk ke toilet di pagi hari dan setelah makan untuk BAB. Terutama untuk anak yang lebih kecil, beri perintah secara lembut dan jangan memaksa atau meminta.

Guna mendapatkan hasil yang terbaik, cara mengatasi konstipasi pada anak bisa dengan menggabungkan ketiga pendekatan berikut:

  • Perbanyak makan makanan berserat
  • Konsumsi pelunak feses
  • Perbanyak minum cairan

4. Pijat

Pijatlah perut anak dengan lembut untuk mengendurkan otot-otot yang mendukung kandung kemih dan usus, yang membantu meningkatkan aktivitas usus.

5. Akupunktur

Cara mengatasi konstipasi pada anak yang alami ini menggunakan jarum-jarum halus ke berbagai bagian tubuh anak. Terapi ini dapat membantu jika anak mengalami sakit perut terkait konstipasi.

Cara Mengobati Konstipasi pada Bayi

Konstipasi pada bayi biasanya dimulai ketika mulai makan makanan padat. Jika timbul gejala konstipasi pada bayi, seperti kesulitan BAB, melengkungkan punggungnya atau menangis, segera pertimbangkan merubah pola makan yang sederhana:

3. Air atau Jus Buah

Beri bayi sedikit air atau jus apel atau pir setiap hari selain pemberian makanan biasa. Jus ini mengandung sorbitol, pemanis yang berfungsi seperti pencahar. Beri sekitar 60 hingga 120 mililiter jus.

2. Makanan Bayi

Jika bayi mengonsumsi makanan padat, cobalah bubur kacang polong, yang mengandung lebih banyak serat daripada buah dan sayuran lainnya. Atau anda bisa memberinya gandum utuh, gandum atau sereal multigrain, yang mengandung lebih banyak serat daripada sereal beras.

Pencegahan Konstipasi

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu mencegah sembelit pada anak:

  • Mengubah pola makan, termasuk meningkatkan asupan cairan dan beralih ke produk susu rendah lemak (jika sesuai usia).
  • Periksakan anak, apakah dokter menyarankan untuk minum jus. Dokter dapat membantu merencanakan pola makan dengan jumlah serat yang tepat untuk mengobati atau mencegah konstipasi.
  • Meningkatkan asupan buah dan sayuran segar pada anak.
  • Buat jadwal ke toilet secara rutin, atau ingatkan si kecil jika ingin BAB segera ke toilet.
  • Mendorong anak untuk latihan fisik yang ringan secara teratur

 

 

Sumber:

  • Anonim. 2019. Constipation in children. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation-in-children/symptoms-causes/syc-20354242. (Diakses 13 Desember 2019)
  • Anonim. 2017. Constipation in Children. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/abdominal/Pages/Constipation.aspx. (Diakses 13 Desember 2019)
  • Consolini, Deborah M. 2018. Constipation in Children. https://www.msdmanuals.com/professional/pediatrics/symptoms-in-infants-and-children/constipation-in-children. (Diakses 13 Desember 2019)
  • Anonim. 2018. Constipation in Children. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17785-constipation-in-children/prevention%3Fview=print. (Diakses 13 Desember 2019)
  • Hoecker, Jay L. 2019. Infant and toddler health. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/expert-answers/infant-constipation/faq-20058519. (Diakses 13 Desember 2019)