Terbit: 27 Agustus 2020
Ditulis oleh: dr. Lovira Ladieska | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Kista saat hamil adalah kondisi yang dikhawatirkan oleh ibu hamil. Perlu diketahui bahwa kista adalah keadaan yang dipengaruhi oleh infeksi, hormon, radang, atau genetik di mana terdapat kantung atau benjolan berisi cairan, udara, zat padat, atau semi padat yang tumbuh pada bagian organ tubuh. Benjolan tersebut dapat tumbuh menjadi benjolan yang jinak ataupun ganas. Temukan penjelasan lengkap mengenai kista pada kehamilan dalam artikel ini!

Kista saat Hamil: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pencegahan

Bahaya Kista saat Hamil

Rata-rata kista yang ditemukan pada wanita hamil adalah kista jinak yang tidak memerlukan operasi. Kista yang dicurigai mengarah ke arah keganasan (kanker) ditemukan hanya pada 0,004-0,04% dari populasi wanita hamil di dunia, dan diperlukan pemeriksaan tumor marker untuk mengkonfirmasi apakah kista itu mengarah ke keganasan. Namun biasanya kista yang ganas terjadi pada wanita hamil yang memiliki riwayat kanker sejak sebelum kehamilan.

Penyebab Kista saat Hamil

Pada dasarnya penyebab dari terbentuknya kista pada wanita hamil adalah naik turunnya hormon yang diproduksi oleh ovarium atau indung telur. Fluktuasi hormon ini merupakan hal yang fisiologis atau normal pada wanita dengan siklus menstruasi yang teratur. Oleh karena itu, kista pada wanita hamil lebih sering tidak membahayakan dan tidak membutuhkan operasi.

Jenis Kista yang Sering Ditemukan pada Kehamilan

Jenis kista yang sering ditemukan pada wanita hamil adalah kista ovarium atau kista pada organ indung telur. Terdapat dua jenis kista ovarium pada wanita hamil:

  • Functional ovarian cysts (kista ovarium fungsional): Kista ini berkembang sebagai bagian dari siklus menstruasi dan disebabkan oleh naik turunnya hormon.
  • Pathological ovarian cysts (kista ovarium patologis): Kista ini terbentuk dikarenakan pertumbuhan sel yang abnormal. Kista ini jarang terjadi pada wanita hamil.

Pada wanita hamil, kista ovarium fungsional lebih sering terjadi. Beberapa diantaranya adalah kista folikuler, kista corpus luteum, endometrioma, dan kista teka lutein. Semua yang disebutkan tadi adalah bagian dari organ indung telur wanita.

Baca Juga: Kista: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Gejala Kista saat hamil

Kasus kista pada kehamilan biasanya asimptomatik atau tidak menimbulkan gejala, namun beberapa gejala dapat muncul apabila terjadinya torsio ovarium (terpuntirnya ovarium), ruptur kista ovarium (pecahnya kista ovarium), atau kista dengan ukuran yang terlalu besar (diameter diatas 5 cm) adalah:

  1. Nyeri saat berhubungan seksual (dyspareunia)
  2. Nyeri perut hingga punggung bagian bawah
  3. Menstruasi yang tidak teratur
  4. Mual dan muntah
  5. Nyeri atau perasaan tertekan saat buang air kecil
  6. Sulit mencerna makanan
  7. Sulit menahan buang air kecil
  8. Perut terasa penuh dan begah

Apabila dari gejala di atas muncul dengan intensitas yang sangat parah dan mengganggu tanda vital dari wanita hamil, kehamilan ektopik terganggu (KET) dapat dimasukkan sebagai salah satu kemungkinan penyebab.

Pengobatan Kista saat Hamil

Kebanyakan kasus kista yang ditemukan pada wanita hamil tidak membahayakan dan tidak membutuhkan tindakan. Tindak lanjut seperti operasi terbuka atau laparoskopi biasanya dilakukan pada trimester kedua. Hal ini disebabkan resiko keguguran akan meningkat apabila operasi dilakukan sebelum trimester kedua.

Apabila dilakukan setelah trimester kedua, komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur kista, perdarahan, peritonitis (infeksi pada seluruh perut), dan persalinan prematur. Indikasi dilakukan tindakan operasi pada wanita hamil apabila:

  1. Terdapat gejala yang muncul dan mengganggu kualitas hidup ibu hamil dan janin
  2. Terpuntirnya kista (Torsio Ovarium)
  3. Pecahnya kista (Ruptur Kista)
  4. Ukuran kista yang besar dengan diameter lebih dari 5 cm
  5. Kista yang semakin membesar
  6. Kista yang dicurigai mengarah ke arah keganasan atau kanker
  7. Kista tidak mengecil atau hilang dalam kurun waktu 18 minggu.

Diagnosis Kista saat hamil

Secara garis besar pada wanita hamil, kista biasanya terdeteksi ketika pasien melakukan Antenatal Care atau pemeriksaan kontrol kandungan rutin melalui USG. Dokter spesialis kandungan dapat mendiagnosis kista ovarium dengan cara berikut:

  • Anamnesis

Anamnesis atau menanyakan riwayat penyakit kepada pasien merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Dokter spesialis akan menggali apakah ada gejala yang muncul seperti yang telah disebutkan di atas, kemudian menanyakan siklus, durasi, dan frekuensi menstruasi sebelum hamil, serta riwayat penyakit kista atau kanker sebelum kehamilan pada pasien dan keluarga pasien.

  • Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan bimanual atau pemeriksaan dalam vagina untuk meraba adanya kemungkinan benjolan atau adanya perdarahan yang abnormal.

  •  Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah USG dan MRI. Pemeriksaan yang direkomendasikan karena lebih aman untuk ibu hamil dan aksesnya lebih mudah didapat adalah USG, baik itu USG abdominal atau transvaginal.

Pemeriksaan USG memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi untuk mengetahui karakter dan bentuk dari kista, sehingga dapat membantu menegakkan diagnosis kista ke arah jinak atau keganasan. USG transvaginal lebih direkomendasikan karena kepala alat USG (probe) dapat mencapai ovarium lebih maksimal sehingga didapatkan hasil pemeriksaan yang lebih akurat.

Baca Juga: Kanker Rahim: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Pencegahan Kista pada Kehamilan

Tidak ada pencegahan khusus yang dapat dilakukan untuk mencegah terbentuknya kista pada wanita hamil. Disarankan kepada wanita hamil untuk:

  • Menjalani pola hidup sehat
  • Olahraga secukupnya
  • Makan makanan dengan nutrisi yang baik
  • Tidur cukup
  • Rutin kontrol kehamilan sesuai anjuran WHO

Selama kista itu tidak memberikan gejala dan tidak membesar secara masif, kista pada kehamilan dapat diterapi secara konservatif atau akan menghilang sendiri seiring dengan perubahan hormon pada masa kehamilan.

 

  1. Blocker, Wayna. 2020. Ovarian Cysts. https://www.emedicinehealth.com/ovarian_cysts/article_em.htm. (Diakses pada 23 Agustus 2020).
  2. de Haan J, Verheecke M, Amant F. Management of ovarian cysts and cancer in pregnancy. Facts, Views Vis ObGyn [Internet]. 2015;7(1):25–31. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25897369%0Ahttp://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC4402440. (Diakses pada 23 Agustus 2020).
  3. Dubey C. Management of Adnexal Masses in Pregnancy. Controv Obstet Gynecol. 2014;72–72. (Diakses pada 23 Agustus 2020).
  4. Elhalwagy H. Management of ovarian masses in pregnancy. Trends Urol Gynaecol Sex Heal. 2009;14(1):14–8. (Diakses pada 23 Agustus 2020).
  5. Penn Medicine. 2016. Ovarian Cysts and Pregnancy: Could A Cyst Stop Me from Having a Baby?https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/fertility-blog/2016/august/ovarian-cysts. (Diakses pada 23 Agustus 2020).
  6. Ross, Elisa. 2016. Ovarian Cysts. http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/womens-health/ovarian-cysts. (Diakses pada 23 Agustus 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi