Terbit: 26 April 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Campak adalah salah satu penyakit yang sangat dihindari karena bisa menyebabkan wabah yang sangat besar dalam jangka waktu singkat. Itulah kenapa vaksinasi campak wajib diberikan pada bayi selama periode 5 tahun pertumbuhan. Kalau vaksin tidak diberikan, kemungkinan besar bisa mengalami campak dan memicu banyak sekali komplikasi.

Komplikasi Campak yang Sering Terjadi pada Anak dan Dewasa

Campak pada anak-anak dan dewasa

Sejak kecil kita akan diberi vaksinasi campak sebanyak dua kali. Vaksinasi ini dilakukan untuk membentuk antibodi terhadap virus yang cukup berbahaya itu. Ke depannya, kalau ada wabah campak, tubuh akan bisa bertahan meski beberapa orang masih bisa terkena dampak dari campak kalau tertular secara langsung.

Ada dua golongan usia yang mudah sekali terdampak campak dalam hidupnya. Pertama adalah anak dengan usia di bawah 5 tahun dan dewasa dengan usia di atas 20 tahun. Usia ini cukup rawan mengalami campak dan kemungkinan besar bisa menyebabkan masalah pada tubuh berupa komplikasi.

Karena campak bisa terjadi kapan saja dan pada usia berapa pun, kita disarankan untuk lebih bisa menjaga kesehatan dengan baik. Kalau Anda bisa menjaga kesehatan dengan baik, virus campak tidak akan mudah masuk. Kalau pun masuk ke tubuh dampaknya tidak akan signifikan.

Komplikasi campak yang terjadi pada tubuh

Seseorang yang mengalami campak harus segera ditangani dengan baik berapapun usianya. Kalau tidak ditangani dengan baik, beberapa komplikasi di bawah ini bisa saja terjadi dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

  1. Infeksi pada telinga

Virus tidak hanya menyebabkan tubuh menjadi lemas dan muncul bercak dan juga semacam ruam merah di seluruh tubuh lalu menyebar dengan pesat ke seluruh permukaan. Kondisi ini akan memicu perasaan tidak nyaman yang membuat anak-anak menjadi rewel dan memicu kondisi berbahaya di telinga.

Kalau campak sudah masuk ke telinga, gangguan akan terjadi dalam bentuk penurunan kemampuan mendengar. Kalau kondisi ini tidak segera diatasi dan campak dihentikan perkembangannya, tubuh akan mudah mengalami kehilangan pendengaran secara permanen.

  1. Diare

Diare adalah salah satu gejala dari campak yang paling sering muncul. Kalau kondisi campak tidak segera ditangani dengan baik, peluang terjadi diare akan besar. Pada anak-anak, diare akan sangat berbahaya karena bisa membuat mereka jadi dehidrasi yang cukup parah.

  1. Pneumonia

Sekitar 1 dari 16 orang yang mengalami campak akan mengalami pneumonia. Kondisi ini akan semakin parah kalau bakteri menyebar ke seluruh paru dan menyebabkan gangguan napas. Anak-anak adalah penderita campak yang rentan mengalami pneumonia.

Pneumonia yang tidak ditangani dengan baik akan berdampak besar pada tubuh. Kemungkinan terjadi kematian akan sangat besar.

  1. Encephalitis

Inflamasi yang terjadi di otak dan bisa menyebabkan gangguan seperti pusing, mual, muntah, koma, hingga kematian. Kondisi ini dialami 1 dari 1.000 penderita campak. Orang dewasa cenderung mengalami ini ketimbang anak-anak.

  1. Gangguan kehamilan

Wanita yang sedang hamil dan mengalami campak akan mengalami masalah pada kehamilannya. Kemungkinan melahirkan secara prematur, bayi dengan berat badan rendah, hingga keguguran mendadak bisa saja terjadi.

  1. Komplikasi jangka panjang

Seseorang juga bisa mengalami gangguan pada tubuhnya selama bertahun-tahun meski sudah sembuh dari penyakit campak. Komplikasi jangka panjang itu bernama subacute sclerosing panencephalitis (SSPE). Seseorang dengan komplikasi ini akan mengalami gangguan pada sistem saraf pusat yang berada di dalam otak.

Seseorang bisa mengalami ini sejak usia 1 bulan hingga 27 tahun. Gejalanya terjadi perlahan-lahan meski bisa menyebabkan masalah yang besar di kemudian hari. Beberapa kondisi yang akan dialami tubuh setelah mengalami SSPE adalah kesulitan berpikir, berbicara, sering jatuh saat berjalan, lumpuh, dan mati mendadak.

  1. Kematian

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh WHO, pada tahun 2017 saja ada sekitar 110.000 orang di seluruh dunia meninggal karena campak. Kasus ini terbilang besar dan menyerang anak-anak dan juga dewasa. Pada anak-anak, kondisi pneumonia yang parah kerap menjadi pemicu kematian. Sementara itu pada dewasa kondisi encephalitis adalah penyebab utama kematian.

Dibandingkan dengan jumlah penderita campak di seluruh dunia, angka kematian mungkin memiliki persentase yang tergolong rendah. Meski demikian, penyakit ini mudah sekali menyebar dan menjadi pandemi. Jadi, kemungkinan terjadi gangguan pada tubuh akan besar termasuk kematian.

Mencegah penularan campak

Campak bisa dicegah dengan melakukan beberapa hal di bawah ini. Meski demikian kadang campak tetap bisa muncul pada seseorang meski sudah membekali dirinya dengan baik.

  • Melakukan vaksinasi dengan baik. Vaksinasi bisa dilakukan saat anak-anak masih mudah sekitar usia 15 bulan sekali lalu dilanjutkan pada usia 4-6 tahun. Dengan vaksinasi ini seseorang akan terlindung hingga 95%.
  • Menjaga kesehatan tubuh dengan baik dan rutin melakukan olahraga juga akan membuat tubuh semakin sulit menerima serangan virus campak. Selama Anda memiliki daya tahan tubuh yang baik, peluang terjadi infeksi akan sangat rendah.
  • Menghindari seseorang yang mengalami campak. Berdekatan dengan orang yang menderita campak akan mudah tertular. Apalagi daya tahan yang dimiliki sangat rendah. Kemungkinan terjadi masalah pada tubuh akan semakin tinggi hingga positif terkena campak.
  • Tidak sering berada di luar rumah saat terjadi wabah campak. Meski vaksinasi campak atau MMR sudah banyak digalakkan, kadang kala kita juga kerap kecolongan.

Inilah ulasan tentang campak dan komplikasinya pada tubuh. Seseorang bisa mengalami campak kapan saja meski sudah diberi vaksin. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh dan berhati-hatilah saat berada di lingkungan tempat penderita campak berada. Kalau tanda-tanda campak pada tubuh sudah muncul, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

 


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi