Terbit: 16 Maret 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com -Tubuh membutuhkan banyak sekali nutrisi untuk bisa menjalankan fungsinya dengan sempurna. Tubuh membutuhkan nutrisi tidak hanya dalam bentuk protein, lemak, dan karbohidrat saja. Lebih dari itu ada banyak nutrisi yang dibutuhkan dan berasal dari jenis logam seperti zat besi atau tembaga.

Keracunan Tembaga: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Kalau kandungan logam yang masuk ke dalam tubuh tidak terlalu banyak dan sesuai dengan kebutuhan, kita tidak akan keracunan. Bahkan, fungsi organ bisa berjalan dengan baik. Namun, kalau konsumsi beberapa jenis logam justru berlebihan, tubuh akan mengalami keracunan seperti keracunan tembaga.

Dosis tembaga yang aman untuk tubuh

Tembaga dibutuhkan untuk tubuh meski termasuk logam berat. Fungsi utama dari tembaga untuk tubuh adalah membantu pembentukan tulang, menjaga persendian, dan ligamen yang ada di seluruh tubuh. Kalau kebutuhan tembaga sampai mengalami penurunan, kemungkinan besar Anda akan mengalami masalah dengan tulang dan kemampuan bergerak.

Umumnya tembaga di dalam tubuh memiliki berat sekitar 50-80 mg. Tembaga ini banyak ditemukan di otot dan juga hati. Kalau tubuh mengalami kelebihan tembaga kemungkinan besar akan disaring dan dibuang menjadi produk sisi ke urine atau feses sehingga ada perubahan warna pada dua produk sisa itu.

Selain muncul pada hati dan otot, tembaga juga akan muncul pada darah. Kadar tembaga normal yang ada pada darah sekitar 70-140 mcg/dL. Kalau kadarnya berada di atas itu bisa dipastikan mengalami kelebihan tembaga dan kemungkinan besar akan menyebabkan keracunan.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Penyebab keracunan tembaga

Keracunan tembaga bisa terjadi karena tiga hal. Kalau salah satu dari tiga ini terjadi pada Anda, kemungkinan besar keracunan akan muncul dengan derajat keparahan yang berbeda-beda.

  1. Tembaga di air

Keracunan tembaga pertama yang bisa terjadi disebabkan oleh air. Kondisi ini biasanya terjadi pada masyarakat perkotaan yang memanfaatkan air dari penyedia jasa air minum. Air yang didapatkan akan mengalir dari pipa yang terbuat dari tembaga selama berjam-jam dan setiap hari. Akibatnya akan ada komponen tembaga yang ikut masuk ke air dan dikonsumsi.

Mengatasi masalah ini, beberapa perusahaan air minum mungkin menggunakan saluran yang aman dan tidak memiliki risiko membawa partikel logam. Namun, tembaga bisa masuk dari mana saja. Apalagi air yang digunakan untuk minum sering berasal dari air sungai atau air lain yang hanya dibersihkan saja. Nah, pembersihan ini kadang masih menyisakan elemen logam beratnya.

  1. Tembaga di makanan

Keracunan tembaga dari makanan dan minuman juga bisa terjadi. Misal wadah yang digunakan untuk menyajikan makanan terbuat dari tembaga. Atau menggunakan makanan dengan kandungan tembaga tinggi dalam jumlah banyak. Meski keracunan sangat langka kita tidak boleh menyepelekannya.

Selanjutnya dari minuman bisa terjadi kalau mengonsumsi minuman yang dibuat dari wadah yang terbuat dari tembaga. Misal sedang ingin minum cocktail yang cara buatnya dicampur dengan banyak bahan dan dikocok pada wadah logam. Kemungkinan ada partikel tembaga yang ikut terbawa masuk akan tetap ada.

  1. Kondisi medis tertentu

Selain karena pengaruh makanan dan juga minuman, keracunan tembaga ini juga bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu. Kondisi ini menyebabkan seseorang tidak bisa menggunakan tembaga dengan baik di dalam tubuh dan hati tidak bisa menyaring dan membuang sisanya. Tubuh yang tinggi tembaga akhirnya mengalami keracunan. Kondisi yang menyebabkan masalah ini terdiri dari:

  • Penyakit hati apa pun jenisnya selama fungsi hati mengalami penurunan fungsi.
  • Anemia yang cukup parah sehingga sel darah merah menjadi sedikit.
  • Masalah dengan tiroid termasuk kelenjarnya.
  • Kanker darah leukimia.
  • Penyakit wilson’s
  • Rheumatoid arthritis.

Tanda keracunan tembaga

Keracunan tembaga bisa terjadi dengan mudah dan kadang susah diketahui. Tanda umum yang menunjukkan apakah Anda mengalami keracunan tembaga atau tidak terdiri dari:

  • Mendadak pusing setelah makan sesuatu.
  • Mengalami demam.
  • Tubuh terasa tidak sehat seperti sering sakit di beberapa bagian tubuh.
  • Sering mual dan saat muntah ada darah yang ikut keluar. Kalau sudah pada tahap ini ada baik segera ke dokter.
  • Diare yang cukup parah.
  • Feses yang keluar memiliki warna hitam.
  • Nyeri di perut.
  • Mata dan kulit mengalami perubahan warna menjadi kuning akibat penurunan fungsi hati.
  • Sering tersinggung.
  • Sudah dalam melakukan konsentrasi.
  • Perubahan mood yang sangat mendadak.
  • Sering mengalami sedih dan depresi.

Cara mengatasi keracunan tembaga

Keracunan tembaga bisa terjadi pada siapa saja. Kalau Anda merasa mengalami keracunan, lakukan beberapa hal di bawah ini.

  • Chelation. Obat akan diinjeksikan ke pembuluh darah. Obat akan melakukan pengikatan tembaga yang berlebihan. Selanjutnya tembaga akan dibawa ke ginjal untuk disaring dan dibuang bersamaan dengan pengeluaran urine.
  • Pemompaan perut (gastric lavage). Metode ini dilakukan untuk membuang tembaga yang ada di perut dari makanan dan minuman.
  • Beberapa jenis obat bisa digunakan untuk mengatasi keracunan tembaga yang dialami oleh tubuh. Obat ini biasanya diikuti dengan perawatan lainnya. beberapa obat oral yang sering digunakan terdiri dari penicillamine atau dimercaprol. Obat ini harus dengan resep dokter, ya.
  • Hemodialisis atau cuci darah. Cara ini dilakukan sama dengan penderita gagal ginjal yang tidak bisa membuang racun dari darahnya. Aliran darah di dalam tubuh akan dikeluarkan dan disaring sebelum akhirnya dikembalikan lagi ke dalam tubuh sampai tembaganya habis atau tinggal sedikit.

Keracunan tembaga bisa terjadi karena banyak hal seperti dari minum air. Mengingat kita sering dekat dengan penyebabnya, ada sebaiknya memahami beberapa tanda di atas sehingga kalau tubuh mengalami keracunan Anda bisa dengan mudah mengetahui dan segera mengatasinya. Semoga ulasan di atas bermanfaat untuk Anda.

 


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi