Terbit: 16 September 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kolestasis adalah kondisi ketika aliran empedu dari hati terhambat atau berkurang. Empedu sendiri adalah cairan yang diproduksi hati untuk membantu proses pencernaan makanan, terutama yang mengandung lemak. Simak gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Kolestasis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Kolestasis?

Kolestasis adalah kondisi yang menyebabkan empedu dan bilirubin menumpuk di aliran darah. Kondisi ini bisa terjadi pada usia berapapun, bahkan pada bayi yang baru lahir. Gangguan aliran empedu ini bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, kehamilan, pengobatan, atau penyakit tertentu.

Gejala Kolestasis

Tidak semua orang dengan kondisi ini memiliki gejala, bahkan orang dewasa dengan kondisi kronis sering kali tidak memiliki gejala. Meski begitu, beberapa gejala khas yang bisa dikenali, antara lain:

  • Gatal
  • Kulit atau mata kuning (jaundice)
  • Urine berwarna gelap
  • Tinja berwarna terang
  • Tinja memiliki aroma yang sangat menyengat

Selain beberapa gejala seperti di atas, tanda dan gejala lain yang mungkin terjadi adalah:

  • Sakit perut
  • Warna kulit kusam
  • Nafsu makan menurun
  • Muntah
  • Demam
  • Kelelahan

Bayi yang terkena kondisi ini mungkin menunjukkan tanda-tanda penyakit kuning 3 sampai 6 minggu setelah lahir.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Berikut adalah beberapa kondisi yang mengharuskan Anda untuk segera mendapatkan perawatan medis, seperti:

  • Gatal yang tidak kunjung sembuh
  • Kulit atau mata kuning

Penyebab Kolestasis

Pada dasarnya, Anda bisa mengalami kondisi ini dengan dua cara, masalah yang dimulai dari organ hati (kolestasis intrahepatik) atau masalah yang dimulai di luar hati (kolestasis ekstrahepatik).

Penyebab yang berasal dari dalam organ hati meliputi:

1. Penyakit

  • Virus hepatitis
  • Penyakit hati terkait alkohol
  • Peradangan saluran empedu
  • Kanker yang sampai ke hati
  • Infeksi bakteri (sepsis)
  • Kelainan genetik tertentu, seperti penyakit anemia sel sabit
  • Limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin
  • Penyakit autoimun tertentu
  • Penyakit radang usus, seperti penyakit Crohn
  • Fibrosis kistik

2. Obat-obatan

  • Antibiotik (seperti kombinasi obat amoxicillin dan clavulanate)
  • Antijamur
  • Antipsikotik atau antidepresan
  • Antiinflamasi
  • Antitiroid
  • Obat kontrasepsi oral
  • Obat yang menekan sistem kekebalan

Selain itu, Anda juga bisa mengalami kondisi ini jika mendapat nutrisi parenteral, suatu bentuk pemberian nutrisi yang diberikan langsung melalui pembuluh darah tanpa melalui saluran pencernaan

Penyebab yang berasal dari luar organ hati meliputi:

  • Masalah saluran empedu. Batu empedu, kista, atau tumor dapat menyumbat aliran empedu. Selain itu jika Anda memiliki sirosis bilier primer, hal itu juga bisa menyebabkan saluran empedu menjadi rusak. Bahkan bayi yang baru lahir juga bisa mengalami penyumbatan di saluran empedu (atresia bilier).
  • Pankreatitis: Radang pankreas yang dapat memperlambat aliran empedu.

Faktor Risiko Kolestasis

Kolestasis kehamilan adalah kelainan yang memengaruhi hati selama kehamilan. Kondisi ini menyebabkan penumpukan asam empedu di tubuh. Gejala utamanya adalah kulit gatal tapi tidak ada ruam kulit. Gejala akan berkurang setelah melahirkan. Seorang wanita yang mengandung lebih dari satu janin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini.

Baca Juga: Batu Empedu: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Diagnosis Kolestasis

Diagnosis awal yang bisa dilakukan dokter adalah menanyakan tentang riwayat kesehatan, berapa lama Anda mengalami gejala, dan obat apa yang sedang dikonsumsi. Selain itu, pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk memeriksa apakah Anda memiliki:

  • Pembuluh darah rusak di bawah kulit
  • Limpa atau kantong empedu yang bengkak
  • Penumpukan cairan di perut
  • Sakit perut
  • Nyeri perut kanan atas yang terkadang menjalar ke bahu kanan

Tes lain yang mungkin dibutuhkan untuk membantu menentukan diagnosis adalah:

  • Tes darah. Tes ini dapat menunjukkan seberapa baik hati bekerja. Terdapat dua enzim yang biasanya tinggi jika Anda mengalami kondisi ini, enzim tersebut adalah alkaline phosphatase dan gamma-glutamyl transpeptidase. Akan tetapi, tes ini tidak memberi tahu penyebab yang mendasarinya.
  • Tes pencitraan. Tes ini dapat membantu menemukan penyumbatan atau tumor. Anda mungkin memerlukan USG, CT scan, atau magnetic resonance imaging (MRI).
  • Biopsi hati. Dokter akan mengambil sampel jaringan untuk mengungkapkan lebih banyak kondisi kesehatan organ hati.

Pengobatan Kolestasis

Pada dasarnya, perawatan tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika kondisi disebabkan oleh infeksi maka Anda harus mengatasinya infeksinya, jika disebabkan oleh obat, Anda mungkin harus beralih menggunakan obat lain.

Jika ada sesuatu yang menghalangi saluran empedu, dokter mungkin mengangkatnya dengan atau tanpa operasi. Anda mungkin membutuhkan stent, tabung logam atau plastik yang dapat membuat saluran empedu tetap terbuka.

Selain itu, dokter juga dapat memberi Anda obat untuk membantu mengurangi rasa gatal saat proses penyembuhan. Anda mungkin juga perlu:

  • Berhenti minum alkohol.
  • Konsumsi kalsium, vitamin D, atau vitamin K.
  • Minum obat untuk menurunkan bilirubin.
  • Mengubah pola makan.
  • Menjalani transplantasi hati jika perawatan lain tidak berhasil.

Jika Anda hamil, dokter mungkin akan memberi Anda obat yang disebut ursodeoxycholic acid. Obat ini dapat membantu hati bekerja lebih baik dan mengeluarkan empedu dalam darah. Apabila cara ini tidak berhasil, dokter mungkin menyarankan persalinan lebih awal.

Komplikasi Kolestasis

Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain:

  • Diare
  • Kegagalan organ dapat terjadi jika sepsis berkembang
  • Penyerapan yang buruk dari lemak dan vitamin yang larut dalam lemak
  • Gatal parah
  • Tulang lemah (osteomalacia) karena menderita kondisi ini dalam waktu yang sangat lama

Pencegahan Kolestasis

Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kondisi ini, antara lain:

  • Mendapatkan vaksin hepatitis A atau B.
  • Hindari minuman beralkohol.
  • Hindari penggunaan obat intravena rekreasional.

Segera temui dokter jika Anda mencurigai kondisi ini. Perawatan dini dapat meningkatkan peluang untuk sembuh total.

 

  1. Anonim. Cholestasis. https://medlineplus.gov/ency/article/000215.htm. (Diakses pada 16 September 2020).
  2. Anonim. Cholestasis. https://www.medicinenet.com/whats_cholestasis/article.htm. (Diakses pada 16 September 2020).
  3. Christiano, Donna. 2018. Everything You Should Know About Cholestasis. https://www.healthline.com/health/cholestasis#outlook. (Diakses pada 16 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi