Kolesistitis – Penyebab, Gejala, Diagnosis dan Pengobatan

kolesistitis-doktersehat

DokterSehat.Com – Kolesistitis atau cholecystitis adalah inflamasi kelenjar empedu, organ kecil dekat hati yang membantu pencernaan makanan. Secara normal, cairan yang disebut empedu keluar dari kelenjar empedu melalui jalurnya ke usus halus. Jika aliran empedu tersumbat, empedu tertimbun di dalam kelenjar empedu, sehingga menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan infeksi.

Apa itu  Kolesistitis?

Karena kolesistitis adalah peradangan kantong empedu, terkadang penyakit ini disebut juga serangan kantong empedu. Penyakit kolesistitis bisa terjadi akibat batu empedu yang terjebak di saluran yang mengambil empedu dari kantong empedu menuju usus.

Kolesistitis adalah penyakit bisa terjadi dalam jangka panjang (kronis) atau tiba-tiba (akut). Pada sebagian besar kasus, kolesistitis kronis merupakan peradangan yang terjadi setelah seseorang mengalami kolesistitis akut berkali-kali. Sementara kolesistitis akut terjadi karena adanya penyumbatan di saluran empedu.

Selain itu, kolesistitis atau cholecystitis adalah kondisi yang umum terjadi. Penyakit ini lebih banyak memengaruhi wanita daripada pria dan lebih banyak ditemukan pada mereka yang sudah lanjut usia. Namun, jika kolesistitis tidak disebabkan oleh kantong empedu, para pria lah yang justru lebih sering mengalami penyakit ini ketimbang wanita.

Penyebab Kolesistitis

Adanya batu empedu di dalam duktus sistisis, saluran yang membawa empedu keluar dari kelenjar empedu, merupakan penyebab terbanyak dari kolesistitis yang tiba-tiba (akut). Batu empedu akan menyumbat cairan yang keluar dari kelenjar empedu.

Hal ini dapat mengiritasi kelenjar empedu dan membuatnya bengkak. Infeksi atau trauma, seperti benturan dari kecelakaan mobil juga mampu menyebabkan kolesistitis.

Meskipun jarang terjadi, kolesistitis akalkulus akut merupakan penyebab tersering kondisi kritis pasien kolesistitis sehingga perlu dirawat di ruang rawat intensif (ICU). Pada kasus ini, tidak ada batu empedu yang terbentuk. Komplikasi dari penyakit lain yang berat seperti HIV atau diabetes lah yang menyebabkan pembengkakan.

Kolesistitis jangka panjang atau cholecystitis kronis adalah merupakan bentuk lain dari kolesistitis. Ini terjadi ketika kelenjar empedu membengkak terus menerus, sehingga menyebabkan dinding kelenjar empedu menjadi bengkak dan keras.

Gejala Kolesistitis

Gejala terbanyak kolesistitis adalah nyeri di perut kanan atas yang kadang-kadang bergerak memutar ke punggung atau bahu kanan. Gejala lainnya meliputi:

  • Mual atau muntah.
  • Menurunnya nafus makan.
  • Nyeri ketika ditekan di perut kanan atas.
  • Demam (menandakan adanya infeksi).
  • Nyeri yang bertambah buruk ketika menarik napas dalam.
  • Nyeri lebih dari 6 jam, khususnya setelah makan.

Orang-orang yang lebih tua mungkin tidak demam atau nyeri. Gejala mereka hanya ketidaknyamanan di abdomen (perut) saja. Pada umumnya, rasa sakit muncul setelah mengonsumsi makanan, terutama makanan berlemak dan bisa menjalar tulang belikat kanan atau punggung.

Diagnosis Kolesistitis

Diagnosis kolesistitis dimulai saat dokter mulai memeriksa perut (bagian bawah tulang iga kanan) untuk mencari apakah ada nyeri yang dirasakan. Metode ini dinamakan Murphy’s sign. Selain itu, Anda juga akan disarankan melakukan pemeriksaan lab darah dan USG.

Tes darah diperlukan untuk memeriksa apakah terdapat tanda-tanda radang, infeksi, atau masalah lain di dalam kantong empedu. Sedangkan USG diperlukan untuk menunjukkan apakah ada batu empedu, penebalan di dinding kelenjar empedu, cairan berlebih, dan tanda lain dari kolesistitis. Tes ini juga membuat dokter mengetahui ukuran dan bentuk kelenjar empedu.

Pengobatan Kolesistitis

Terdapat beberapa cara yang bisa Anda gunakan untuk mengatasi kolesistitis, mulai dari pengobatan medis hingga pengobatan rumahan. Obat kolesistitis bisa digunakan untuk melarutkan batu namum membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Sedangkan untuk pengobatan di rumah dan perubahan gaya hidup  bisa Anda coba untuk mengatasi kolesistitis adalah:

  • Menjaga berat badan ideal.
  • Menghindari makanan-makanan yang mengandung tinggi lemak.
  • Jangan makan terlalu cepat.
  • Tidak menjalankan diet ketat. Penurunan berat badan secara drastis dapat meningkatkan risiko terkena kolesistitis.

Pada dasarnya, tatalaksana untuk kolesistitis adalah tergantung pada gejala dan keadaan umum kesehatan Anda. Orang dengan batu empedu dapat saja tidak bergejala dan tidak membutuhkan pengobatan.

Pada kasus yang ringan, terapi kolesistitis meliputi pengistirahatan usus, pemberian cairan dan antibiotik dilakukan melaui pembuluh darah vena, dan pasien juga diberikan pereda nyeri.

Operasi

Tatalaksana utama dari kolesistitis akut (tiba-tiba) adalah operasi untuk mengambil batu empedu (kolesistektomi). Sering kali operasi ini diakukan melalui incisi kecil di abdomen (laparoskopik kolesistektomi), namun kadang-kadang membutuhkan operasi yang lebih luas.

Dokter akan mencoba meredakan bengkak dan iritasi di kelenjar empedu sebelum operasi dilakukan. Kadang, kolesistitis akut disebabkan oleh batu empedu lebih dari 1 buah yang terperangkap di saluran utama empedu yang menuju usus halus, disebut duktus biliaris komunis.

Tatalaksana meliputi prosedur endoskopik (endoskopi retrograd kolangiopankreatografi, atau disebut ERCP) untuk mengambil batu-batu di duktus biliaris komunis sebelum kelenjar empedi diambil.

Pada kasus yang jarang dari kolesistitis kronik, Anda dapat menerima pengobatan yang menghancurkan batu empedu dalam jangka waktu tertentu.

Komplikasi Kolesistitis

Apabila penyakit kolesistitis tidak mendapatkan penanganan dengan serius, hal itu bisa memicu komplikasi serius. Pecahnya kantong empedu merupakan komplikasi utama yang mengancam. Dampak lainnya adalah jaringan kantong dan empedu yang mati.

Kedua komplikasi tersebut dapat menyebabkan infeksi yang serius pada rongga perut yaitu peritonitis. Oleh karena itu, pengobatan yang segera sangat penting dilakukan.

Pencegahan Kolesistitis

Pencegahan utama untuk kolesistitis pada orang sehat yang berisiko tinggi adalah dengan menjaga kebersihan makanan, di mana hal ini berguna untuk mencegah infeksi. Selain itu, membatasi asupan lemak jenuh, menjaga kadar kolesterol, meningkatkan asupan buah dan sayur buntuk mengikat sebagian kecil empedu di usus, dan yang terakhir jangan lupa konsumsi minimal 8 gelas air mineral setiap hari untuk menjaga kadar air yang tepat dari cairan empedu.