Terbit: 16 Juni 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Minuman apa yang sering Anda pilih saat lebaran tiba? Ya, saat lebaran memang ada berbagai jenis minuman yang tersedia, tak ayal kita jadi punya banyak pilihan untuk mengonsumsi berbagai jenis minuman tersebut.

Tak Disadari, Ini 4 Kesalahan Pilih Minuman saat Lebaran!

Akan tetapi, dari berbagai piliha minuman tersebut, ada beberapa hal yang justru kerap membuat pilihan minuman kita saat lebaran jadi salah, lho.

Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh asupan makanan atau masakan lain khas lebaran yang sebagian besar diolah dengan banyak santan, gula dan memiliki banyak kalori.

Minuman-doktersehat

Photo Credit: Flickr.com/Luci Correia

Pemilihan minuman yang tidak tepat saat lebaran bisa jadi memberi dampak pula pada asupan kalori dalam tubuh.

Kadar gula dalam tubuh bisa meningkat, atau tubuh bisa jadi mengalami gangguan dengan ketidak tepatan pemilihan jenis minuman yang mengandung zat tertentu. Selain itu, pemilihan suhu minuman dingin atau panas bisa jadi memengaruhi kesehatan dan fungsi tubuh.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Lalu, kesalahan apa saja yang kerap terjadi selama memilih minuman saat lebaran?

Beberapa kesalahan pemilihan minuman yang kerap terjadi saat lebaran disebabkan karena pemilihan jenis, porsi hingga suhu yang tidak tepat. Berbagai kesalahan tersebut diantaranya adalah:

1. Memilih minuman bersuhu dingin

Mengonsumsi minuman dingin setelah makan makanan khas lebaran memang super nikmat. Sayangnya hal ini tidak baik untuk dilakukan lho. Mengapa?

Minuman dingin akan membuat tubuh bekerja lebih keras karena suhu minuman yang tidak sama dengan suhu tubuh. Tubuh harus berusaha menormalkan suhu minuman tersebut dengan suhu tubuh untuk bisa menyerapnya dengan maksimal.

Photo Source: Mr.Tin DC

Hal ini membuat fungsi dan dan sistem tubuh jadi tidak optimal menjalankan fungsinya serta penyerapan zat gizi maupun cairan dari minuman menjadi lebih lambat.

Maka dari itu, memilih minuman dengan suhu ruang atau sedikit hangat saat lebaran bisa jadi pilihan yang tepat.

2. Mengonsumsi minuman manis kemasan

Minuman manis kemasan memang dianggap lebih praktis saat lebaran. Sayangnya minuman manis kemasan memiliki kandungan gula buatan yang cenderung lebih tinggi dari gula biasa.

doktersehat-minuman-buah-pemanis-buatan-juice

Dalam satu porsi minuman kemasan, umumnya separuh jatah konsumsi gula harian Anda sudah bisa terpenuhi.

Maka dari itu, sebisa mungkin hindari minuman kemasan dan gantilah dengan air putih, air mineral atau minuman lain yang tanpa kalori.

3. Memilih minuman bersoda

Mirip dengan minuman manis kemasan, namun kandungan gula yang ada pada minuman bersoda lebih tinggi dari minuman kemasan biasa. Hal ini yang kemudian menyebabkan minuman bersoda sebaiknya Anda batasi saat lebaran.

doktersehat-minuman-soda

Selain itu minuman bersoda rentan menyebabkan gangguan pencernaan karena adanya kadar gas akibat proses karbonasi minuman. Hal ini berisiko menyebabkan perut mengalami gangguan berupa kembung atau begah. Sebisa mungkin sebaiknya Anda hindari mengonsumsi minuman bersoda saat lebaran.

4. Mengonsumsi minuman manis dalam porsi berlebihan

Coba perhatikan berapa kali Anda mengonsumsi minuman manis saat lebaran? Puasa atau lebaran bukan menjadi alasan kita bisa mengonsumsi minuman manis berlebihan.

Perhatikan bahwa batasan konsumsi minuman manis dalam satu hari adalah sebanyak lima porsi. Hal ini setara dengan penggunaan gula pasir sebanyak 5-6 sendok makan dalam sehari.

Satu sendok makan gula pasir juga setara dengan 1-2 sendok makan susu kental manis atau sirupya.

sirup_manis_doktersehat_1

Photo Source: Flickr/blumenbiene

Agar lebih terkontrol, usahakan Anda menggunakan gula atau pemanis secara terpisah saat lebaran, selain itu penggunaan pemanis yang lebih sehat, misalnya madu yang tinggi antioksidan, bubuk kayu manis atau sari buah dan kurma, bisa jadi pilihan alternatif bahan makanan manis yang baik dipilih saat lebaran.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi