Terbit: 13 Desember 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Demi menjaga suasana tetap sejuk di dalam ruangan, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menggunakan air conditioner (AC). Namun bagi beberapa orang cara ini cukup menyita banyak biaya. Guna menggantikan peran AC, banyak orang menggunakan kipas angin. Namun, tahukah Anda bahaya kipas angin bagi kesehatan?

Tidur Terpapar Kipas Angin, Berbahayakah bagi Kesehatan?

Bahaya Tidur dengan Kipas Angin, Mitos atau Fakta?

Banyak orang yang menggunakan kipas angin saat tidur demi membantu suhu ruangan menjadi lebih sejuk. Sebagaimana diketahui, suhu udara di Indonesia–termasuk saat malam hari cenderung tetap panas atau hangat. Dengan memakai kipas angin, maka suhu ruangan akan menjadi lebih nyaman dan Anda pun akan tidur dengan lebih nyenyak.

Menurut pakar kesehatan, bahaya kipas angin bagi kesehatan belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Sejumlah kabar beredar di masyarakat mengatakan, bahwa penggunaan kipas angin bisa menyebabkan paru-paru basah, tentu hal ini tidaklah tepat.

Sedangkan paru-paru basah atau dalam dunia medis menyebutnya sebagai TBC disebabkan karena adanya infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri endemik yang berada di seluruh Indonesia dan keberadaannya tidak dipengaruhi oleh kipas angin.

Selain itu, mitos lain yang beredar di masyarakat mengatakan bahaya kipas angin adalah menjadi penyebab kematian dini. Seperti halnya paru-paru basah, bahaya kipas angin ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Jadi, tidaklah tepat menyalahkan kipas angin menjadi pemicu masalah kesehatan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Cetaphil Promo - Advertisement

Lantas, apakah hal ini berarti Anda tetap bisa menggunakan kipas angin saat tidur tanpa perlu khawatir bahaya kipas angin?

Pakar kesehatan mengatakan, Anda tidak perlu mengkhawatirkan bahaya kipas angin. Pastikan saja ruangan yang Anda tempati memiliki ventilasi demi memastikan suplai oksigen ke dalam ruangan.

Jika ruangan tertutup rapat, maka otomatis kadar oksigen semakin menipis dan hal ini bisa membuat suhu ruangan menjadi lebih hangat. Selain itu, kekurangan oksigen juga bisa menyebabkan asfiksia.

Asfiksia adalah kondisi berkurangnya pasokan oksigen ketika bernapas dalam waktu yang lama. Apabila tidak segera mendapatkan penanganan, kondisi ini bisa menyebabkan koma atau kematian.

Selain itu, ada baiknya Anda juga tidak mengarahkan kipas angin langsung ke tubuh. Cobalah untuk mengarahkannya ke tembok, karena hal ini sudah menurunkan suhu udara dengan efektif.

Jangan lupa, selalu bersihkan baling-baling kipas angin karena jika sampai penuh dengan debu, maka Anda akan menghirup debu dan berbagai kotoran yang dikhwatirkan bisa menyebabkan gangguan pernapasan atau alergi.

Bahaya Kipas Angin yang Mungkin Terjadi

Meski bahaya kipas angin bagi kesehatan adalah mitos belaka, namun apabila penggunaan kipas angin ini berlebihan, terdapat efek negatif yang bisa terjadi pada tubuh Anda. Pakar kesehatan mengungkapkan, bahaya kipas angin bisa menyebabkan kotoran dan debu di ruangan menjadi beterbangan dan berpotensi untuk dihirup.

Hal ini menjadi berbahaya apabila Anda mempunyai bayi atau anak kecik yang sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna. Risiko yang bisa dialami adalah mengalami infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia, faringitis, bronkhitis, rhinitis, atau tonsilitis.

Oleh karenanya, sebuah ruangan sebaiknya memiliki sirkulasi udara dari luar dan mendapatkan sinar matahari yang cukup untuk menghindari pertumbuhan jamur atau bakteri. Sebuah penyakit berisiko muncul apabila satu-satunya sirkulasi di dalam ruangan adalah kipas angin.

Bahkan, bahaya kipas angin bisa menyebabkan seseorang menjadi lebih sensitif untuk mengalami alergi. Alergi yang bisa muncul berupa mual, ruam kulit atau sesak napas.

Sebuah penelitian mengungkapkan, bahwa alergi, demam, asma, dan otot kaku merupakan sederet kondisi yang diakibatkan oleh udara yang berputar dari kipas angin. Tidak hanya itu, disebutkan pula bahwa paparan udara dari kipas angin dapat menyebabkan kulit kering.

Namun, beberapa peneliti menyangkal informasi yang menyebutkan dampak buruk paparan udara dari kipas angin, mereka menyebut bahwa kenyataannya tak separah yang dibayangkan.

Menciptakan Udara yang Bersih di Dalam Ruangan

Guna mengurangi munculnya risiko alergi atau gangguan pernapasan lainnya, hal penting yang harus dilakukan membersihkan ruangan secara teratur. Misalnya menyedot debu menggunakan vacuum cleaner, menjaga kebersihan hewan peliharaan, serta tidak merokok di dalam ruangan.

Selain itu, gunakanlah pembersih udara yang memiliki sistem penyaring udara, salah satunya menggunakan penyaring dengan teknologi high efficiency particulate air. Alat pembersih udara ini membuat polutan terperangkap, kemudian mengeluarkan udara yang sudah bersih.

Terdapat pula pembersih udara yang memiliki kemampuan menghasilkan ion-ion yang dialirkan ke udara di sekitar ruangan. Ion-ion ini berfungsi untuk membantu mengurangi penyebaran virus melalui udara yang kerap menimbulkan jamur, penyakit serta aroma lembap yang sering ditimbulkannya.

Pilihlah pembersih udara yang sesuai dengan luas ruangan agar pembersih udara dapat bekerja dengan maksimal. Pembersih udara ini disarankan diletakan di ruangan tempat Anda banyak melakukan aktivitas. Sementara itu, jika Anda memiliki anggota keluarga yang memiliki alergi, sepertinya Anda harus menyediakan alat pembersih udara.

Meski pembersih udara dapat mendukung upaya Anda dalam menciptakan kualitas udara yang baik, Anda juga harus rutin untuk membersihan debu dan kotoran-kotoran lain ada di sudut ruangan secara berkala. Pada akhirnya, kualitas udara dan kesehatan Anda otomatis akan mengalami peningkatan.

Perlu Anda ketahui, polusi udara dapat disebabkan oleh asap rokok, bulu hewan peliharaan, jamur, debu hingga serbuk sari. Beberapa polutan ini berisiko memicu gangguan kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki alergi dan asma.

Sering kali polutan sendiri justru membantu penyebaran penyakit seperti infeksi saluran pernapasan. Efek lanjutannya adalah muncul napas sesak, bersin dan batuk.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi