Terbit: 2 Juli 2020 | Diperbarui: 6 Juli 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Kesemutan atau parestesia adalah kondisi yang pasti pernah dialami oleh semua orang. Kondisi ini menyebabkan area tubuh yang terkena mengalami mati rasa, muncul sensasi terbakar, hingga rasa seperti ditusuk jarum. Meski kondisi ini bisa sembuh tanpa perawatan medis, beberapa orang memiliki parestesia kronis bisa menjadi pertanda cedera atau kondisi saraf yang lebih serius. Simak gejala, penyebab, hingga obat kesemutan di bawah ini.

Kesemutan: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Kesemutan?

Seperti penjelasan sebelumnya, kesemutan adalah kondisi di mana Anda merasakan sensasi kulit seperti ditusuk-tusuk jarum atau sensasi mati rasa. Kondisi yang bisa terjadi di bagian tubuh manapun ini biasanya terjadi karena Anda secara tidak sengaja menekan saraf.

Namun sensasi yang tidak menyenangkan ini bisa pulih setelah Anda mengubah posisi untuk menghilangkan tekanan dari saraf yang terkena.

Gejala Kesemutan

Kesemutan adalah kondisi yang bisa terjadi di bagian tubuh manapun. Akan tetapi, beberapa bagian tubuh seperti tangan dan kaki adalah bagian tubuh yang sering terdampak. Gejala yang bisa muncul seperti:

  • Kelemahan
  • Sensasi geli
  • Sensasi dingin

Pada kasus kesemutan kronis, sensasi seperti ditusuk-tusuk jarum bisa sangat kuat dan menyebabkan kecanggungan anggota tubuh yang terkena. Saat kondisi ini terjadi pada kaki, hal itu menyebabkan Anda sulit berjalan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Meski kesemutan adalah kondisi yang bisa sembuh dengan sendirinya, namun jika gejala yang Anda rasakan bertahan lama dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda memiliki kondisi medis yang mendasar yang membutuhkan perawatan.

Penyebab Kesemutan

Kesemutan sering disebabkan oleh tekanan pada saraf. Tangan kesemutan bisa terjadi saat Anda menindihnya saat tidur atau duduk dengan kaki bersila yang terlalu lama. Sementara kesemutan kronis mungkin merupakan tanda kerusakan saraf. Dua jenis kerusakan saraf yaitu radikulopati dan neuropati.

Radikulopati

Suatu kondisi di mana akar saraf menjadi padat, teriritasi, atau meradang. Kondisi ini dapat terjadi ketika Anda memiliki:

  • Kondisi herniated disk yang menekan saraf tulang belakang
  • Penyempitan kanal yang mentransmisikan saraf dari sumsum tulang belakang ke ekstremitas tubuh
  • Massa apa pun yang menekan saraf saat keluar dari tulang belakang

Sementara itu, radikulopati servikal melibatkan saraf yang memberikan sensasi dan kekuatan pada lengan. Jika Anda mengalami kondisi ini, Anda mungkin mengalami:

  • Sakit leher kronis
  • Kesemutan di area lengan

Neuropati

Kondisi ini terjadi karena kerusakan saraf kronis. Penyebab neuropati yang paling umum adalah tingginya kadar gula darah. Penyebab lainnya yang bisa menyebabkan kondisi ini, antara lain:

  • Trauma
  • Cedera gerakan berulang
  • Penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis
  • Penyakit neurologis, seperti multiple sclerosis
  • Penyakit ginjal
  • Penyakit hati
  • Stroke
  • Tumor di otak atau saraf dekat
  • Sumsum tulang atau gangguan jaringan ikat
  • Hipotiroidisme
  • Defisiensi vitamin B1, B6, B12, E, atau niasin
  • Terlalu banyak vitamin D
  • Infeksi, seperti penyakit Lyme, herpes zoster, atau HIV
  • Obat-obatan tertentu, seperti obat kemoterapi
  • Paparan zat beracun, seperti bahan kimia atau logam berat

Kerusakan saraf akhirnya dapat menyebabkan mati rasa atau kelumpuhan permanen.

Faktor Risiko

Pada dasarnya siapa pun dapat mengalami kesemutan. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko, antara lain:

  • Melakukan gerakan berulang kali yang menekan saraf seperti mengetik, memainkan alat musik, olahraga, atau pekerjaan tertentu.
  • Memiliki asupan nutrisi yang buruk.
  • Menderita diabetes tipe 1 atau 2.
  • Memiliki kondisi autoimun.
  • Memiliki kondisi neurologis, seperti multiple sclerosis.

Diagnosis Kesemutan

Diagnosis pertama yang dilakukan dokter adalah dengan menanyakan gejala dan melakukan pemeriksaan fisik. Ceritakan pada dokter kapan gejala biasa muncul, serta ceritakan juga apa yang membuat gejala bisa semakin memburuk atau membaik.

Selain itu, Anda juga harus menceritakan pada dokter obat atau resep apa saja yang digunakan. Dokter juga dapat mempertimbangkan kondisi kesehatan secara keseluruhan untuk membantu membuat diagnosis. Misalnya, jika Anda menderita diabetes, dokter ingin menentukan apakah terjadi kerusakan saraf atau neuropati.

Berikut ini adalah beberapa pemeriksaan yang dapat disarankan oleh dokter, di antaranya:

  • Nerve conduction study. Ini adalah tes untuk mengukur seberapa cepat impuls saraf berjalan di otot.
  • Elektromiografi (EMG). Ini adalah tes untuk melihat aktivitas listrik bagaimana saraf dan otot berinteraksi.
  • Magnetic resonance imaging (MRI). Ini adalah tes yang dapat digunakan untuk melihat berbagai area tubuh dengan sangat rinci.
  • Ultrasonografi. Ini adalah tes yang digunakan untuk menghasilkan gambar tubuh untuk mencari kompresi atau kerusakan saraf, seperti yang terjadi pada carpal tunnel syndrome.

Pada dasarnya, jenis tes yang disarankan dokter biasanya tergantung gejala dan riwayat medis.

Pengobatan Kesemutan

Pada dasarnya perawatan tergantung pada kondisi yang menyebabkan kesemutan. Berikut adalah berbagai perawatan yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

  • Istirahat

Istirahat adalah salah satu cara yang direkomendasikan untuk kondisi saraf terjepit. Hal ini menjadi penting untuk dilakukan agar jaringan bisa pulih. Selama istirahat, kadang-kadang dibutuhkan penahan untuk menghentikan pergerakan.

  • Terapi Fisik

Terapi fisik dapat digunakan untuk membangun kekuatan pada otot-otot di sekitar saraf yang terkena. Otot yang lebih kuat dapat membantu meringankan kompresi jaringan dan mencegahnya terulang kembali. Otot-otot yang bugar juga dapat meningkatkan fleksibilitas, rentang gerak, dan mobilitas.

  • Obat-Obatan

Beberapa obat kesemutan seperti ibuprofen, naproxen sodium, hingga suntikan steroid ke daerah yang terkena dapat diberikan untuk menghilangkan rasa sakit, mengurangi pembengkakan, dan peradangan. Pada kasus kesemutan kronis karena fibromyalgia, obat-obatan seperti pregabalin atau duloxetine mungkin bermanfaat.

  • Operasi

Jika beberapa perawatan sebelumnya tidak membantu menghilangkan gejala, operasi mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanan pada saraf terjepit.

Pembedahan dapat berarti melepaskan carpal ligament, menghilangkan taji tulang, atau bahkan menghilangkan herniated disk dari tulang belakang. Jenis operasi akan tergantung pada gejala spesifik yang dialami seseorang serta penyebab yang mendasarinya.

Komplikasi Kesemutan

Karena kesemutan dapat disebabkan oleh kerusakan saraf, kegagalan untuk mencari pengobatan yang tepat dapat mengakibatkan komplikasi dan kerusakan permanen. Berikut ini adalah beberapa kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi, antara lain:

  • Sakit kronis
  • Disabilitas
  • Kesulitan bernapas
  • Kelumpuhan
  • Kehilangan sensasi secara permanen
  • Nyeri permanen
  • Kualitas hidup yang buruk

Pencegahan Kesemutan

Meski kesemutan adalah kondisi yang tidak selalu dapat dicegah, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu meminimalkan risiko, di antaranya:

  • Mempertahankan posisi tubuh yang baik sangat penting untuk menghindari tekanan yang tidak perlu pada saraf.
  • Mengubah posisi tubuh sesering mungkin jika Anda berada dalam satu posisi yang sama terlalu lama.
  • Membatasi gerakan berulang. Sering-seringlah beristirahat jika Anda perlu melakukan gerakan berulang.
  • Mempertahankan berat badan yang sehat.
  • Olahraga teratur adalah strategi yang baik untuk membangun otot yang kuat dan sehat.

Jika Anda memiliki diabetes atau penyakit kronis lainnya, pemantauan yang cermat dan manajemen penyakit akan membantu menurunkan kemungkinan mengalami kesemutan.

 

  1. Anonim. What Is Paresthesia?. https://www.webmd.com/brain/paresthesia-facts. (Diakses pada 2 Juli 2020).
  2. Galan, Nicole. 2017. What to know about paresthesia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318845#Prevention. (Diakses pada 2 Juli 2020).
  3. Healthgrades Editorial Staff. Paresthesia. https://www.healthgrades.com/right-care/symptoms-and-conditions/paresthesia#:~:text=What%20are%20the%20potential%20complications,in%20complications%20and%20permanent%20damage. (Diakses pada 2 Juli 2020).
  4. Pietrangelo, Ann. 2017. What Is Paresthesia?. https://www.healthline.com/health/paresthesia#outlook . (Diakses pada 2 Juli 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi