Terbit: 10 Januari 2020 | Diperbarui: 13 Mei 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Keracunan kehamilan adalah istilah umum yang digunakan untuk preeklampsia. Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan dengan gejala tekanan darah tinggi dan kerusakan pada sistem organ lain pada wanita hamil. Ketahui apa itu keracunan kehamilan, penyebab, cara menangani, makanan pencegah keracunan kehamilan, dll.

Keracunan Kehamilan: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dll

Apa Itu Keracunan Kehamilan?

Keracunan kehamilan adalah sebutan umum yang digunakan untuk menjelaskan kondisi preeklampsia dalam kehamilan.

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan yang umumnya terjadi pada masa akhir kehamilan atau menginjak 20 minggu usia kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, pembengkakan di kaki dan tangan, serta terdapatnya protein di urin wanita hamil.

Gejala preeklampsia juga ditandai dengan kerusakan pada sistem organ lainnya seperti hati dan ginjal yang intensitasnya mulai dari ringan hingga berat. Jika tidak ditangani dengan benar dan cepat, gejala preeklampsia tersebut dapat berakibat fatal dan berisiko kematian pada janin.

Apabila Anda didiagnosa preeklampsia, cara paling tepat untuk mengatasinya adalah dengan segera melahirkan bayi tersebut untuk menghindari Anda dan bayi dari komplikasi kehamilan yang lebih serius. Pasca melahirkan, ibu dan bayi mungkin membutuhkan perawatan yang intensif selama 1 hingga 6 minggu sesuai dengan kondisinya.

Karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk mengetahui gejala preeklampsia sejak dini dengan berkonsultasi pada dokter. Dokter akan memberikan perawatan pranatal secara teratur dan membantu Anda untuk mengurangi risiko komplikasi kehamilan lainnya.

Gejala Keracunan Kehamilan

Keracunan kehamilan kadang tidak memiliki gejala apapun atau tidak dirasakan oleh ibu hamil, namun ciri khas kondisi ini adalah tekanan darah tinggi yang melebihi 140/90 mm Hg. Tekanan darah tinggi ini dapat terjadi tiba-tiba atau berkembang secara lambat menjelang akhir masa kehamilan.

Berikut ini adalah gejala preeklampsia yang paling umum, yaitu:

  • Tekanan darah tinggi.
  • Mual dan muntah.
  • Nyeri di bagian perut atas.
  • Nyeri di sekitar bawah tulang rusuk di bagian sisi kanan.
  • Sakit kepala parah.
  • Terdapat protein dalam urine atau disebut juga dengan proteinuria.
  • Mengalami masalah ginjal.
  • Penurunan output urine.
  • Nafas terasa pendek karena terdapat cairan di paru-paru.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Penurunan kadar trombosit.

Tanda-tanda keracunan kehamilan lainnya adalah ibu hamil mengalami edema atau pembengkakan di wajah dan tangan yang diikuti dengan berat badan bertambah, namun edema juga umum terjadi pada kehamilan yang sehat dan normal.

Karena itu, sangat penting bagi ibu hamil untuk memeriksa kandungannya secara teratur agar dapat mengidentifikasi apakah ada komplikasi kehamilan dan kondisi lainnya terkait kesehatan ibu dan bayi.

Baca Juga: Kenali Bahaya Preeklampsia pada Ibu Hamil

Faktor Risiko Keracunan Kehamilan

Berikut ini faktor yang meningkatkan risiko ibu hamil mengalami keracunan kehamilan, yaitu:

  • Anda memiliki keluarga dengan riwayat preeklampsia sebelumnya.
  • Anda memiliki riwayat hipertensi kronis.
  • Preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan pertama.
  • Preeklamsia juga dapat terjadi pada kehamilan kedua atau ketiga dengan pasangan yang sama.
  • Kehamilan pada wanita berusia lebih dari 40 tahun.
  • Wanita kulit hitam memiliki risiko lebih tinggi terkena preeklampsia daripada ras lain.
  • Wanita dengan obesitas.
  • Wanita yang hamil anak kembar dua atau lebih.
  • Wanita yang hamil dengan jarak kelahiran yang singkat, atau dua tahun atau lebih dari 10 tahun dari kelahiran anak pertama.
  • Kondisi medis tertentu seperti migrain, diabetes tipe 1 atau tipe 2, penyakit ginjal, lupus, dan gumpalan darah.
  • Bayi dari hasil Fertilisasi in vitro atau bayi tabung.

Wanita hamil dengan kondisi-kondisi tersebut memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami keracunan kehamilan.

Penyebab Keracunan Kehamilan

Peneliti meyakini bahwa penyebab preeklampsia melibatkan berbagai macam faktor risiko dan juga kondisi plasenta dari ibu hamil tersebut. Plasenta adalah organ yang menjadi saluran makan dan darah ke janin.

Apabila kondisi plasenta tidak sehat, maka organ ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya hingga mengganggu kondisi janin karena perkembangan abnormal yang meliputi:

  • Aliran darah ke uterus tidak mencukupi.
  • Kerusakan pembuluh darah.
  • Masalah dengan sistem kekebalan tubuh.
  • Gen tertentu.

Sementara itu, setiap ibu hamil yang mengalami preeklampsia tidak dapat dipastikan penyebabnya namun meliputi semua faktor dan kondisi gen tertentu.

Diagnosis Keracunan Kehamilan

Anda memiliki preeklampsia setelah mendapatkan diagnosis, meliputi:

  • Tekanan darah tinggi pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih.
  • Urine Anda mengandung terlalu banyak protein.
  • Trombosit dalam darah sedikit.
  • Cairan di paru-paru.
  • Sakit kepala parah yang tidak dapat diobati.
  • Bahan kimia dalam level tinggi terkait ginjal dalam darah Anda.
  • Bahan kimia dalam level tinggi terkait hati dalam darah Anda.

Dokter akan memastikan diagnosis tersebut dengan pemeriksaan lain, meliputi:

  • Tes darah untuk memeriksa trombosit Anda untuk mengidentifikasi bahan kimia di ginjal dan hati.
  • Tes urine untuk mengukur kadar protein.
  • Tes ultrasonografi (USG).

Baca Juga: 10 Manfaat Oatmeal untuk Ibu Hamil dan Kandungan Nutrisi

Cara Mengatasi Keracunan Kehamilan

Cara mengatasi keracunan kehamilan yang paling efektif adalah dengan segera melakukan proses persalinan apabila memang usia kehamilan sudah cukup dan kondisinya memungkinkan. Apabila usia kehamilan masih terlalu dini, persalinan bukan jalan terbaik.

Dokter akan memberikan pilihan perawatan terbaik untuk ibu hamil yang mengalami preeklampsia. Berikut ini adalah cara mengatasi keracunan kehamilan yang paling direkomendasikan, yaitu:

1. Obat-Obatan

Perawatan preeklampsia dengan obat-obatan, meliputi:

  • Obat penurun tekanan darah yang aman untuk ibu hamil.
  • Obat kortikosteroid untuk preeklampsia berat. Obat ini akan meningkatkan fungsi hati dan trombosit.
  • Obat antikonvulsan untuk mencegah kejang pada preeklampsia berat.
  • Suntikan steroid untuk membantu perkembangan paru-paru bayi.
  • Suntikan magnesium sulfat untuk mencegah kejang terkait eklampsia.

2. Pemeriksaan Rutin

Apabila Anda memiliki preeklampsia ringan, dokter akan menyarankan Anda untuk beristirahat dan melakukan pemeriksaan secara rutin untuk memantau detak jantung janin, tekanan darah ibu, dan pemeriksaan lainnya terkait kesehatan ibu dan bayi.

3. Persalinan

Persalinan adalah cara terbaik untuk mengatasi kondisi preeklampsia parah bagi bayi yang sudah cukup bulan dan kondisinya memungkinkan untuk segera lahir. Pasca melahirkan, gejala preeklampsia akan hilang dalam 1-6 minggu.

Apakah Keracunan Kehamilan Bisa Melahirkan Secara Normal?

Ibu hamil yang didiagnosa preeklampsia mungkin dapat melahirkan secara normal atau pervaginam apabila kondisinya sehat dan aman untuk ibu dan bayi. Anda mungkin membutuhkan konsultasi serius dengan dokter terkait metode persalinan normal ini.

Umumnya, dokter mungkin memutuskan untuk menginduksi persalinan Anda. Apabila usia kehamilan belum cukup untuk proses persalinan, dokter mungkin akan lebih menyarankan proses persalinan secara sesar.

Baca Juga: 8 Posisi Melahirkan yang Wajib Diketahui Ibu Hamil

Komplikasi Keracunan Kehamilan Selama Persalinan

Apabila kondisi tekanan darah tinggi Anda semakin memburuk, ini dapat menimbulkan komplikasi keracunan kehamilan selama persalinan, meliputi:

  • Pendarahan di otak atau stroke hemoragik.
  • Kejang.
  • Koma.
  • Sindrom HELLP yaitu gangguan hati dan darah dalam komplikasi kehamilan.

Selain itu, preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia yaitu kondisi saat ibu hamil mengalami kejang. Hal ini meningkatkan risiko bayi yang belum lahir mati lemas dan ibu mengalami stroke, kerusakan otak permanen, hingga kematian.

Berdasarkan data dari World Health Organization pada tahun 2005, terdapat sekitar 12% kasus kematian pada ibu hamil terkait tekanan darah tinggi seperti preeklampsia dan eklampsia.

Selain itu, komplikasi preeklampsia juga dialami bayi selama proses persalinan, meliputi:

  • Gangguan aliran darah dan oksigen di saluran plasenta.
  • Kondisi solusio plasenta yaitu plasenta terlepas dari uterus terlalu cepat.
  • Masalah pernapasan akibat paru-paru tidak berkembang dengan baik.
  • Kondisi terkait prematuritas.
  • Risiko kematian.

Apabila tidak ditangani dengan tepat dan cepat, kondisi preeklampsia dapat menyebabkan komplikasi yang berakibat fatal.

Cara Mencegah Keracunan Kehamilan

Selalu konsultasikan pada dokter semua kondisi Anda selama kehamilan, terutama apabila Anda memiliki faktor risiko keracunan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan secara berkala dapat membantu untuk mencegah kemungkinan terburuk dari berbagai komplikasi kehamilan yang mungkin terjadi.

Berikut ini adalah cara mencegah keracunan kehamilan, yaitu:

  • Mengontrol berat badan karena obesitas memperbesar risiko preeklampsia.
  • Olahraga secara teratur.
  • Tidak ada makanan pencegah keracunan kehamilan, namun penting untuk memerhatikan asupan gizi dan pola makan selama kehamilan.
  • Kontrol tekanan darah dan gula darah Anda.
  • Melakukan kontrol kehamilan secara teratur sesuai dengan jadwal.
  • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

Dokter akan menjelaskan pada Anda semua hal yang harus Anda perhatikan demi kesehatan Anda dan bayi saat lahir nanti. Dokter mungkin juga menganjurkan Anda untuk mengonsumsi vitamin atau suplemen tambahan.

Itulah pembahasan lengkap tentang keracunan kehamilan atau preeklampsia. Semoga informasi ini dapat bermanfaat dan meningkatkan pengetahuan Anda seputar informasi kehamilan.

 

  1. Cafasso, Jacquelyn. 2012. Management of Preeclampsia During Delivery. https://www.healthline.com/health/pregnancy/hypertension-induction-delivery-preeclampsia. (Diakses pada 10 Januari 2020).
  2. MayoClinic. 2018. Preeclampsia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/preeclampsia/symptoms-causes/syc-20355745. (Diakses pada 10 Januari 2020).
  3. WebMD. 2019. Preeclampsia. 2019. https://www.webmd.com/baby/preeclampsia-eclampsia#1. (Diakses pada 10 Januari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi