Terbit: 13 Agustus 2018 | Diperbarui: 23 Mei 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Apakah Anda sering sarapan dengan menu oatmeal atau sereal?

Sarapan Oatmeal & Sereal jadi Tak Sehat jika Dilakukan dengan 4 Cara Ini!

Sarapan dengan oatmeal atau sereal, selain praktis dan nikmat, tentu juga super sehat.

Hal ini tentu saja disebabkan kandungan gizi yang lengkap dan cocok untuk memenuhi kebutuhan gizi awal hari.

Sereal, utamanya sereal dari gandum utuh, dan oatmeal, memiliki kandungan unggulan berupa karbohidrat tinggi serat yang bisa memberikan manfaat berupa energi yang cukup untuk awal hari dan rasa kenyang yang mampu dipertahankan dengan baik dalam tubuh.

Sayangnya, ada beberapa kebiasan yang sering dilakukan yang membuat sarapan dengan sereal dan oatmeal menjadi kurang sehat.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Beberapa hal yang membuat sarapan oatmeal dan sereal menjadi tidak sehat, adalah penambahan berbagai bahan yang banyak mengandung gula dan lemak, padahal, seperti yang kita ketahui, penambahan gula dan lemak bukanlah hal yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi awal hari.

Untuk menghindari hal tersebut, berikut beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat mengonsumsi sarapan dengan oatmeal dan sereal:

1. Memilih susu yang tidak rendah lemak untuk campuran oatmeal dan sereal

doktersehat-sereal-gula-susuSusu merupakan jenis minuman yang super sehat sebagai bahan campuran oatmeal dan sereal.

Sayangnya, jika Anda memilih jenis susu yang tinggi lemak, utamanya susu hewani, maka asupan lemak dalam tubuh juga menjadi tinggi.

Solusi:
Agar manfaat dari sarapan oatmeal dan gandum maksimal, pilih susu hewani rendah lemak atau susu dari nabati yang kandungan lemak jenuhnya lebih rendah.

2. Memilih jenis sereal dengan pemanis dan tambahan pewarna

doktersehat-anak-anak-bermain-makan-sereal-playing-kidBeberapa jenis sereal, belakangan ini mulai banyak ditambahkan pemanis, baik berupa cokelat manis ataupun rasa manis lainnya. Hal ini memang meningkatkan cita rasa pada sereal, namun sayangnya, kandungan gula pada sereal juga semakin meningkat.

Kondisi ini bisa menyebabkan tubuh menjadi mudah lapar dan asupan gula di awal hari menjadi berlebihan.

Solusi:
Untuk sereal, utamakan memilih sereal tanpa rasa atau plain. Jika mungkin, utamakan memilih sereal dari gandum utuh yang kandungan seratnya masih tinggi.

3. Memilih topping yang tinggi gula

gula-doktersehat

Photo Credit: flickr/ Gunilla G

Baik sereal maupun oatmeal, biasanya disajikan dengan pendamping makanan dengan bertujuan melengkapi zat gizi dalam menu satu saji sarapan.

Salah satu hal yang bisa dipilih untuk melengkapi kandungan gizi pada oatmeal dan sereal adalah menambahkan topping.

Beberapa jenis topping yang kurang sehat untuk oatmeal dan sereal adalah yang memiliki banyak pemanis, diantaranya:

  • Buah kering yang sangat manis
  • Cokelat manis, atau
  • Gula, baik gula cair, sirup, maupun berbagai jenis gula lainnya

Solusi:
Pilih jenis topping yang sehat dan melengkapi zat gizi yang belum ada pada sereal atau oatemal, yaitu buah segar atau kacang-kacangan.

4. Mengonsumsi oatmeal dengan porsi yang tidak sesuai atau dengan tidak bergizi lengkap

doktersehat-oatmeal-gizi

Photo Credit: Flickr.com/Marco Verch

Mengonsumsi oatmeal untuk sarapan memang sehat, akan tetapi, perhatikan berapa besar kebutuhan zat gizi Anda saat sarapan. Jangan mengonsumsi oatmeal terlalu sedikit atau terlalu banyak.

Selain itu, usahakan mengonsumsi oatmeal dengan sajian yang lengkap,yaitu tambahan protein hewani dari susu dan buah-buahan segar atau kacang-kacangan.

Tips sehat:

Rata-rata kebutuhan karbohidrat harian orang dewasa Indonesiasaat sarapan bisa diperoleh dengan mengonsumsi 8-12 sendok oatmeal kering atau 1 mangkuk besar sereal.

Sajikan dengan tambahan susu rendah lemak atau susu nabati dan pilih topping dari buah yang masih segar, utamakan buah jenis beri yang cocok dengan sajian sereal dan oatmeal serta memiliki kandungan antioksidan yang tinggi untuk tubuh.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi